Opini,  Seputar Islam,  Tema Bebas,  WCR

THE REAL LOCKDOWN

Sejak diberlakukanya PSBB di Indonesia, masyarakat menghabiskan banyak waktu di rumah. Tak jarang juga berkeluh kesah, merasa bosan bahkan sangat merindukan aktivitas sebelum terjadi pandemi. Rindu berjumpa dengan rekan kerja, sahabat sekolah, nongkrong di café, nonton bioskop, rindu mengejar diskon sale saat shopping dan kerinduan-kerinduan lainya. Ada yang rindu kajian, bertemu sahabat taat, berjumpa dengan sahabat hijrah dan kerinduan lainya. Hingga selama di rumah saja ada yang mengisi waktu dengan berbagai kegiatan positif dan tak luput juga beberapa yang melakukan aktivitas hanya untuk sekedar  menghilangkan kebosan.

Tidakkah kita pernah berfikir bahwa di rumah aja mengajarkan kita banyak hal. Tidakkah kita menyadari selama di rumah saja kita tak butuh banyak pasang baju, khimar, jilbab, sepatu, tas dan lainya. Yang kita butuhkan hanya beberapa pasang baju rumah, beberapa daster. Tidakah kita menyadari, tak hanya amalan yang akan dihisab tapi seluruh barang-barang yang kita miliki juga akan Allah mintai pertanggungjawaban. Islam memang tak melarang kita membelanjakan harta asalkan membawa pada kebaikan. Namun jika sudah membeli barang-barang sampai pada tingkat mengoleksinya bukankah itu adalah tindakan yang sia-sia.

“tidak akan bergeser dua telapak kaki seseorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya kemana dihabiskanya, tentang ilmunya bagaimana di amengamalkanya, tentang harta, dari mana iamemperoleh dan ke mana ia belanjakan, serta tubunya untuk apa ia gunakan.” ( HR. Tirmidzi)

Bermuhasabah dirilah bahwa saat ini tak ada yang lebih penting dari bagaimana kita menghadapi lockdown yang sesungguhnya. Ketika Allah panggil jiwa-jiwa ini, ketika Allah putus segala kenikmatan ini, ketika Allah sudahi perjuangan kita di dunia ini. Kita hanya akan benar-benar terkunci dalam ruang sempit lagi kelam, tak ada cahaya yang menerangi selain amalan yang telah disemai selama kehidupan. Tak ada celah untuk bisa keluar dari ruang itu, tak ada kesempatan lagi untuk memperbaiki segala kesalahan yang telah dilakukan. Hanya pasrah menanti hari pengadilan akhir itu tiba. Wallahua’lam bis showab.

Oleh: Fira Faradillah

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: