Opini,  Tema Bebas,  WCR

WASPADA, KHALWAT GAYA BARU

Tak hanya penjajahan yang menggunakan gaya baru, khalwat gaya baru juga tengah menghantam kaum muslim. Media sosial adalah laman yang paling sering diakses terlebih ketika pandemi. Media yang menghubungan banyak orang dari berbagai wilayah, baik laki-laki maupun perempuan. Media sosial ibarat dunia lain selain dunia nyata (dunia maya) Tawaran aplikasi dengan beragam fitur berupa chatt atau video call mendukung aktivitas ini meski dibatasi jarak, ruang, dan waktu.

Waspada dengan tangan-tangan jahil, setelah pertemanan diterima bergeser ke kolom messenger, dimulai dengan sapaan kemudian modus, jika berbalas lanjut ke percakapan lebih jauh berujung pada pembahasan pribadi. Bisa juga dengan seseorang yang telah dikenal, meski tak duduk berdua, telfonan, chatt tanpa kepentingan syar’i sama saja dengan khalwat. Waspada! ini khalwat gaya baru. Tak ada bedanya berbicara dengan lawan jenis yang bukan mahram di dunia nyata atau di dunia maya, sama-sama berbicara di ranah pribadi, sepi dari orang lain meski dibatasi ruang dan waktu.

Percakapan tanpa kepentingan syari, jika terjadi secara intens akan mengikat secara emosional. Keadaan ini membuat seseorang terjebak dalam lingkaran yang dikelilingi setan, terjebak dalam hubungan friendzone, ngerasa nyaman. Apalagi jika sudah dilabeli dengan saling mengingatkan dalam kebaikan (modus)

Bukan berarti tidak boleh ada percakapan antara laki-laki dan perempuan, asalkan membicaran hal penting sesuai syara, tanpa mengundang syahwat yang mendekati kemaksiatan. Islam memandang khalwat adalah sebuah kemaksitan, sebagai mana laragan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

“Janganlah seorang pria berkhalwat dengan seorang wanita (tanpa disertai mahram-nya) karena sesungguhnya yang ketiga adalah setan.” (HR. Ahmad)

“Seorang laki-laki tidak boleh ber-khalwat dengan seorang wanita kecuali disertai mahramnya.” (HR. Muslim)

Jikapun harus bertemu hendaknya seorang wanita ditemani mahramnya. Dari Ibnu Abbas, bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Janganlah seseorang laki-laki berkhalwat dengan seorang wanita kacuali jika bersama dengan mahrom sang wanita tersebut.’ Lalu berdirilah seseorang dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, istriku keluar untuk berhaji, dan aku telah mendaftarkan diriku untuk berjihad pada perang ini dan itu,’ maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Kembalilah!, dan berhajilah bersama istrimu.’” (HR. Al-Bukhari no. 5233 dan Muslim 2/975)

Islam sangat menjaga pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Tak hanya secara pribadi, pengawasan ini juga terwujud dalam bingkai negara. Negara juga akan mendidik rakyatnya untuk taat kepada Allah dengan penerapan hukum syara yang kaffah. Negara tentu akan memfilter semua teknologi yang akan digunakan rakyatnya dan akan menyingkirkan aplikasi-aplikasi chatt yang tak penting. Berbeda dengan hari ini, begitu banyak aplikasi yang sengaja memfasilitasi agar laki-laki dan perempuan dipertemukan dalam dunia maya hingga berlanjut pada pembicaraan yang lebih intens. [Wallahua’lam bis showab]

Oleh: Fira Faradillah

0Shares

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: