Opini

POSISI NEGERI MUSLIM TERBESAR DI TENGAH PERTARUNGAN ADIDAYA DI WILAYAHNYA

Perang dingin Amerika Serikat dan China semakin memanas. Pasalnya terlibat sengketa Laut China Selatan (LCS). Ketika Australia membela Amerika Serikat (AS) yang baru menolak klaim sepihak China atas 90 persen wilayah Laut China Selatan melalui akun twitter. (CNNIndonesia 2/8)

Situasi Laut China Selatan (LCS) hingga kini kian bergejolak. China dengan tegas ingin berkuasa di LCS, Amerika Serikat yang didukung Jepang dan Australia akan mati-matian untuk mencegah penguasaan secara sepihak oleh China. Salah satu negara ASEAN, yakni Filipina terang-terangan menyerah jika harus perang melawan China untuk memperebutkan batas lautnya yang masuk dalam klaim Beijing.

Melansir Wikipedia, Laut China Selatan merupakan lautan yang sangat penting secara geopolitik. Laut ini merupakan jalur air tersibuk kedua di dunia. Menurut tonase kapal kargo tahunan dunia, lebih dari 50% kapal kargo melintasi Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok. Tak hanya itu, kawasan ini diduga memiliki cadangan minyak bumi sebanyak 1,2 km³ (7,7 miliar barel) dengan perkiraan total 4,5 km³ (28 miliar barel)dan memiliki cadangan gas alamnya diperkirakan sebanyak 7.500 km³ (266 triliun kaki kubik).

Menurut kajian Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam Filipina, badan air ini memiliki sepertiga keragaman hayati laut dunia. Karena itu, Laut China Selatan merupakan daerah yang sangat penting bagi ekosistem. Akan tetapi, populasi ikan di daerah ini semakin berkurang dan negara-negara yang berbatasan dengan laut ini menerapkan larangan penangkapan ikan untuk mempertegas klaim kedaulatannya.

Lautan China Selatan membentang dari wilayah utara China ke bagian selatan Indonesia dengan luas mencapai 1,4 juta mil persegi (3,6 juta kilometer persegi). Ini menjadikan Laut China Selatan lebih besar dari Laut Mediterania.

Lantas, apa yang diperebutkan dari Laut China Selatan oleh kedua negara adidaya tersebut ?

/Pertama/ Watak kapitalisme tamak. Ingin menguasai darat dan Lautan China Selatan. Sebetulnya tak ada hubunganya AS dengan LCS. Karena secara geografis AS tidak memiliki wilayah di LCS. Tapi karena menggap dirinya sebagai polisi dunia. Ditambah dukungan dari Australia dan Jepang. AS tidak membiarkan wilayah LCS dikuasai oleh China. Terlebih menurunnya perekonomian akibat pandemi yang belum usai. AS menjadi semakin berambisi melawan China.

/Kedua/ Melegalkan ketamakan Kapitalisme dengan berlindung dibalik UU (Perjanjian UNCLOS). Menteri Luar Negeri, Retno Lestari Priansari Marsudi, mengatakan Indonesia tetap konsisten menghormati Konvensi Hukum Laut Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNCLOS) sebagai panduan dalam sengketa di Laut China Selatan (LCS).

Sikap Indonesia sebagai negeri muslim terbesar semestinya aktif memobilisir kekuatan negara  Kawasan (ASEAN) untuk menentang  AS-China yg melakukan pelanggaran kedaulatan lautnya. Sikap ‘netral’ dengan menghormati perjanjian UNCLOS menunjukkan kelemahan menjaga kedaulatan, karena terkungkung konvensi internasional yg dibuat negara penjajah.

/Ketiga/ Politik Indonesia lemah, penjajah mudah menjarah. Ketidakberdayaan Indonesia menentang penjajahan kolonialisme AS-China yang nyata melakukan pelanggaran kedaulatan laut membuktikan betapa lemahnya wibawa Indonesia dihadapan negara adidaya.

Indonesia, Malaysia dan Brunai Darussalam  sebagai negara mayoritas Islam  sebetulnya jika mau bersatu dan melepaskan diri dari sekat nasionalisme bisa bersuara lantang mencegah kerakusan negara AS-China dan mengusirnya. Tapi lebih memilih bungkam seribu bahasa. Akibat ketergantungan balas jasa pada AS dan China dari segi pinjaman utang dan investasi khususnya Indonesia. Sehingga nampaklah dimata dunia bahwa negeri ini telah kehilangan taring dan tak berdaya.

/Empat/ Peranan negara Islam di konstelasi politik. Sesungguhnya posisi Laut Cina Selatan memiliki kemiripan dengan posisi Laut Mediterania (Laut Tengah) di abad pertengahan, keduanya sama-sama merupakan arena vital kontestasi kekuatan besar pada masanya. Di laut Mediterania kekuatan besar itu adalah Islam, Bizantium, dan Latin.

Pembedanya adalah umat Islam saat itu berada dalam kepemimpinan Khilafah Islam di mana visi maritim Islam hadir dengan kuat untuk mengontrol dan menguasai Laut Mediterania.

Sementara sekarang, kelemahan meliputi dunia Islam seiring dengan absennya otoritas negara inti dalam Islam yakni setelah runtuhnya Khilafah Usmani tahun 1924, diikuti keterpecahan umat menjadi banyak negara bangsa akibat paham nasionalisme, ditambah hegemoni kapitalisme demokrasi yang menjadi tata dunia hari ini.

Estafet visi maritim Islam di Laut Mediterania, terus berlanjut di bawah prinsip politik luar negeri Islam yang bertumpu pada prinsip Dakwah dan Jihad. Kekuatan armada laut Umat Islam menjadi salah satu kekuatan besar dan berjaya kala itu.

Puncaknya adalah ketika masa Kesultanan Utsmaniyah, sebut saja Heyreddin Barbarosa, Hasan Khairuddin, Kilij Ali, Piri Reis, Hasan Ath Thusi, Zaganos Pasha, dan Turgut Reis. Mereka adalah ikon mujahid maritim bagi Umat Islam dengan nama yang menggentarkan musuh-musuh Islam.

Di bawah panji jihad Islam secara praktis dakwah Islam tersebar efektif menyeberangi lautan mediterania. Strategi ini bahkan sudah dipersiapkan secara serius sejak era Mu’awiyah bin Abu Sofyan, rintisan armada laut Mu’awiyah telah memberikan pengaruh besar di Laut Mediterania yang menjadikan angkatan laut Umat Islam sebagai ancaman nyata bagi imperium Romawi Timur.

Di masa Mu’awiyah juga untuk pertama kalinya pasukan Islam melakukan ekspedisi penaklukan kota konstantinopel. Mu’awiyah berhasil memosisikan diri sebagai salah satu pemain maritim yang diperhitungkan, bukan sekadar penonton seperti hari ini.

Sudah waktunya bagi para penguasa Muslim di sekitar Laut Cina Selatan mengadopsi kembali visi maritim Islam yang akan membebaskan tanah dan laut mereka dari ketundukan terhadap kufar dengan supremasi hukum-hukum Islam.

Sebuah visi yang menjadikan dorongan iman, jihad, dan ketakwaan sebagai fondasi, bukan keserakahan dan penjajahan ekonomi seperti hari ini.

Ingatlah keutamaan jihad di lautan dari sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Satu kali berperang di lautan itu lebih baik dari sepuluh kali berperang di daratan. Orang yang berlayar di lautan [dalam jihad] adalah seperti orang yang telah mengarungi seluruh lembah [daratan]. Dan orang yang mabuk di lautan [dalam jihad] adalah seperti orang yang bersimbah darah [dalam jihad].” (HR Al-Hakim dan Ath-Thabarani)

Oleh: Sri Ariyati

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: