Opini

PEREMPUAN MULIA DALAM ISLAM

Nabi Muhammad ﷺ. manusia pilihan dan utusan Allah subhanahu wa ta’ala telah menjadi harapan baru bagi kaum Muhajirin dan Anshar di Madinah, akan hidup penuh kemuliaan di bawah penerapan syariat Islam yang suci.

Inilah batu pertama tegaknya peradaban Islam yang indah dan mulia yang melindungi siapa saja yang bersedia tunduk dan patuh pada aturan Sang Pencipta, termasuk kaum perempuan yang tidak pernah dipandang rendah melainkan justru dimuliakan oleh hukum-hukum Islam dan cara pandang Islam yang luhur terhadap kaum perempuan.

Cahaya Islam menyinari setiap jengkal wilayah yang tersentuh dakwah Islam. peradaban Islam tumbuh dan berkembang menjadi peradaban yang terkemuka di seluruh dunia. Islam menjadi kekuatan yang memimpin dunia dalam segala aspek kehidupan. Melalui tangan-tangan pelindung atau perisai umat, Abu Bakar as-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan Khalifah-Khalifah setelah mereka.

Islam menerangi benak-benak umat dengan pembelajaran yang ditujukan untuk mencetak generasi berkepribadian Islam yang mumpuni dengan kekuatan aqidah dan kemajuan sains serta teknologi, termasuk mencetak kaum ibu yang mampu melahirkan generasi cemerlang hingga terlahirlah para fuqoha dan ilmuwan seperti Ar-Razi, aljabar, Ibnu Sina dan yang lainnya dari jaminan sistem pendidikan Islam.

Semua ini terjadi karena dua hal: pertama, penjagaan Islam terhadap pentingnya peran ibu bagi kaum perempuan dan kedua, sistem pendidikan berkualitas yang berlandaskan aqidah Islam.

Selain itu, perpaduan sistem sosial dan ekonomi yang dimiliki oleh peradaban yang mulia ini memberikan jaminan kesejahteraan dan kemuliaan yang hakiki bagi perempuan yang menjadi pilar bagi bangunan keluarga dan pembentukan generasi Islam. Berkat hukum-hukum perwalian laki-laki dan peran negaranya yang kuat, kaum perempuan terbebas dari kemiskinan dan terlindungi dari berbagai bentuk eksploitasi ekonomi .

Semua ini dapat terealisasi karena kebijakan ekonomi dan politik Khalifah yang berdasarkan kepada syariah Islam. Pengelolaan harta milik umum dan negara secara mandiri telah menjadi penopang tersedianya anggaran belanja negara untuk mensejahterakan masyarakat .

Kebijakan ini secara adil diterapkan kepada seluruh lapisan masyarakat melalui distribusi harta secara tepat untuk memenuhi kebutuhan pokok individu maupun kebutuhan kolektif. Bisa dibayangkan oleh kita betapa terjaminnya hidup pada saat itu, termasuk perempuan .

Ketika semua kebutuhan dapat dipenuhi dengan begitu mudahnya, maka seorang muslimah dikala itu tidak terbebani hidupnya dengan bekerja untuk menafkahi dirinya sendiri atau untuk sekedar mencari kekayaan, tetapi Islam memberikan penjagaan dan perlindungan kepada perempuan dengan menyokongnya untuk menjalankan kewajibannya sebagai istri dan ibu.

Sebuah status mulia yang diberikan oleh Allah kepadanya sebagai tiang negara, di tangannyalah estafet kehidupan berikutnya dipertaruhkan. Maka kebanggaan menjadi seorang istri dan ibu menghujam kuat dalam dirinya. Kalaupun ia ingin bekerja ia lakukan semata-mata untuk mengkontribusikan ilmu dan hasil karya yang ia miliki agar bermanfaat bagi masyarakat. Tentu perempuan diwajibkan menutup aurat serta tidak berdandan berlebihan manakala keluar rumah. Pasalnya, semua bermula dari pandangan yang tidak terjaga yang akan menjerumuskan pada keharaman.

Perempuan tidak dibolehkan bekerja yang mengeksploitasi sisi kewanitaannya seperti menjadi SPG dan lain-lain. Islam juga memerintahkan mahram untuk menemani perjalanan perempuan yang lebih dari sehari semalam dalam rangka menjaga kehormatannya.

Islam juga memberikan jaminan dengan sistem sanksi. Menangani kelemahan individu yang terjerumus dalam penyimpangan dengan hukum yang jelas dan tegas. Menghukum pelaku pelecehan seksual, pemerkosaan, pacaran, pembunuhan dan sejenisnya dengan hukuman setimpal.

Dari pemaparan singkat diatas tampak bahwa hanya Islam sajalah yang memiliki nilai-nilai mulia dan benar-benar bertanggung jawab dalam penjagaan kehormatan perempuan. Jaminan perlindungan pada seluruh sistem di atas hanya bisa diterapkan oleh negara  yang menjadikan syariat Islam sebagai sumber aturan. 

Khilafah adalah negara yang menolak prinsip-prinsip rusak kapitalisme liberal dan mengagungkan nilai-nilai ketakwaan. Khilafah melarang segala bentuk aktivitas yang menjadikan perempuan sebagai objek komoditas dan merendahkan perempuan. Khilafah adalah negara yang memberi rasa aman pada wanita baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Khilafah memberi kesempatan pada perempuan berkontribusi aktif di bidang politik pendidikan ekonomi dan layanan publik yang bebas dari pelecehan. [Wallâhu a’lam bishshawâb]

Oleh: Nabila Zidane (Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: