Opini

SERTIFIKAT DAI DAN STRATEGI SNOUCK HURGRONJE

Kendati kini Kemenag berdalih bahwa ini bukanlah sertifikasi dai melainkan hanyalah pelatihan peningkatan kompetensi wawasan kebangsaan. Tetap saja agenda program ini tak lepas dari upaya pemerintah untuk membekuk aktifitas dakwah. Khususnya dakwah amar makruf nahi mungkar yang ditujukan kepada penguasa. Keputusan ini tentu tidak lepas dari narasi-narasi radikalisme, anti NKRI, dan intoleransi yang selalu digaung-gaungkan di berbagai media. Framing yang ditunjukkan sudah jelas, yakni Islam yang bertentang dengan Pancasila.

Program ini kelak akan menimbulkan perpecahan diantara masyarakat. Perbedaan status antara dai tersertifikasi dengan yang tidak tersertifikasi jelas akan menimbulkan sikap saling curiga dan berperasangka buruk. Padahal peran dai yang sesungguhnya adalah sebagai pelaku dakwah amar makruf nahi mungkar. Orang yang menyampaikan Islam di tengah-tengah umat. Dalam Islam, dai atau pendakwah bukanlah sebuah profesi yang dapat mengantarkan pada keberlimpahan materi dan tak patut pula diberi gelar.

Walau program ini sifatnya tidak wajib, namun tidak menutup kemungkinan kelak akan ada sikap diskriminatif terhadap dai-dai yang tidak memiliki sertifikat dari Kemenag. Padahal di dalam Islam, aktivitas dakwah adalah kewajiban bagi setiap kaum muslim. Tak hanya berdakwah kepada individu, umat muslim juga wajib berdakwah kepada penguasa. Terlepas dia seorang dai atau bukan. Program ini memiliki indikasi sebagai program pesanan dari para penguasa yang tak ingin diganggu dengan aktifitas dakwah. Lagi pula, apa urgensi bagi Kemenag untuk memberikan pelatihan wawasan kebangsaan kalau bukan karena kepentingan titipan.

Dari pada membuat program sertifikasi dai, sesungguhnya masih banyak sekali masalah lain yang lebih mendesak untuk segera diselesai oleh Kemenag, yakni masalah perzinahan, pelecehan seksual, angka perceraian yang tinggi, penyimpangan seksual dan masih banyak lagi. Namun Kemenag seolah tutup mata dengan masalah-masalah ini dan sibuk menyuarakan narasi radikalisme yang sangat dibuat-buat itu.

Pola sikap Kemenag yang seolah menghalang-halangi aktifitas dakwah amar makruf nahi mungkar ini memiliki kemiripan pola dengan strategi Christiaan Snouck Hurgronje pada masa penjajahan kolonial Belanda. Snouck adalah seorang sarjana budaya oriental sekaligus penasehat urusan pribumi pada masa itu. Demi mempertahankan Indonesia sebagai wilayah jajahan kolonial Belanda, Snouck membuat strategi untuk menghalangi pergerakan politik Islam.

Snouck memformulasikan dan mengkatagorikan Islam dalam tiga bidang, yakni bidang agama murni, bidang sosial dan kemasyarakatan, serta bidang politik. Bagi Snouck, Islam bidang politik ini yang harus diwaspadai karena dinilai mengancam hegemoni yang telah dibangun oleh pemerintah Belanda. Salah satu cara Snouck memberangus Islam politik secara perlahan adalah dengan membenturkan hukum islam dengan hukum adat dan hukum barat. Dan kondisi umat muslim saat ini bukan lagi dibenturkan dengan hukum adat, melainkan nasionalisme dan modernisasi.
Apakah ini sebuah kebetulan?

Oleh: Ayu Emiliandini

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: