Hikmah,  Nafsiyah,  Tema Ditentukan,  WCR

SAAT ESOK BUKAN MILIKKU

“Istigfar untuk masa lalu, syukur untuk hari ini dan harapan untuk hari esok. Terpatri tanya dalam diri untuk apa Allah hadirkan aku di dunia?”

Rangkaian waktu yang telah pencipta anugerahkan kepada kita, itulah kehidupan. Batasnya adalah ajal, datangnya tak bisa dihindar dan tak bisa juga digeser mundur.

“Setiap umat mempunyai ajal [tenggat waktu]. Ketika tiba ajal mereka, maka mereka tidak bisa meminta ditangguhkan meski hanya sesaat. Juga tidak bisa minta diajukan.” (TQS. Al-A’raf : 34)

Allah sudah tetapkan waktu itu tiba, dimanapun raga ini tetapkan akan dikunjungi ajal.

“Di mana pun kamu berada, kematian pasti kan menemukan kamu, sekalipun kamu berada dalam benteng yang tinggi lagi kokoh.” (TQS. an-Nisa’: 78)

Lucu, jika saat hari kelahiran  tiup-tiup lilin, merangkai bahagia dengan segala euforia , harusnya merenung, muhasabah diri, apa saja yang sudah dipersembahkan untuk hidup yang singkat ini. Waktu itu berkurang setiap saatnya, detik, menit, jam, harinya terus berjalan mundur.

Berapa waktu untuk Allah, jika rata-rata hidup kita 60 tahun?

Sementara sisanya untuk bekerja, makan, minum, bersantai, tidur, nonton tv dan aktivitas lain. Berapa jam seumur hidup umur itu kita berikan untuk Allah?

Perputaran dunia itu terlalu kuat, kita mudah terbawa arus pekatnya godaan dunia. Harta yang dibanggakan, jabatan yang ditinggikan, kehidupan hedon yang menyenangkan tak akan luput dari ajal. Taat atau tidak ajal itu pasti akan datang. Kedatangan ajal itu tak akan memilih, ia datang kepada siapa saja yang telah Allah tetapkan.

“Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)” (Surat Az Zumar: 30)

Bukankah yang kita inginkan adalah amalan terbaik yang Allah terima?

Namun Islam yang mulia ini, Islam nan sempurna ini tak begitu saja membiarkan kita merugi. Ada formula agar dua puluh empat jam yang Allah anugerahkan kepada kita bisa menjadi ibadah dan menjadi amal terbaik sebagi bekal saat menempuh hidup nan abadi.

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. dan dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (TQS. Al-Mulk: 2)

Ditafsir oleh Imam Fudhail Bin Iyad (guru Imam Syafi’i) suatu amalan dikatan terbaik ketika memunuhi dua syarat:

/Pertama/ Niatnya ikhlas karena Allah, seluruh aktivitas yang dilakukan hendaknya murni semata-mata hanya ditujukan untuk meraih rido Allah SWT.

/Kedua/ Caranya benar, cara yang sesuai dengan perintah dan larangan Allah, cara-cara yang terikat dengan hukum syara. Hanya dengan terus mempelajari Islam kita dapat menyesuaikan hidup dengan hukum-hukum Allah. Karena untuk taat juga butuh ilmu.

Menghadirkan kesadaran bahwa seluruh aktivitas kita dipantau Allah akan membuahkan bertindak sesuai dengan maunya Allah. Bekerja, belajar, tidur, makan, minum dll menjadi ibadah karena berbuat karena Allah dan meninggalkan apa-apa yang tidak pernah Rasulullah contohkan.

Esok itu terlalu jauh, detik berikutnya itu juga bukan jaminan bahwa itu masih milikku. Senantiasa jangan lelah untuk belajar untuk mempersembahkan amalan terbaik kepada Allah, yang pasti esok itu bukan milikku. [Wallahu a’lam bishshawab]

Oleh: Fira Faradillah

0Shares

4 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: