NulisPedia,  Opini,  Tema Bebas,  WCR

THE RISING GENERATION

Tiap kali kuhadapi masalah-masalah besar, yang kupanggil adalah anak muda, begitu kira-kira Amirul Mukminin Umar Bin Khattab. ra berkata. Jelas generasi muda bukan generasi sembarangan, aset luarbiasa yang tak akan ternilai harganya.

Tak jarang juga para tokoh membakar semangat pemuda dengan berucap. “Beri aku seribu orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku sepuluh pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia” (Ir. Soekarno) Kata yang cukup meningkatkan percaya diri pemuda bahwa Ia berharga.

Pemuda memiliki peran yang sangat strategis untuk peradaban. Energi lebih sebagai sosok tangguh yang kritis, kreatif, dinamis, dan peka dengan keadaan. Mahasiswa yang merupakan bagian dari pemuda adalah kekuatan intelektual untuk menyongsong perubahan. Perannya yang cukup strategis memberikan ruang gerak luas untuk  melakukan perbaikan.

Pemuda!

Jangan biarkan dirimu jatuh terpuruk dalam kubangan arus hedonisme, pergaulan yang salah hingga berdampak pada krisis identitas sebagai pemuda muslim. Bumbui gerakan yang murni berlandaskan kepedulian dengan kekuatan Islam.

Pemuda!

Perkayalah pemikiran dengan tsaqofah Islam, agar tsaqofah itu menggerakanmu untuk mengembalikan kehidupan Islam dengan pemikiran yang cemerlang.

“ … Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.” (TQS. Az-Zumar:9).

Pemuda muslim, dialah seseorang yang menyibukan diri dalam ketaatan. Karena “jika seseorang tidak disibukan dalam kebenaran maka ia akan disibukan oleh kebatilan” kata-kata bijak yang mungkin tidak asing lagi bagi kita.

Islam memberikan perhatian besar terhadap generasi muda (pemuda), karena kelak merekalah yang akan menjadi penerus peradaban ini. Suguhlah dalam sistem pendidikan Islam hal ini akan  menjadi perhatian lebih. Tidak hanya  sekedar menguasai knowledge yang begitu luar biasa, seorang pemuda muslim juga begitu dekat dengan penciptaNya. Hingga wajar sistem Islam melahirkan pemuda yang berkualitas dari segi keimanan dan pengetahuan. Sebut saja Muhammad bin Idris as-Syafii, Iyash bin Mu’awiyah, belum genap berusia 15 tahun telah mampu memberi fatwa dan masih banyak lagi intelektual dan ulama yang lahir dari rahim sistem pendidikan Islam.

Semua itu tak akan bisa tercipta dengan sendirinya, harus ada peran semuanya pihak untuk dapat mewujudkanya. Mulai dari lingkungan yang kondusif hingga negara sebagai penggerak seluruh regulasi yang ada. Namun apa yang dapat kita lakukan sekarang, dimana sistem yang diterapkan bukanlah Islam:

Pertama, tanamkan dalam hati bahwa Islam adalah agama sempurna yang mengatur kehidupan secara kaffah.

Kedua, teruslah belajar Islam ideologi, tak hanya ilmu dunia tetapi juga ilmu tentang Allah, agar senantiasa terikat dengan hukum syara dalam setiap aktivitas.

Ketiga, memiliki ketendensiusan terhadap Islam.

Keempat, jadikan dakwah sebagai poros kehidupan dengan melakukan aktivitas dakwah sebagai wujud kepedulian terhadap umat.

Kelima, temukan why dalam hidupmu.

Kembalinya sistem Islam dalam menaungi kehidupan adalah bisyarah Rasulullah. Janji Allah kepada orang-orang yang bertaqwa. Persiapkan diri dengan tsaqofah Islam dan sambut kemenangan Islam, Allahuakbar.

0Shares

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: