Opini

TINDAK TEGAS PENGUSAHA HIBURAN MALAM, YAKIN BISA?

Tempat hiburan malam di Surabaya belum boleh buka hingga dua pekan ke depan atau dimasa transisi new normal. Nekat buka akan ditindak tegas. Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya meminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata serta Satpol PP Surabaya untuk melakukan pengawasan. Agar tidak ada Rekreasi Hiburan Umum (RHU) yang buka sebelum diperbolehkan.

“Hari ini kita menyurati Kepala Dinas Pariwisata agar khusus RHU jangan buka dulu. Dan kami juga membuat surat kepada Pak Kasatpol PP untuk melakukan pengawasan agar untuk kegiatan RHU jangan dulu,” kata Wakil Sekretaris Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Surabaya, Irvan Widyanto kepada wartawan saat ditemui di kantornya (news.detik.com, (12/6/2020).

Tindakan yang sangat tepat dilakukan oleh Tim Gugus Covid-19 Surabaya dengan meminta bantuan para Satpol PP juga Dinas Kebudayaan dan Pariwisata untuk bekerjasama mengawasi tempat yang menjadi objek hiburan masyarakat. Ini dilakukan agar bisa menghindari pusat keramaian di tengah zona hitam area Surabaya. Seperti kita ketahui bahwa pusat keramaian adalah salah satu jalan termudah penyebaran covid-19. Untuk itu pemerintah dan aparat keamanan juga satpol PP harus saling berkerjasama melindungi masyarakat. New normal life yang digadang pemerintah tidak sesuai dengan kenyataan yang ada, sehingga para pengusaha juga melihat ini sebagai suatu kesempatan membangun usahanya kembali, untuk itu bagi yang membandel akan ditindak tegas berupa pencabutan tempat usahanya oleh pemerintah dan satpol PP.

Tim Gugus juga harusnya bertindak tegas kepada para pengusaha seperti mall dan lainnya diseluruh daerah. Jadi bukan hanya tempat hiburan malam tapi juga para pengusaha mall dll. Untuk bisa memastikan tidak ada keramaian selama masa transisi new normal life, yang bisa memudahkan terjangkitnya covid-19 pada gelombang kedua seperti yang diprediksikan bisa dihindari. Kemudian mengedukasi masyarakat bahwa new normal bukan berarti sudah aman dan bebas dari wabah ini, jangan sampai salah persepsi. Sehingga merasa aman tanpa peduli lagi dengan protokol kesehatan terutama di daerah-daerah terpencil yang masih begerlut dengan persepsi yang salah.

Dibuka atau ditutup tempat hiburan sebenarnya tidak akan berpengaruh pada masyarakat kelas bawah. Mereka masih bisa kemana saja yang diinginkan dengan harga yang lebih terjangkau seperti mentadaburi alam. Berbeda dengan kelas atas yang merasa stress selama pandemi, orang kelas atas biasa menghabiskan waktu untuk hangout, belanja ke mall dan tempat hiburan malam untuk menghabiskan waktu dengan hal yang tak berguna. Jadi, jika mereka tak bisa melakukan itu akan membuat mereka sangat stress bisa kita lihat bagaimana laku keras aplikasi tiktok dengan segala kegilaannya, bukan kreatifitasnya. Disini para pengusaha berusaha melakukan segala cara agar kemudian usahanya tidak gulung tikar. Meski harus buka tutup sementara sedang masa transisi new normal.

Tempat hiburan malam yang harusnya tidak dibuka dari awal bukan hanya saat wabah seperti ini. Karena salah satu datangnya wabah ini adalah masksiat yang dilakukan manusia, seperti hiburan malam dimana diskotik, bar, panti pijat dan spa adalah ladang yang sering mereka singgahi tuk menebarkan maksiat. Namun pemerintah memberikan izin usaha bagi mereka karena mendapatkan pajak, dan ini kerap kali menjadi ladang bisnis yang menguntungkan pemerintah hingga enggan untuk menutupnya, meski meski merusak generasi. Inilah wajah buruk kapitalis yang selalu mencari kesempatan dalam kesempitan dan menambah penderitaan orang banyak, tapi penguasa menutup matanya. Selama ada manfaat, selama itu pula kapitalis akan terus menjajah, hingga semua yang kita miliki dirampas secara paksa namun tampak elegan dengan investasi dan segala macamnya.

Pemerintah harusnya melindungi masyarakat yang merupakan bagian dari kewajiban negara dan hak mereka harus dipenuhi. Mengingatkan wabah ini adalah sebuah teguran untuk kita. Sudah selayakmya semakin mendekatkan diri pada Allah dan melakukan tobat nasuha. Sembari terus berusaha maksimal menjaga warga negaranya dengan baik. Jika pemimpinnya tegas masyarakat juga tak perlu was-was, wabah tidak akan berlarut-larut, tepat penanganannya dan semua bergerak bersatu dibawah komando yang sama.

Itu semua hanya mungkin didapat jika kita semua mengambil Islam sebagai landasan berfikir. Islam bukan hanya sebuah agama ritual namun sebuah sistem yang komplit dengan aturan yang berasal dari Sang Khaliq. Berpedoman pada Alquran dan sunnahnya kita bisa menyelesaikan semua permasalahan hidup ini dengan begitu mudah dengan penuh keyakinan. Kebijakan tidak akan membingungkan umat, apalagi menyepelekan wabah yang datang sebagai ujian hidup manusia agar terus bertakwa kepada Allah. [Wallahu a’lam]

Oleh : Meutia Teuku Syahnoordin, S.Kom (Aktivis Muslimah Peradaban, Aceh)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: