Problematika Umat

PINDAH AGAMA DIANGGAP LUMRAH?

Nama Yudi Mulyana ramai diperbincangkan di jagad  media sosial. Viralnya pria ini di karenakan ia murtad kembali kepada agama sebelumnya yaitu Kristen. Sebenarnya ia awalnya beragama Kristen kemudian menjadi mualaf dan kembali lagi  menjadi murtad  (theIDNDAILY. 12/05/2020).

Yudi Mulyana diduga menjadi penyusup dalam  Islam yang berdalih sebagai mualaf. Banyak pihak yang berhasil dikelabuhi oleh Yudi Mulayana. Seperti Ary Ginanjar yang memberangkatkan Yudi untuk pergi menunaikan ibadah haji, hingga Mantan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan yang sempat mengirimkan uang. (eramuslim,12/5/2020)

Melihat Yudi yang begitu mudahnya  berpindah-pindah agama  seperti pindah pindah angkot. Fenomena ini  cukup banyak terjadi di tengah masyarakat kita. Hal ini di anggap lumrah saja.  Sebagian orang begitu mudah mengganti akidah Islamnya, entah karena kesulitan ekonomi, anggapan semua agama itu sama dan mengajak kepada kebaikan, ataupun karena kepentingan-kepentingan duniawi lainnya.

/Konsekuensi Murtadnya Seorang Muslim/
Seandainya seseorang menyadari konsekuensi yang akan diterima ketika menanggalkan Islam, mungkin dia tidak akan pernah melakukan tindakan  tersebut. Karena bagi yang murtad harus siap jika segala amal-amal ibadahnya tidak berlaku lagi di mata Allah sekalipun  amalan yang dilakukan banyak.

Kemudian haknya sebagai seorang muslim hilang. Salah satunya haram untuk menikahi seorang muslimah dan tidak mewarisi dan tidak diwarisi hartanya. Jika mati, tidak dishalati, tidak dikafani serta tidak boleh didoakan . Tidak hanya itu saja, jika mati dalam keadaan murtad, tidak boleh dimintakan ampunan baginya. Selanjutnya tidak boleh menjadi wali dalam pernikahan seorang wanita muslimah misalnya, bapak atau walinya murtad, maka tidak berhak menikahkan anak atau keponakannya yang muslimah.

Itu sebagian kecil akibat yang akan diterima bagi orang yang murtad. Betapa meruginya melepaskan keIslaman. Murtad bukan semata masalah keyakinan semata, namun ini masalah mengganti loyalitas, mengubah kecenderungan, dan berpindah keberpihakan. Orang yang murtad telah mengubah loyalitasnya dan keberpihakannya kepada umat yang lain, dan bahkan ke negeri yang lain.

/Bagaimana Islam Mengatasi Fenomena Murtad/
Untuk meminimalisir fenomena pindah agama bukanlah mudah. Perlu sekali hukuman tegas guna sebagai preventif agar fenomena ini tidak meluas.  Butuh peran negara untuk mengatasi masalah ini. Hal tersebut tentu tidak segampang membalikkan telapak tangan, apalagi untuk saat ini.

Dalam Islam, ada hukum tegas untuk pelaku pindah agama yaitu hukuman mati. Hadits dari Ibnu Abbas ra. Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang mengganti agamanya, bunuhlah dia. (HR. Bukhari)

Hukuman mati hanya bisa dilakukan  jika syariat Islam diterapkan dalam sebuah negara. Sebelum hukuman dijatuhkan ada beberapa peringatan kepada  orang tersebut dan diberikan waktu untuk bertobat atau bisa dengan memberikan harta, untuk menghilangkan segala sebab yang membuat dia bertaubat.

Orang yang murtad diminta bertaubat selama 3 hari, tanpa dikondisikan lapar, haus, dan tanpa hukuman. Jika dia mau bertaubat (kembali masuk Islam), dia dilepaskan, jika tidak maka dibunuh.

Mengapa orang yang keluar dari Islam atau murtad dihukum mati? Sebab, Masyarakat Islam ibarat sebuah tubuh. Ketika muslim ini keluar dari Islam, dia akan menjadi penyakit, yang jika dibiarkan akan menyebar kemana-mana.

Jadi sangat berbahaya dan merusak aqidah yang lain. Karena itu, penyakit seperti ini harus dikarantina dan jika tidak bisa disembuhkan, dia harus dibuang dengan demikian, fenomena murtad wajar terjadi pada sistem saat ini. Sebab negara membiarkan rakyatnya berpindah-pindah agama. Aqidah umat Islam hanya akan terjaga jika negara menerapkan syariat Islam dalam bingkai negara Islam. Sebab, negara berkewajiban menjaga aqidah umat Islam dengan penerapan aturan dan sanksi yang sesuai syariat Islam.

Oleh: Enni Etika Mardia

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: