Problematika Umat,  Seputar Islam

SUDUT PANDANG ISLAM TENTANG PEMBUKTIAN KASUS PEMBUNUHAN

Dilansir dari TribunSumsel. com(18/07/2020), bahwa sudah sepekan Kasus pembunuhan editor Metro TV Yodi Prabowo belum menemukan titik terang. Yodi Prabowo ditemukan tewas di pinggir Tol JORR Pesanggrahan, Jalan Ulujami Raya, Pesanggrahan, Jakarta. Pihak Kepolisianpun telah melakukan pemeriksaan terhadap 29 saksi, namun belum membuahkan hasil juga.

/Kegagalan Negara Demokrasi Melindungi Nyawa Manusia/

Sejatinya, negeri ini telah menganut prinsip-prinsip demokrasi yang mengagungkan kebebasan bertingkah laku. Bahkan para pelaku kejahatan seperti pembunuhpun jika terbukti membunuh maka hukumannya cukup di penjara.

Mekanisme pembuktian pun terkesan berbelit-belit dan memakan waktu yang lama sekedar untuk mencari bukti pembunuhan. Bahkan bukti asli bisa dihilangkan jika ada sejumlah uang yang ditawarkan untuk mengeluarkan penjahat dari jeruji besinya. Ini semakin memperjelas bahwa negara telah gagal dalam menindaklanjuti kasus pembunuhan.

Mau sampai kapan rakyat di negeri ini mempertahankan konsep negara demokrasi ini yang terbukti hanya bisa menghasilkan angka kejahatan yang semakin meningkat? Tentu Rakyat manapun pasti menginginkan sebuah negara yang mampu melindungi nyawa manusia agar bisa meraih ketenangan hidup.

/Rakyat Butuh Khilafah Sebagai Pelindung Nyawa Manusia/

Islam adalah agama yang sempurna. Islam punya solusi dalam menyelesaikan berbagai kasus pembunuhan dengan cepat dan tepat. Penerapan sistem sanksi islam lah yang akan mampu menyelesaikan berbagai kasus pembunuhan tanpa memakan waktu yang berlarut-larut.

Pemberlakuan sistem sanksi Islam butuh peran negara yang benar-benar bisa melindungi nyawa manusia yaitu Negara Khilafah, yang bisa menjamin itu semua. Khilafah akan menerapkan prinsip pembuktian dan pengakuan dalam menyelesaikan kasus pembunuhan.

Untuk pembuktian, harus ditetapkan berdasarkan kesaksian 2 orang. Jika ada dua orang saksi, maka terbuktilah pembunuhan tersebut. Jika tidak ada dua orang saksi maka tidak terbukti.

Kesaksian dua orang yang dimaksud adalah  dua orang saksi laki-laki, atau seorang laki-laki dan dua orang perempuan, atau 4 orang perempuan. Hal ini didasarkan pada firman Allah Subhana wata’ala :

“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (diantaramu). Jika tidak ada dua orang lelaki, maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan.” (TQS.Al Baqarah: 282)

Bahkan dipertegas oleh hadits yang diriwiyatkan dari Abdullah bin umar dari Rasulullah saw. yang bersabda tentang kesaksian :

“Kesaksian dua orang wanita setara dengan kesaksian seorang laki-laki”. Inilah bentuk kesaksian yang sempurna dalam islam.”

Kesaksian yang sempurna dapat menjatuhkan hukuman qishash bagi si pembunuh. Hal ini berdasarkan ketetapan Allah Subhana wata’ala :

“Telah diwajibkan kepada kalian qishash dalam pembunuhan” (TQS.Al Baqarah: 178)

Negara Khilafah yang akan menjatuhkan sanksi qishash ini terhadap si pembunuh yang sudah terbukti secara kesaksian yang sempurna. Qishash merupakan hukuman yang setimpal, si pembunuh akan dihukum bunuh serupa dengan perbuatannya. Namun, bila kesaksian tidak sempurna, maka negara Khilafah akan membayarkan diyat dengan memberikan 100 ekor unta sebagai shadaqoh kepada mereka (pihak penuduh).

Adapun apabila terbuktinya pembunuhan dengan pengakuan maka negara Khilafah akan langsung melakukan qishash terhadap orang yang mengakui perbuatannya tersebut. Hal ini di dasarkan pada hadits yang diriwiyatkan oleh Imam Bukhori dari Anas bin Malik :

“Seorang Yahudi telah menjepit kepala budak perempuannya dengan dua buah batu. Kemudian ditanyakan kepada penduduk daerah tersebut, siapa yang melakukan hal itu ? Mereka menjawab, ” Si Fulan atau fulan, hingga mereka menyebut nama seorang Yahudi”. Rasulullah saw. bertanya, “Apakah engkau telah menjepit kepalanya? ” Yahudi itu akhirnya mengakui perbuatannya. Kemudian Rasulullah SAW memerintahkan untuk menjepit kepala Yahudi itu dengan dua buah batu.”

Demikianlah gambaran syariat Islam dalam menerapkan hukum pembuktian kasus pembunuhan secara cepat tanpa berlarut-larut. Hal ini tidak akan terwujud jika tidak karena landasan keimanan dan ketaqwaan kepada seluruh hukum-hukum Allah Subhana wata’ala yang termaktub di dalam Alquran, Al Hadis, Ijma’ Shahabat dan Qiyas. [Wallahu a’lam biash-shawab]

Oleh : Erni Sumarni, SP

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: