Opini,  Tema Bebas,  WCR

PRANK: MELUKAI TANPA PEDANG

Istilah yang cukup ramai diperbincangkan karena ada beberapa kasus yang cukup membuat warganet heboh. Sesuatu hal yang sangat menyakitkan namun biasa dilakukan, dianggap menghibur bahkan dijadikan konten untuk menuai gelak dan tawa. Sungguh diprank itu menyakitkan dan menyayat meski tanpa pedang. Sangat memprihatinkan jika kita umat muslim juga menganggap itu sebagai sesuatu yang biasa. Namun, tak hanya individu yang melakukanya, negara berkali-kali juga telah melakukan prank pada rakyatnya, sadar atau tidak penguasa dengan segala kebijakan-kebijakan yang sama sekali tak berpihak pada rakyat. Hal yang harus kita pahami adalah prank atau dusta bukanlah karakter seorang muslim:

“Tanda orang munafik ada tiga: jika bicara ia dusta, jika berjanji ia ingkar, jika dipercaya ia khianat.” (HR. Al Bukhari)

Diantara rentetan kejadian prank, mulai dari kardus mie instan yang berisi sampah hingga prank kelas atas, ada kabar prank yang tak biasa. Menurut berita yang dilansir Tribunnews, Jum’at, 22/05/2020, seorang, Pria bernama M. Nuh tengah ramai diperbincangkan, karena dikabarkan pemenang lelang motor listrik yang dibubuhi tanda tangan Presiden Jokowi dengan harga fantastis, yaitu 2,55 miliar. Hasil lelang ini menggenapkan lebih kurang 4 miliar donasi yang terkumpul hasil dari konser yang diadakan kolaborasi antara MPR dan BPIP ditengah pandemi. Terkuak fakta karena pria tersebut tidak kunjung melakukan pembayaran, sosok M. Nuh yang ternyata bukan seorang pengusaha tetapi hanya buruh biasa. Ia mengira mendapat hadiah dan tidak mengetahui bahwa yang tengah diikutinya adalah acara lelang motor (detiknews.21/05/2020)

Apakah begitu mudah mengikuti sebuah lelang, tanpa ada verifikasi data, meski penyelenggara dengan dengan penuh percaya diri telah melakukanya. Kecolongan ini juga dapat mengindikasikan ada dusta diantara mereka, benarkah semua orang yang mengikuti lelang tersebut telah terdata?

Bukan masalah berhasil atau tidak dalam menjalankan konser tersebut, tetap saja melakukan acara konser unfaedah di tengah kesulitan ini melukai hati rakyat yang kesulitan ekonomi di tengah pandemi. Tapi kita bisa melihat betapa ecek-eceknya acara yang mereka gelar.

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan, sedangkan orang jujur malah didustakan; pengkhianat dipercaya, sedangkan orang yang amanah dianggap pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah berbicara.” Ada yang bertanya.” Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?” Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah)

Kepolosan seorang rakyat yang begitu mengharapkan adanya hadiah atau bantuan di tengah sulitnya ekonomi tak sengaja telah ngeprank semua orang yang ada dalam acara tersebut, para penguasaha bahkan pejabat-pejabat tanpa sadar juga tertipu. Meskipun tak sengaja, sejatinya itu cukup untuk menjadi pelajaran jika penguasa berfikir bahwa prank itu menyakitkan. Kisah bapak M. Nuh memperlihatkan kita banyak hal, karena untuk terkenal sangat mudah, cukup dengan pencitraan, popularitas juga bisa meroket dengan sebuah kebohongan, dengan kebohongan sekelas negara juga dapat dirugikan. Segelintir, ini hanya secuil potret prank yang akhirnya negara rasakan, terlebih yang selama ini rakyat rasakan yang hanya terus diberika harapan palsu.

Benarlah yang Rasul sampaikan, akan ada masanya kita berada pada kondisi yang penuh tipuan. Siapa saja akan mudah untuk menipu, siapa saja bisa tertipu. Semoga Allah menjaga kita dari segala bentuk kebodohan. Penguasa yang dirindukan adalah penguasa yang menjadi Raa’in bagi rakyatnya. [Wallahua’lam bis showab]

 Oleh: Fira Faradillah

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: