Nafsiyah

SUDAHKAH AMAL KITA DITERIMA?

Pernah tidak terfikir dalam benak kita, sudahkah amal kita diterima Allah SWT? Pertanyaan sederhana namun memilliki pengaruh besar terhadap seluruh aktivitas kita. Pertanyaan yang akan menentukan berbuah pahalakah atau dosakah aktivitas yang telah kita lakukan.

Allah SWT telah menunjukkan kita petunjuk atau ketentuan agar amal kita diterima oleh Allah SWT. Dua syarat yang harus kita penuhi agar amal diterima adalah ikhlas dan benar. Ikhlas merupakan sebuah keadaan dimana aktivitas yang kita lakukan semata karena Allah SWT. Tidak ada sedikitpun ruang untuk makhluk lain. Memurnikan aktivitas semata karena Allah. Sebagaimana firman Allah berikut,

“Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar menyembah Allah dengan mengikhlaskan baginya agama yang lurus.” (TQS. Al-Bayyinah: 5)

Rasulullah SAW bersabda:

“Sesungguhnya amal-amal tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan sesuatu sesuai dengan niatnya…” (HR. Bukhari, Muslim)

Penting bagi kita untuk menjaga agar niat senantiasa karena Allah semata, Imam Sufyanats-Tsauri rahimahullah mengatakan, “Tidaklah aku mengobati sesuatu pun yang lebih berat kurasakan dari pada mengobati niatku. Sebab, niat itu berbolak-balik atasku.” (Diriwayatkan oleh al-Khathib al-Baghdadi dalam al-Jami’ Li Akhlaqar-RawiwaAdab as-Sami’ no. 697)

Selain niat ikhlas karena Allah semata, syarat kedua agar amal diterima Allah adalah caranya benar. Benar bermakna bahwasannya aktivitas yang dilakukan haruslah aktivitas kebenaran, yakni sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Allah berfirman,

Katakanlah (wahai Muhammad), “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (yakni Nabi Muhammad); niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosa kalian.’ Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS. Ali Imran: 31)

Rasulullah SAW juga bersabda,

“Dan barang siapa yang melakukan satu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim dari Aisyah ra)

Begitulah syarat agar amal dapat diterima oleh Allah SWT. Apabila amalan sudah ikhlas namun tidak benar, maka amalanpun tertolak. Contohnya apabila seseorang ikhlas ingin bersedekah namun dengan cara mencuri maka Allah tidak akan menerima amal tersebut. Hal ini dikarenakan syarat amal hanya satu yang terpenuhi yaknii khlas, namun cara yang dilakukan bukanlah cara yang benar menurut syariah Islam yakni dengan mencuri.

Begitu juga bila amalan benar sesuai syariat Allah, namun tidak ada keikhlasan, maka amalan tersebut juga tertolak. Misalkan jika seseorang melaksanakan puasa sunnah namun dengan tujuan ingin mendapatkan pujian, maka amalan tersebut ditolak oleh Allah SWT. Karena salah satu syarat diterimanya amal tidak terpenuhi, yakni tidak ada keikhlasan dalam amalan tersebut.

Penting mengupayakan agar amal kita senantiasa ikhlas dan benar. Kiat-kiat agar amalan kita bisa diterima oleh Allah yaitu dengan senantiasa: (1) merefresh niat, sehingga niat akan terus karena Allah, (2) mengkaji Islam untuk mengetahui hukum-hukum syariah Islam, dan (3) berkumpul dengan orang-orang sholeh sehingga saling mengingatkan dan menguatkan dalam menjaga kualitas amal. [Wallahua’lambishowab]

Oleh: Atikah Mauluddiyah, S.Pd. Aktivis Mahasiswi Malang

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: