NulisPedia,  Tema Bebas,  WCR

SEGURAT SENYUM MENEBAR JANJI

Janji itu hutang yang wajib dibayar.

“Penuhilah janji kalian. Sungguh janji itu pasti dimintai pertanggungjawaban.” (TQS. Al-Isra: 34)

Menepati janji, kita bisa belajar dari sahabat (Anas bin an-Nadhr ra). Betapa ia sangat  menyesal ketika tak membersamai Rasulullah saat Perang Badar, lalu ia berjanji: Jika Allah memperlihatkan kepadanya medan pertempuran bersama Rasulullah, niscaya Allah akan melihat pengorbanan yang akan Ia lakukan. Ketika Perang Uhud pasukan kaum Muslim terpukul mundur namun  Ia buktikan janjinya, dengan gagah berani menerobos barisan musuh hingga akhirnya terbunuh.

“Di antara orang-orang Mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu dan mereka tidak merobah (janjinya)”(TQS. Al-Ahzab:23)

Para sahabat dengan penuh keyakinan bahwa janji akan dimintai pertanggungjawaban, karena itu usaha keras dan pengorbanan dilakukan untuk menepatinya.

Fakta yang berbeda  kita dapati saat ini. Lisan-lisan indah membuat jantung berdetak, membuat bahagia membahana. Luka lama seolah kering berbalut manisnya harapan. Tangan melambai senyum merekah membuat yang memandang “kau adalah harapan kami.”

Bukan Mr, bukan senyuman jawabanya. Kami butuh sesuatu yang jelas bukan digantung tak bertali. Engkau paksa untuk berdiri kembali, membuat janji-janji lagi, apakah wajah-wajah penuh harap ini akan terluka kembali? Apa yang telah engkau lakukan? Kegemaran yang selalu berhutang menjadikan tanah ini berada di ujung tanduk.

Pribadimu tak akan ada masalah, tapi kebijakan-kebijakan itu sungguh mencekik hingga membuat tak leluasa untuk bernafas. Kebenaranpun sulit bernafas karena ujaran kebencian bermakna ganda dijadikan sebagai dalih untuk memenggal kebenaran.  Akal sehat dan kritikan telah dibunuh.

Pandemi ini melepas satu per satu anyaman topeng itu hingga perlahan terkuak wajah-wajah bringas kapitalisme. Mulai dari kebijakan yang diambil dalam menangani hingga tanggung jawab yang harus mereka tunaikan untuk rakyat. Ingat! Ini bukan bantuan, tapi melayani rakyat memang tanggung jawab penguasa. Karena penguasa itu adalah Ro’in (pelayan dan pengatur bagi tercukupinya kebutuhan rakyat). Bukan pembantu rakyat yang memberi bantuan penuh pencitraan.

Jika tak mampu menahan kuatnya badai jangan paksa untuk tetap berdiri. Mengurus urusan umat ini berat. Jangan biarkan hukum buatan manusia yang mengaturnya. Biarkan Allah sebagai sumber hukum, kita cukup jalani saja.

“Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ?(TQS. Al Maaidah: 50)

Terlalu banyak kekacauan yang terjadi jika manusia yang memiliki kepentingan ini membuat hukum. Apa susahnya jika sumber hukum itu kembalikan kepada Allah, bukankah bumi ini milik Allah.

Oleh: Fira Faradillah

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: