Hikmah

THE POWER OF HIDAYAH

Telah banyak saya dengar berbagai kisah inspiratif bagaimana seseorang bias mendapatkan hidayah/petunjuk. Di zaman Rasulullah saw juga terkenal kisah sepuluh sahabat yang mendapat hidayah dan dijamin masuk surga. Merekalah yang membersamai Rasulullah saw di awal dakwahnya di Makkah. Mereka dikenal assaabiquunalawwaluun, yang terdiri dari Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, ‘Utsman bin Affan, ‘Ali bin Abi Thalib, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah, Sa’ad bin Abi Waqqash, dan Said bin Zaid radhiyallaahu ‘anhum.

Teringat masa awal-awal mengikuti kajian Islam, ada beberapa kalimat motivasi bagi saya yang membuat hati tergerak untuk beranjak lebih baik, semoga orang yang menyampaikannya mendapatkan pahala jariyah. Di antaranya: ‘Allah Menyukai orang-orang yang serius dalam hidupnya, maka jadilah orang yang serius…’ ‘Hidayah itu dijemput, perumpamaannya adalah seperti landasan yang diciptakan untuk mendaratnya pesawat’, dan kalimat lainnya yang begitu menyentuh hati dan pikiran. Mungkin itulah yang dinamakan hidayah. Ketika diri pasrah untuk terikat dan diatur oleh-Nya, tanpa menunda-nunda dan berpikir panjang.

Jika hidayah dating hanya ketika dijemput, maka wajarlah begitu banyak orang belum mendapatkan hidayah karena dirinya menganggap hidayah itu akan datang dengan sendirinya. Dijadikanlah hal itu alasan baginya bebas melakukan apapun dimanapun dan kapanpun. Bahkan ada yang beranggapan lebih baik tidak tau dari pada tau tentang aturan Allah swt agar tidak ada tuntutan untuk terikat dengannya dan bias bebas melakukan apapun. Na’udzubillaah.

Sesungguhnya hidayah itu akan datang pada diri seseorang ketika Allah Berkehendak Memberikannya. “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang member petunjuk (member taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 272)

“Orang-orang yang bersungguh-sungguh (berjuang) di jalan Kami, sungguhakan Kami berikan petunjuk (hidayah) kepada mereka untuk istiqamah di jalan Kami.” (QS. Al-Ankabut: 69)

Menjemput hidayah merupakan proses panjang yang membutuhkan keseriusan. Proses ini tentunya dimulai dengan merenungkan tujuan penciptaan manusia, kehidupan dan alam semesta yang merupakan makhluk serta mengkaitkan hubungan ketiganya dengan Sang Pencipta (Al-Khaliq). Melalui perenungan inilah maka kita akan menemukan jawaban bahwa hakikat penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (TQS. Adz-Dzariyat:56)

Dengan memahami ayat di atas maka kita akan senantiasa mengikatkan diri pada Sang Pencipta. Karena makna kata mengabdi adalah tunduk patuh, memenuhi seluruh perintah-Nya dan meninggalkan seluruh larangan-Nya.

“Hanya ucapan orang-orang beriman, yaitu ketika mereka diajak menaati Allah dan Rasul-Nya agar Rasul-Nya tersebut memutuskan hokum diantara kalian, maka mereka berkata: sami’nawaatho’na (Kami telahmendengarhukumtersebut dan kami akantaati). Merekalah orang-orang yang beruntung” (TQS. An Nuur: 51)

Bagi para penjemput hidayah, jalan berliku adalah sebuah keniscayaan. Tak banyak orang memilihnya, tapi tak sedikit yang berhasil melewatinya. Mereka harus bergabung bersama para penjemput hidayah lainnya dalam majlis-majlis Ilmu agar bias saling menguatkan. Sungguh beruntunglah orang-orang yang memilih jalan menjemput hidayah, dikala yang lain tersesat di hutan kapitalisme sekuler dengan slogan ‘cinta dunia takut mati’. Sungguh Maha Benar Allah dengan Firman-Nya:

“Demi masa; Sesungguhnyamanusiaitubenar-benarberadadalamkerugian; Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakanamalshaleh dan salingmenasihatisupayamenaatikebenaran dan salingmenasihatisupayamenetapikesabaran.” (TQS. Al ‘Ashr: 1-3)

Oleh: Lely Herawati (Praktisi Pendidikan)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: