Opini

TIP SEMANGAT DARING MESKI TERASA KERING

Pandemi kapan berlalu, badai aja pasti berlalu kok yang ini tidak kelihatan ujungnya? September tak ceria lagi. Sudah hampir 6,5 bulan anak-anak menjalani sekolah online, selama itu pula anak-anak yang belum mengerti apa itu covid-19 bertanya-tanya kapan masuk sekolah? Kangen bu guru, kangen teman-teman, kangen kelasnya, kangen bermain bola, capek duduk terus di rumah sambil memandang layar HP, bosen.

Sistem belajar pembelajaran di Indonesia sejak dulu kerap menuai masalah, kurikulum yang tidak baku, mudah berganti sesuai kepentingan pasar, cara belajar yang lebih menonjolkan teoritis dibanding praktis sehingga tidak mampu menghasilkan anak didik yang sesuai dengan tujuan dasar pendidikan yaitu menciptakan generasi beriman dan bertaqwa (berkepribadian Islam) yang sanggup menjadi pilar peradaban.

Tentu untuk mengurai persoalan tersebut diatas, maka harus dilakukan secara sistematik. Menggantungkan penyelesaiannya dengan  sistem kapitalis bagaikan menegakkan benang basah.

Kendati sekarang muncul berbagai strategi dan metode pendidikan yang “out of the box” berbeda dengan kelaziman kurikulum yang disusun pemerintah tapi pada akhirnya komunitas-komunitas pengelola pendidikan tersebut tetap akan berhadapan dengan sistem pendidikan nasional yang telah dipatok oleh pemerintah.

Jadi, bagaimana mensiasati nya? Selain harus berupaya untuk menderaskan opini pada masyarakat tentang keunggulan pendidikan komprehensif yang berlatar belakang wahyu Allah SWT. Plus cara mewujudkannya dalam sistem khilafah yang mampu mewujudkan sistem pendidikan umum tersebut.

Ada beberapa kiat-kiat praktis yang bisa diaplikasikan secara personal pada saat ini. Utamanya jelas kembali pada prinsip ihsanul amal yakni sebaik-baiknya amal itu apabila terpenuhi dua hal;

/Pertama/ adalah niat karena Allah SWT.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5)

Menuntut ilmu wajib dan mubah harus diniatkan karena Allah dan harus diniatkan sebagai sarana untuk menambah ketaatan pada Allah Swt. Semoga dengan niat ikhlas seperti ini semua rasa malas dan kendala yang muncul akibat kesulitan belajar mampu diminimalisir 

/Kedua/, adalah cara yang benar.

Artinya ilmu yang dipelajari tidak boleh yang dilarang Islam seperti belajar pemikiran kapitalisme dan marxisme untuk menerapkannya bukan untuk mencari kelemahannya dan kemudian untuk disampaikan kepada umat seperti apa bahayanya.

Demikian pula tata cara belajar ajarnya tidak boleh bertentangan dengan syariat seperti berkhalwat misalnya, tentu motivasi semangat dan gairah belajar tidak bisa selalu stabil. Karena setiap orang memiliki masalah yang berbeda kadarnya satu sama lain. 

Namun yang terpenting adalah menjaga pikiran dan perasaan untuk selalu terikat pada aturan Allah Swt. pasti hal ini akan menjadi energi terbesar bagi para pembelajar, guru dan orang tua.

Oleh: Nabila Zidane (Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: