Opini,  Problematika Umat

PIL PAHIT TENAGA MEDIS DI ERA KAPITALIS

Keamanan dan keselamatan rakyat ialah suatu hal yang harus diprioritaskan oleh negara. Terlebih dalam masa pandemi saat ini. Jaminan keamanan dan kesehatan rakyat adalah prioritas utama bagi negara. sehingga rakyat tak perlu was-was ataupun takut bertahan hidup di tengah wabah, karena keamanan serta keselamatan mereka telah terjamin. Namun rupanya hal ini terbalik dari fakta yang ada, ibarat jauh panggang dari pada api. Harapan rakyat untuk memperoleh keamanan dan keselamatan hanya menjadi pemanis media.

Sebagaimana yang terjadi saat ini di negeri +62 yang menganut sistem kapitalisme. Bahkan tenaga medis yang menjadi tentara terdepan dalam penanganan covid-19, tak luput dari rasa was-was cemas dan tidak terjaminnya keselamatan mereka terlebih ketika berhadapan langsung dengan virus yang sampai saat ini vaksinnya masih belum ditemukan.

Seperti fakta yang terjadi di Puskesmas Kotaraja, Lombok Timur, NTB. Hasil rapid test enam orang petugas Puskesmas Kotaraja dinyatakan reaktif Covid-19. Serta ada tujuh orang yang dinyatakan reaktif yakni keluarga dari enam orang tenaga medis yang terpapar tersebut, dan semuanya telah menjalani isolasi di Rusunawa Labuhan Lombok. Dengan adanya tenaga medis yang dinyatakan reaktif Covid-19 ini, puskesmas ditutup sementara guna mencegah penyebaran lebih luas kepada masyarakat khususnya pengunjung ataupun pasien. [1]

Data di atas ialah salah satu dari sekian banyaknya fakta di lapangan bahwa para tenaga medis yang kini tengah berjuang di garda terdepan dalam menghadapi pandemi ini satu persatu mulai tumbang, ibarat harus menelan pil pahit. Bukan hanya di Lombok, tapi di daerah lain pun telah mengalami kejadian serupa. Lantas mengapa hal ini terus terjadi dan mengalami peningkatan hampir diseluruh daerah?

Maka hal pertama yang menjadi perhatian ialah kejujuran pasien yang datang berobat. Belakangan, diketahui bahwa ada salah satu pasien yang tidak jujur ketika memeriksakan dirinya kepuskesmas tersebut. Hal ini menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banyaknya tenaga medis yang terpapar dengan virus covid-19, karena banyaknya pasien yang cenderung menyembunyikan riwayat perjalanan dan penyakitnya. Ada hal-hal yang menyangkut keluhan namun tidak disampaikan pasien, sehingga pasien tidak masuk screening atau pemeriksaan sesuai dengan protap pada Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

Kedua ialah tak luputnya hal ini dari kurangnya informasi dan pengetahuan yang ada di tengah masyarakat selama wabah. Tak hanya kurangnya informasi, namun kurang detailnya pemerintah dalam mengumumkan informasi tentang persebaran covid-19 di tengah banyaknya kesimpangsiuran,  menjadi salah satu pemicu fenomena di atas. Minimnya edukasi yang akurat dan merata dari pemerintah di tengah pandemi, menjadikan banyak pasien yang menyembunyikan riwayat perjalanan dan penyakitnya karena takut akan dikucilkan masyarakat ketika nanti diketahui terpapar covid-19. Akibatnya membuat para pasien akhirnya melakukan upaya sendiri sesuai dengan apa yang ia ketahui.

Dalam situasi pandemi ini, begitu pentingya peran negara dalam memenuhi, menjaga, dan mengedukasi rakyat. Namun realita yang ada malah semakin menunjukkan kelalaian negara mengurus kebutuhan masyarakatnya. Kondisi ini terjadi tidak lain karena paradigma sekuler-kapitalis menjadi landasan berpikir para pemimpin negeri ini. Sekulerisme membuat negara mengacuhkan hukum syara’.

Adapun kapitalisme menjadikan materi satu-satunya yang menjadi perhatian. Maka wajar, kebijakan yang dikeluarkan justru memprioritaskan ekonomi, bukan nyawa dan keselamatan rakyat, baik itu tenaga medis ataupun masyarakat pada umumnya. Padahal jika ekonomi down, hal itu masih bisa diperbaiki, namun bayangkan jika sebagian besar tenaga medis tumbang. Padahal tenaga medis ialah orang-orang yang berperang langsung di garda terdepan dan face to face dengan covid-19. Para pejuang yang kesehatan dan keselamatannyapun harus dijamin negara secara utuh. Hingga saat ini jumlah tenaga medis yang tumbang akibat terinfeksi ataupun kelelahan dalam bekerja semakin meningkat. Jika para tentara di garda terdepan semakin banyak yang tumbang, lalu siapa yang akan memberikan pelayanan dan merawat pasien?

/Cara Penguasa dalam Sistem Islam Menghadapi Wabah/
Keadaan ini sangat kontras dalam paradigma kepemimpinan dalam Islam. Hakikat kepemimpinan dalam Islam ialah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Maka dalam menjalankan kepemimpinan akan terlihat kepedulian mereka sebagai pelayan umat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

“Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka” (HR. Abu Nua’im).

Paradigma ini akan membuat pemimpin negara memprioritaskan kepentingan rakyat di atas kursi kekuasaan. Sehingga ketika wabah terjadi seperti saat ini, khalifah akan menjaga nyawa rakyatnya dengan usaha yang optimal. Seperti keputusan yang diambil oleh Abu Ubaidah dan Muadz bin Jabal (pejabat negara khilafah) untuk tidak meninggalkan wilayah Syam ketika terjadi tha’un (wabah).

Tindakan mereka mencerminkan tanggungjawab untuk mengurus warganya, saling tolong menolong merawat yang sakit, mengurus jenazah, mengedukasi rakyat, serta bersabar bersama. Kalaupun akhirnya mereka meninggal dunia dalam pengurusan tersebut, mereka layak mendapatkan pahala syahid sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

 “Orang yang mati syahid ada lima, yaitu orang yang kenatha’un (wabah), orang yang mati karena sakit perut, korban tenggelam, korban yang tertiban reruntuhan, dan orang syahid di jalan Allah.” (HR Bukharidan Muslim).      

Khalifah akan memastikan di daerah wabah atau zona merah, bahwa rakyat yang terkena wabah akan mendapatkan pelayanan medis yang memadai agar segera sembuh dan tentunya disediakan pasokan kebutuhan logistik yang cukup. Sedangkan untuk masyarakat yang belum terjangkit dan tinggal di daerah sumber wabah, akan diberlakukan protocol khusus sehingga mereka tidak mudah tertular untuk memutus mata rantai penyebaran wabah dengan cepat dan tepat. Untuk masyarakat yang tinggal di wilayah zona hijau atau tidak terdampak wabah, akan diberikan edukasi dan informasi yang akurat mengenai perkembangan dan penanganan wabah.

Dengan demikian, tidak ada rasa khawatir dan was-was serta malu akan dikucilkan. Hal ini tentu akan meminimalisir jumlah rakyat yang terjangkit serta membantu tugas tenaga medis dalam merawat pasien terjangkit, sehingga perawatan dapat dilakukan secara optimal dan efisien. Tentunya keamanan dan keselamatan para tenaga medis juga dijamin oleh negara.

Fakta ini semakin menunjukkan bahwa hanya Daulah Islam dalam naungan sistem Khilafah Islamiyyah yang mampu menangani wabah tanpa masalah. [Wallahu’alambishowab]

Vikhabie Yolanda Muslim,S.Tr.Keb (Praktisi Kesehatan)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: