Nafsiyah,  Problematika Umat

PERNIKAHAN ASING !

“Eh, tau gak. Si fulanah mau nikah pekan depan”

“Oh ya?, Koq tiba – tiba gitu ya?”

“Iya ya, aku juga nggak nyangka”

“Pasti ada apa – apa nya nih???”

“hmmm… bisa jadi… apalagi dia udah kepala tiga”

Begitu lah, kenyataan yang jadi pengalaman ketika menikahnya diumumkan secara “tiba-tiba”. Gak ada aba – aba dengan posting prosesi bridal shower ataupun khitbah atau lamaran juga foto selfie berdua semasa pacaran.

Fenomena ini sungguh aneh dianggap dimasyarakat. Padahal  kalau dulu zaman mamah aku tuh gak ada yang namanya proses perkenalan seperti pacaran bertahun – tahun atau apala namanya. Ya kalau suka langsung jumpai orang tua. Jangka waktu dari khitbahn keakad paling satu sampau dua bulan, gak sampai berganti tahun.

Resepsinya juga sederhana, sesuai kemampuan dari ahlul bait. Jika hanya bisa menyediakan makanan dengan lauk seadanya ya begitu saja. Tidak perlu pakai hiburan yang sewanya sampai jutaan bahkan puluhan juta, apalagi sewa baju dan makeup yang menguras habis harta. Ditambah rela ngutang riba untuk label “bahagia”. Astaghfirullah.

Katanya dunia makin maju, tapi taraf berpikir kenapa semakin mundur? Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah karena kita meninggalkan Islam yang paripurna. Mungkin kita sudah tau tentang bagaimana proses pra pernikahan dan pasca pernikahan menurut Islam. Tapi, mungkin kitanya masih enggan dan cuek demi menuruti keinginan atau untuk sekedar ajang gengsi.

Pra pernikahan itu dimulai dari memilih calon pendamping. Mulai dari prosesnya yang tidak menyalahi syari’at. Ta’aruf dilakukan sesuai alur dan jalur dengan berproses melalui mediator yang sah, tanpa chattingan yang unfaedah dan berlama – lama. Khitbah yang tak bertele – tele dan jelas arahnya. Hingga menentukan pilihan dan menjumpai wali calon nya. Masya Allah.

Hingga menuju hari akad, kedua calon pun masih belum dibolehkan berinteraksi bebas, seperti jalan berdua, ngobrol berdua tak jelas, bahkan untuk foto berdua ala – ala prawedding. Kedua calon belum jatuh akad, belum halal. Berarti masih haram untuk bersama. Nah, banyak yang keliru memahami akan hal ini. Kalau sekarang mah, sudah lamaran maka seperti sudah halal, bisa dibawa kemana saja. Karena tinggal lafadz akad saja yang belum dilantunkan. Astaghfirullah.

Tidak hanya itu, ketika resepsi juga banyak yang harus diperhatikan. Seperti tamu yang harus dipisah antara tamu perempuan dan laki – laki. Juga, tidak adanya hiburan jahiliyah nan melenakan. Begitu juga riasan pengantin wanita yang mengalihkan pandangan atau tabarruj lagi haram, serta pakaian yang menyerupai wanita jahiliah. Masya Allah, resepsi seperti ini sulit kita dapat sekarang, karena dianggap asing dan kolot. Yang biasa saat ini, pernikahan itu ajang happyfull. Bahagia dan bisa mengekspresikan kebahagiaan dengan suka – suka. Bernyanyi tak karuan, hingga berjoget lenggak – lenggok tak kenal waktu sampai lupa diri dan malu.

Lagi – lagi, tulisan ini bertujuan untuk mengajak kepada kebaikan dan kembali kepada ketaatan kepada Allah Sang Maha Pengatur. Kalau tidak dengan kita belajar Islam, darimana lagi kita tau tentang aturan yang paripurna? Apa kita mau berlarut – larut dalam ketidaktahuan? Padahal, kita tidak tahu pun akan dimintai pertanggungjawaban. [Wallahu’alam]

Oleh: Monalisa Limbong

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: