NulisPedia

Semarak Peringatan Maulid Nabi Muhammad

Pada Kamis, 29 Oktober 2020 #KomunitasSahabatCintaNabi mempersembahkan gelaran acara secara online untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, dengan tema “Cinta Nabi: Tegakkan Syari’ah Wujudkan Keadilan Lenyapkan Kedzaliman.” Acara tersebut dimulai pukul 09.00 WIB diikuti oleh ribuan peserta via zoom, juga live streaming yang diikuti hingga 70.000 peserta dari berbagai kalangaan masyarakat.

Acara ini dipandu oleh seorang MC yaitu Mas Dias, seorang moderator yaitu Bapak Moh. Karebet, dan dua orang Narasumber, KH. Rokhmat S. Labib dan Ustadz Ismail Yusanto.

Acara dibuka oleh MC berikutnya ditampilkan video tayangan, lalu dilanjutkan acara pertama yaitu opening speech oleh KH. Rokhmat S. Labib. Dikesempatan kali ini beliau menyampaikan beberapa hal diantaranya sebagai berikut:

Imam Al-Kurtubi “Apabila orang beriman kepada Allah tetapi tidak beriman pada Rasul Muhammad SAW maka tidak berguna imannya, sesungguhnya ia adalah orang kafir.”

Dari sini dapat kita pahami bahwa keimanan pada Nabi Muhammad SAW merupakan hal yang sangat penting. Menjadi syarat kesempurnaan iman seseorang pada rabbnya, Allah SWT.

Selain itu, keimanan juga menuntut kecintaan seseorang, sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

“Tidak beriman salah seorang dari kamu sampai aku (Muhammad) lebih dicintai daripada dirinya sendiri.” (Al Hadist)

Kecintaan lumrahnya membutuhkan pembuktian, adapun bukti bahwa seseorang cinta pada Nabi adalah meneladani, mengikuti sunnahnya meliputi ucapan dan perbuatan.

Berkaitan dengan hal tersebut, Allah SWT berfirman:

“Katakanlah: Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imron: 31)

Dalam firman-Nya tersebut, Allah SWT rabb semesta alam menegaskan bahwa kecintaan pada Nabi adalah dengan mengikutinya. Yang dimaksud mengikuti Nabi adalah mengikuti dalam hal pelaksanaan syari’at Islam tentunya, melaksanakan syaria’at secara menyeluruh dalam kehidupan, baik syari’at yang mengatur kehidupan individu atau keluarga, masyarakat hingga negara.

Khususnya dalam hal syari’at yang mengatur bagaimana bernegara yang sesuai dengan ketentuan Islam telah dicontohkan oleh Nabi dalam sunnahnya dan para sohabat dalam sunnah para khulafaur rasyidin. Sunnah inilah yang harusnya diikuti, menjadikan kedaulatan berada ditangan syara’ saja.

Jadi, cinta Nabi dalam bentuk mengikuti Nabi. Taat tanpa kecuali, tanpa tapi. Bukannya mengikuti hanya dalam hal yang disukai kemudian meninggalkan hal-hal yang tidak disenangi.

Kemudian, apabila syari’at ditegakkan otomatis keadilan akan tertegakkan, kedzaliman akan lenyap dari kehidupan. Keadilan adalah hal yang erat sekali kaitannya dengan hukum. Al adlu yang merupakan bagian dari asmaul husna dalam perspektif Islam bermakna menetapkan ketetapan hukum atas sesuatu sesuai ketetapan syara’. sehingga apabila syari’at dijadikan pertimbangan dalam menetapkan hukum atas segala sesuatu dalam kehidupan, inilah adil. Lawan dari adil adalah dzalim, yaitu menetapkan hukum dengan ketetapan hukum selain dari ketetapan Allah (As syari’).

Maka, dimoment kelahiran Nabi sekaligus Rasul Muhammad SAW ini adalah moment yang tepat untuk muhasabah. Menjadikan moment ini moment yang bermakna, bukan sekedar rutinitas yang diulang setiap tahunnya. Apakah sudah benar keimanan kita? Sudahkah kita mencintai Nabi sekaligus Rasul Muhammad SAW dengan mengikutinya?

Nyatanya yang diterapkan dalam kehidupan sekarang ini adalah hukum buatan manusia, hukum-hukum syari’at dicampakkan sehingga menyebabkan kedzaliman merajalela dan kedilan menjadi sesuatu yang sangat langka. Sebagai bentuk cinta pada Nabi, kondisi tersebut tidak boleh dibiarkan begitu saja harus dirubah dengan memperjuangkan penerapan hukum-hukum syari’at untuk ditegakkan kembali di kehidupan dalam bingkai khilafah.

Ini adalah PR besar kita semua ummat muslim di seluruh dunia. Buktikan kecintaan pada Nabi dengan ikut serta berjuang. Berjuang menerapkan syari’at dalam seluruh kehidupan, wujudkan keimanan yang sempurna bukan sekedar dengan kata-kata namun dengan aksi nyata. Kurang lebih tersebut opening speech yang disampaikan KH. Rokhmat S. Labib.

Berikutnya ada tampilan video tayangan lagi dan dilanjutkan sesi talk show, testimoni para tokoh, dan terakhir acara ditutup dengan do’a oleh KH. Yasin Muthohar dengan khusu’.

Alhamdulillah acara berjalan dengan lancar dan antusias yang luar biasa baik dari para pengisi maupun para peserta. Semoga pada moment Maulid berikutnya, buah perjuangan telah terwujud berupa penerapan syari’at kaffah di kehidupan dalam bingkai khilafah, Aamiin. Selamat berjuang.

Oleh: Ana Puspitasari

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: