NulisPedia

SEMALAM BERSAMA LINA, SEMUA TERLENA

Creator Nulis—Luar biasa antusias peserta untuk mengikuti Zoom Meeting Creator Nulis for Nation (CREANATION). Rabu, 12 Agustus 2020 lebih dari 60 orang hadir menyimak sharing santai bersama Djumriah Lina Johan. Seorang pendidik dan pemerhati ekonomi Islam. Beliau sekaligus penulis aktif jebolan Creator Nulis. Bertemakan “Mudah Analisis Masalah”.

Karyanya bersliweran di berbagai media. Terutama di salah satu media elite nasional Muslimah News Id. Terkenal karena tulisan opini dengan analisis tajam. Pukul 19.30 WIB acara dimulai. Peserta cukup antusias, meski di awal ada sedikit gangguan sinyal dan audio dari mbak Lina. Maklum, even ini tingkat nasional terpisah laut dan pulau.  Sedikit trouble menjadi hal biasa.

“Analisis, satu proses menulis yang jadi momok bagi setiap penulis,” ungkap Lina.

Sharing santai mbak Lina tidak secara khusus memberi materi, tapi langsung membuka tanya jawab.

“Pertanyaan pertama, apa definisi analisa?” ucapnya.

Jawaban  peserta beragam. Kemudian mengerucut bahwa analisis adalah membedah fakta. Ketika kita salah dalam mendefinisikan apa itu analisis maka bisa jadi kita tak pernah bisa melakukan analisis dengan baik.

“Banyak kasus penulis jumping dari fakta kemudian langsung konklusi atau kesimpulan. Ujung-ujungnya sistem, khilafah, syariat dan justru yang muncul adalah salah paham, reaktif dan berbahayanya jika dipublikasi kemudian menjadi opini umum yang salah. Maka dari itu analisis adalah jembatan penghubung antara fakta dan kesimpulan,” jelasnya panjang lebar.

Mbak Lina melanjutkan, “Lagi pula perlu diingat tujuan kita menulis adalah mencerdaskan umat agar taraf berfikirnya meningkat. Sehingga kesadarannya terhadap Islam sebagai agama yang sempurna dan yang ia butuhkan adalah Islam sebagai solusi akan muncul.”

Pesan Lina kepada peserta bahwa seorang penulis tidak boleh hanya mencukupkan diri pada apa yang ada pada dirinya, tidak peduli, tidak belajar lagi, baqonya tinggi bahkan merasa aman ketika karyanya sudah dipublish media regional maupun nasional.

“Maka, sikap yang benar adalah selalu mewaspadai diri dan terus menambah ilmu. Terutama terus mencermati faktor melemahnya analisa,” tandasnya.

Inilah tips kenapa banyak kelemahan analisis, di antaranya:

/Pertama/ Kurangnya maklumat untuk menganalisa. Maklumat itu bisa diperoleh dari kajian, kontak dan media. Maka harus rajin mengelola sumber-sumber maklumat ini agar analisis semakin segar

/Kedua/ Biasanya diikuti kurangnya literasi bacaan. Bacaan tak sekadar buku, namun juga karya tulis yang lain dan media sosial. Minimal satu jam perhari sisihkan waktu untuk membaca.

/Ketiga/ Kurang tatabuk fakta atau tokoh. Bagian yang sangat penting adalah tatabuk atau mengikuti, baik situs pemerintah maupun swasta. Bahkan sangat diwajibkan untuk mengikuti beberapa akun tokoh, entah nasionalis maupun agama. Sehingga kita tahu apa yang sedang trend dan apa yang keluar dari lisan tokoh tersebut.  Sebagai bahan pembanding dan data primer dalam proses analisanya.

“Ciri berita yang layak dianalisis adalah yang publish di beberapa media. Tinggal kita melihat apa dan siapa yang berbicara,” pesan Lina di sela-sela sesi tanya jawab.

Selain itu, bisa dimunculkan  dalam sebuah challenge. Penulis ideologis tentu tak asing dengan TOR (Term of Reference), Lina menyarankan cobalah menebak tema TOR pekan depan dengan terus melakukan tatabuk selama sepekan. Hasilnya sungguh luar biasa, analisis akan semakin tajam.

Pesan lainnya, tak boleh malas membaca dan perlu pelatihan yang terus-menerus. Meskipun kadang muncul rasa tidak PD (percaya diri). Hal itu tidak boleh melemahkan semangat menulis. Sebab, analisis sekali lagi learning by doing. Istilah kerennya Habits.

“Tak ada analisis yang benar 100%. Semua tergantung siapa yang menyampaikan, tapi ada 3 point yang harus dipegang teguh yaitu: fakta, analisis dan solusi yang ketiganya harus benar. Terutama analisis, harus setidaknya mendekati kebenaran. Sebab, ini menyangkut kepada siapa opini ini akan dilempar,” ujar Lina menyampaikan rumus mudahnya.

Pengalaman menarik mbak Lina disampaikan ketika ada pertanyaan: “Berapa lama proses dari perolehan fakta, mengelola fakta, menganalisis, sistem hingga menjadi kesimpulan?”

“Semua bergantung pada jam terbang, sebab analisis adalah proses. Tak bisa muncul begitu saja. Butuh konsistensi menulis. Coba mendengar dari senior atau mentor dan coba untuk ikut kelas politik. Beberapa wasilah ini memang harus ditempuh oleh seorang penulis,” ujarnya menegaskan.

Tak ada rumusan khusus  untuk menganalisis, kecuali harus tahu fakta yang berimbang lebih dahulu.

Terakhir yang disampaikan mbak Lina adalah analisis aktivitas siyasiyah dan ruhiyah.

“Siyasiyah adalah dengan terus menerus mengeliminasi faktor-faktor yang melemahkan proses analisis dan ruhiyahnya adalah perbanyak meminta kepada Allah untuk dimudahkan dalam  menulis analisis. Tak ada keberhasilan kecuali itu diizinkan Allah,” ungkapnya panjang lebar. Alhamdulillah acara berjalan lancar. Peserta pun mendapat kesempatan leluasa bertanya. Banyak insight yang didapat dalam pertemuan semalam bersama Lina. Semua dibikin terlena. Salam Wani Nulis, Creator Nulis! [Ruth/Han]

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: