NulisPedia,  Tema Ditentukan,  WCR

RAMADAN TANPA MASJID

Ramadan itu bulan perjuangan dan kesabaran, yang berbeda dari Ramadan ini adalah kesabaran dan perjuangan tak hanya menahan dari yang membatalkan puasa tetapi juga atas ujian yang tengah Allah berikan kepada kita. Ya, pandemi ini membatasi ruang gerak kita. Negara ini memilih kebijakan PSBB, mengharuskan kita untuk membatasi aktivitas sosial. Kebijakan ini tidak salah, justru ini yang harus dilakukan sedari awal. Yang menjadi masalahnya adalah bagaimana kita menyikapi keadaan ini.

Mungkin saja sekarang menjadi Ramadan yang berat untuk kita jalani. Ramadan telah memasuki hari kelima, sunyi dan sepi.  Tak ada kajian di masjid dan tak saling bersilaturahmi. Tak ada langkah kaki nan ramai ke masjid, tak ada riang nyaring suara anak-anak nan berlarian. Tak ada teguran pengurus masjid menghentikan bisingnya, yang ada hanya suara adzan, setelah usai masjid kembali hening dan sepi. Ramadan tanpa masjid, ya sedihnya begitu dalam. Tak ada kemeriahan menyabut Ramadan, tak ada makanan lezat menyambut hari pertama Ramadan, seperti rendang mungkin, tak ada pasar Ramadan yang menyuguhkan berbagai macam takjil menggoda dan mungkin saja kita merasa Ramadan menjadi tidak special.

Ada yang rindu dengan suasana ini?

Ruang kosong tak berwujud itu bernama rindu, benarkah rindu itu dari hati? Atau hanya sekedar ocehan lisan. Jawaban itu hanya milik kita.

Apapun yang terjadi Ramadan itu tetap special, karena Allah yang menjadikan Ramadan itu sangat special.

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia beberbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang qlain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (TQS. Al Baqarah: 185)

Meski kita merasa bahwa ujian ini berat, namun berbeda, Alquran mengatakan bahwa dalam Ramadan Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesukaran. Bukankah itu adalah penguat bagi kita? Allah itu Maha baik, keadaan yang Allah tetapkan pada kita hari ini tidak pernah sia-sia.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (TQS. Al ankabut:2-3)

Kita tidak boleh hanya terfokus pada dampak negatif dari keadaan ini. Banyak ibroh yang dapat kita ambil. Ramadan adalah kesempatan kita meraih peluang pahala, memperbaiki diri dan membentuk kebiasaan baik. Jika tidak manfaatkan Ramadan sekarang kita butuh berapa Ramadan lagi? Belum tentu juga Allah akan berikan Ramadan berikutnya.

Ya, benar Allah sedang menguji kita. Tak kemudian ujian ini dijadikan alasan untuk bermalasan, tetaplah produktif. Orang-orang sebelum kita juga telah Allah uji, ujian adalah pertanda bahwa akan ada kenaikan level yang mempertaruhkan kadar keimanan.  Keadaan ini memaksa kita untuk menciptakan suasana Ramadan sendiri. Pilihanya hanya dua, terbawa suasana hening menjadi kaum rebahan atau tetap memeriahkan Ramadan dengan bertaqarrub kepada Allah. Sejauh mana hati mampu menjangkau kedekatan dengan Allah dan menjaga amalan-amalan untuk menghidupkan Ramadan.

Wallahu a’lam bissowab

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: