Opini,  Tema Bebas,  WCR

SEBUAH KEPASTIAN YANG PENUH RAHASIA

Peristiwa yang pasti akan terjadi namun luput dari perhatian sebab terlena nikmat dunia. Padahal kematian datang silih berganti menghampiri siapa saja. Kita tak pernah tau kapan saatnya, tak ada jaminan giliran kita masih lama. Tua, muda, kaya, bertahta, sehat, sakit tak akan luput dari kematian. Ya, itulah ia kematian yang pasti namun penuh rahasia.

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.” (TQS. Qaaf: 19)

Mengingat kematian adalah penghancur nikmat, memutus segala nikmat.  Menyadarkan kita bahwa dunia tak selamanya.

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan”, yaitu kematian”. (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Tirmidzi)

Mengingatnya dalam semua amal tentu akan membuat siapa saja akan bersungguh-sungguh dalam melakukan amal, karena tak ada yang bisa pastikan jika itu bukan amalan terakhir.

“Ingatlah kematian dalam sholatmu karena jika seseorang mengingatmati dalam sholatnya, maka ia akan memperbagus sholatnya. Sholatlah seperti sholat orang yang tidak menyangka bahwa ia masih mekiliki kesempatan meakukan sholat yang lainya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (meralatnya) (kerena tidak bisa memenuhinya).” (HR. Ad Dailami dalam musnad Al Firdaus, Hadis ini hasan sebagaimana kata Syaikh Al Albani)

Ketika seorang muslim memiliki pemikiran menembus langit yang ia sadari adalah hidup di dunia adalah mengumpulkan bekal untuk hidup setelah kehidupan yang sekarang.

Tak guna berjalan di bumi Allah dengan penuh kesombongan, tak layak kita memilah-milah hukum-hukum Allah. Karena kematian bukan akhir segalanya, justru itu adalah awal perjalanan panjang. Perjalanan yang diawali pertanggungjawaban atas semua perbuatan. Amalan-amalan yang akan menjadi sahabat dekat bak lentera terangi dalam memulai perjalanan itu. Tidakah orang-orang zalim pengambil kebijakan sedikit saja mengingat kematian untuk memutus nikmatnya menzalimi?

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia Telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (TQS. Ali Imran: 185)

Jangan biarkan hawa nafsu menutupi akal dan pikiran. Membaca Alquran namun menutup mata hati darinya, menghafal hadis namun luput darinya, seolah dunia dalam genggaman. Karena hakikatnya kita hanya menunggu, menunggu giliran ketika Allah panggil. Semoga Allah istiqomahkan kita berpegang pada agamanya. [Wallahua’lam bis showab]

Oleh: Fira Faradillah

0Shares

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: