Opini

PROSTITUSI MARAK, AKIBAT SISTEM RUSAK

Polisi turut mengamankan 15 anak di bawah umur saat menggerebek hotel milik artis Cyntiara Alona yang di sebut di jadikan lokasi prostitusi online. “Korban ada 15 orang, semuanya anak di bawah umur, rata-rata umur 14-16 tahun, ini yang jadi korban,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombas Yusri Yunus di Polda Metro Jaya (CNN Indonesia, 19 Maret 2021).

“Motifnya karena covid-19, penghuni cukup sepi sehingga ada peluang agar operasional (hotel tetap) berjalan, dengan menerima kasus-kasus perbuatan cabul di hotelnya, sehingga biaya operasional hotel tetap berjalan,” tutur Yusri.

Tren kasus prostitusi online di kalangan remaja meningkat selama pandemi covid-19. Tidak hanya terjadi di hotel milik artis Cyntiara Alona, tapi hampir di seluruh wilayah terjadi prostitusi online. Penggunaan medsos yang semakin masif di tengah kesulitan ekonomi, diperkirakan memengaruhi kondisi ini.

“Peningkatan kasus prostitusi online di masa pandemi ini sesungguhnya fenomena nasional. Sejumlah daerah mengalaminya, tak terkecuali di wilayah Sulawesi Selatan,” kata Kepala UPT Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA)  Sulawesi Selatan, Meisy Papayungan. (Merdeka.com, 17 Februari 2021)

Kebebasan merupakan ciri khas dari demokrasi sehingga pelaku bisnis prostitusi bebas melenggang di alam demokrasi. Manusia bebas melakukan perbuatan yang dia suka tanpa memikirkan lagi dampak baik-buruknya, apalagi halal-haramnya. Termasuk di dalamnya bisnis prostitusi. Asalkan suka sama suka, maka mereka menganggap sah saja, apalagi mendapatkan bayaran yang menggiurkan. Pelaku kemaksiatan sudah tidak lagi memikirkan dosa, yang penting mereka mendapatkan kesenangan.

Beginilah jika aturan agama tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, mereka melakukan setiap perbuatan standardnya nafsu dan keuntungan belaka, bukan standard aturan agama. Prostitusi terus tumbuh subur karena dijadikan sebagai ajang bisnis. Perempuan dipandang sebagai komoditas dengan nilai jual. Kehormatan dan kesucian perempuan dikorbankan demi sejumlah rupiah.

Apapun alasannya, perbuatan prostitusi jelas di haramkan dalam Islam. Ini termasuk zina dan dosa besar.

” Dan janganlah kamu medekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji. Dan suatu jalan yang buruk” (TQS. AL-Isra: 32)

Penjelasan ayat diatas, mendekati saja dilarang, apalagi melakukannya. Allah melarang hamba-Nya berbuat zina, begitu pula mendekatinya dan melakukan hal-hal yang mendorong dan menyebabkan terjadinya perzinaan.

Islam adalah agama sempurna sebagai pedoman dan petunjuk dalam kehidupan. Islam bukan hanya menetapkan larangan berzina, namun juga menetapkan seperangkat aturan dalam rangka pencegahan pelanggaran terhadap syariat. Maraknya perzinaan atau prostitusi merupakan produk sistem kapitalis sekuler. Oleh karena itu kasusnya akan terus bermunculan selama masih diterapkan sistem yang rusak dalam kehidupan ini.

Berbeda jika islam yang diterapkan dalam sistem kehidupan. Islam memiliki mekanisme untuk mencegah terjadinya perbuatan zina. Upaya yang dilakukan dalam rangka mencegah terjadinya perbuatan zina salah satunya adalah penetapan hukum bagi pelaku zina yang memberi efek jera. Adanya hukuman ini  maka akan mencegah yang lain untuk tidak melakukan perbuatan zina.

Adapun hukuman bagi para pelaku zina sudah ditetapkan dalam Al-Quran :

“Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk ( menjalankan ) agama Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah ( pelaksanaan ) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang beriman.” (TQS. An-Nur: 2 )

Dalam hadist Rasulullah juga dijelaskan bagaimana pelaksanaan hukuman bagi pelaku zina.

” Demi zat yang jiwaku ada di genggaman tangan-Nya, sungguh aku putuskan diantara kamu berdua dengan Kitabullah. Induk unta dan domba di kembalikan. Hukuman terhadap anakmu jilid seratus kali dera dan pengasingan setahun. Dan pergilah ya Unais-kepada seorang laki-laki dari Bani Aslam-kepada istrinya ini, jika dia mengaku maka rajamlah dia. Dia berkata,  lalu Unais pergi kepada wanita itu dan dia mengaku, maka Rosulullah memerintahkan diterapkan dengannya, lalu dia di rajam.”

Pelaksanaan hukuman bagi pelaku zina akan memberikan efek jera bagi orang yang melakukan maupun orang lain yang menyaksikan pelaksanaan hukuman tersebut. Selain itu juga akan menjadikan penebus dosa bagi para pelaku zina. Dalam hal ini yang menerapkan hukuman haruslah seorang khalifah. Dan pelaksanaan hukuman ini hanya ada di sistem Islam bukan sistem kapitalis sekuler.

Oleh karena itu, sudah saatnya umat kembali menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam bingkai negara yang nantinya akan memberikan sanksi yang tegas pada para pelaku perzinaan sehingga tidak akan lagi mengulangi perbuatan zina tersebut. Wallahu’alam

Oleh : Miftahul Jannah

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: