Seputar Islam

SURGA DI TELAPAK KAKI IBU, TAPI IBU BELUM TENTU MASUK SURGA?

Setelah selesai melakukan shalat Kusuf (shalat Gerhana), Nabi shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda menceritakan surga dan neraka yang diperlihatkan kepada beliau ketika shalat.

“Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.” Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Disebabkan kekufuran mereka.” Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?” Beliau menjawab, “(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hadis ini popular sekali di kalangan kaum Hawa yang merindu surga. Harap-harap cemaslah para istri dibuatnya. Tak salahlah seorang ustadz pernah membuat buku best seller ‘Bukan Pernikahan Cinderella’ untuk membuka mata para akhwat yang sudah ready dipinang sang ikhwan, karena kehidupan rumah tangga mungkin tak akan seindah bayangan mereka sebelumnya.

Kehidupan rumah tangga memang unik. Tak sedikit pasangan gagal menjalaninya, tapi yang berhasil jauh lebih banyak lagi. Sudah banyak juga tulisan bahkan buku yang membahas tentang tema menarik ini tapi tetap saja seninya akan berbeda untuk setiap pasangan.

Implementasi hadis di bagian awal tulisan ini, terkhusus pada kalimat “mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami)”. Ngeri-ngeri sedap bacanya. Dugaan saya banyak wanita (termasuk saya) yang menganggap dirinya tidak mungkin melakukan hal seekstrim itu kepada suaminya. Makanya tak bosan baca hadis di atas sebagai self reminder.

Percayalah bahwa amal harus dibarengi dengan ilmu. Jika tidak maka akan kacau jadinya. Bayangkan jika seorang muslim shalat wajib sampai 7 waktu atau hanya 3 waktu, rakaat dan gerakannya pun ia lakukan sesuka hati yang penting bisa sehat. Itu shalat atau olahraga? Bayangkan pula jika seorang muslim membaca Alquran dengan bacaan sesuka hati yang penting bisa tenang. Tenangnya datang dari Allah atau dari setan?

Demikian pula dengan kehidupan rumahtangga. Kehidupan yang dijalani pasangan suami istri tidak hanya satu atau dua hari, akan tetapi berhari-hari hingga Allah berkehendak mengakhiri. Kadang sederhana, tapi lebih banyak rumitnya. Sayang benci, susah senang dating silih berganti. Kurvanya fluktuatif dipengaruhi banyak faktor. Bayangkan jika dijalani tanpa ilmu. Bisa-bisa ambyar di tengah jalan.

Ikatan pernikahan merupakan ikatan yang suci dan kuat di sisi Allah, hal ini diabadikan dalam ayat Alquran surat An-Nisa: 21, di mana Allah menyatakan ikatan pernikahan sebagai ‘miitsaaqanghaliizhaa’ (perjanjian agung). Pasangan yang akan menikah haruslah membekali dirinya dengan ilmu agar bias menjaga perjanjian agung ini. Jika tidak, maka muncullah berbagai kasus penyimpangan, mulai dari KDRT, perselingkuhan, perceraian, hingga aborsi dan pembunuhan. Na’udzubillaah.

Berbekal ilmu maka relasi suami istri di dalam rumah laksana nahkoda dengan juru mudi yang siap mengarungi bahtera nan luas menuju tanah harapan. Mereka saling memenuhi hak dengan santun tanpa melupakan kewajiban masing-masing. Dengan berbekal ilmu maka keduanya tidak akan mudah menyerah menghadapi badai yang silih ganti menerpa. Relasi kerjasama yang indah secara teori akan tetapi rumit prakteknya.

Bekal ilmu yang akan menjadikan istri senantiasa bersyukur dengan nikmat yang ia peroleh melalui suaminya, begitupun sebaliknya. Nikmat berupa nafkah lahir maupun bathin. Bukan nominal atau angka yang ia lihat, akan tetapi kesungguhan sang suami berikhtiar memuliakan istrinya.

Yakinlah, bahtera rumahtangga tak akan semulus yang dibayangkan. Banyak riak, gelombang bahkan badai menantinya. Apalagi di alam sekuler seperti sekarang, berpegang teguh pada ilmu bagaikan memegang bara api. Banyak godaannya. Setanpun senang menggoda para wanita untuk kufur kepada suaminya.

Sepertinya tidak ada jalan lain bagi kita sebagai wanita selain harus banyak memohon ampun kepada Allah swt, mengevaluasi diri, dan memohon pertolongan agar menjadi wanita yang dirindu surga.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullahshallallahu ‘alaihiwasallambersabda, “Jika seorang wanita melaksanakan sholat lima waktunya, melaksanakan shaum pada bulannya, menjaga kemaluannya, dan mentaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja ia kehendaki.” (HR Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

Oleh: Lely Herawati (Praktisi Pendidikan)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: