Hikmah,  NulisPedia,  Opini

PENUNTUN CINTA

Cinta timbul dari naluri na’u. Naluri na’u, ibarat kuda liar jika dibiarkan dan tidak bisa dikendalikan akan membahayakan, nabrak sana-sini. Kuncinya adalah pengendalian. Maksudnya? Naluri na’u harus dikendalikan dan diatur. Diatur dengan apa? Ya, pastinya dengan aturan? Aturan dari siapa? Ya dari yang menciptakan naluri tadi, yaitu Allah SWT.

Islam diturunkan di muka bumi, tidak hendak mengeliminir naluri na’u dalam diri manusia. Islam justru menghendaki naluri ini tumbuh berkembang menghiasi hidup manusia meghantarkan kepada kebahagiaan. Kebutaan cinta yang berdampak pada keterpersokan manusia pada lubang kehinaan akibat cinta adalah akibat kesalahan manusia tidak memenuhi manual instructions yang termaktub dalam aturan Islam. Liberalisme yang menjadi inti dari kapitalisme justru telah membutakan cinta itu sendiri. Tidak ada satupun kisah percintaan yang harmonis bila bukan aturan Islam yang dijadikan bangunan pondasi cinta.

Islam telah menjelaskan sekumpulan aturan yang bersumber dari Alquran dan hadist berguna mengatur naluri na’u secara tepat dan benar. Ulama’ kharismatik, Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani Rahimahullah mengistilahkan sebagai Sistem Pergaulan (nidlam al-ijtima’i). Naluri sexual hanya bisa dikendalikan dengan aturan pergaulan yang bersumber dari Islam. Faktanya tidak ada aturan komprehensif yang dimiliki oleh sistem selain Islam mengenai perangkat aturan pergaulan laki-laki dan perempuan dalam sebuah masyarakat. Apakah itu Kapitalisme atau sosialisme sedikitpun tidak memiliki. Sekali lagi hanya Islam yang punya.

Intinya, cinta merupakan manifestasi dari naluri sexual. Wujudnya adalah “aksi percintaan” antara kedua lawan jenis dalam bentuk beraneka ragam yang berawal dari hubungan pergaulan. Oleh karena itu secara global dalam Islam memberikan rambu-rambu aturan pergaulan antara lawan jenis diantaranya yaitu: Menundukkan Pandangan, tidak berdua-duaan (khalwat), larangan bercampur baur tidak syar’i (Ikhtilath), dan menjaga Kehormatan dengan Menutup Aurat.

Benih-benih cinta muncul bukan hanya lewat interaksi pergaulan saja, namun juga dipengaruhi oleh penampilan diri kita. Wanita dengan baju minim nan ketat (lebih mirip baju adeknya  yang dipakai) dipadu dengan celana jeans ketat melukiskan lekuk tubuh dari atas sampai bawah, tidak jarang membuat runtuh hati laki-laki yang memandangnya. Sayangnya anak perempuan ABG sekarang malah bangga memamerkan lekuk dan sedikit bagian tubuhnya dihadapan lelaki dengan harapan pujian darinya.

Hampir 90 persen lelaki tertarik perempuan karena penampilannya yang menggoda. Sampai-sampai ada orang yang mengatakan penampilan “minimalis perempuan adalah KTL alias Kekeran Terhadap Laki-laki. Artinya, penampilan wanita banyak membuat lelaki tidak bisa tenang dibuat gelisah membayangkan yang “iya-iya.

Sedemikian pentingnya penampilan berpengaruh terhadap melonjaknya hasrat seksual (naluri naluri na’u), maka Islam memerintahkan kepada lelaki khususnya wanita untuk menjaga kehormatannya dengan cara menutup aurat.

/Bila cinta tak terbendung/
Sahabatku, jangan sampai dech kita semua melakukan perbuatan itu. Nah, terus bagaimana dong? Jangan khawatir. Sebelumnya sudah disampaikan, bahwasannya Islam tidak hendak mematikan potensi kehidupan manusia berupa naluri na’u yang berbuah cinta. Islam tidak melarang jatuh cinta, karena cinta adalah bagian fitrah manusia. Hanya saja kita selaku yang mengaku beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT harus tunduk, patuh, ikhlas pada perintah dan larangan Allah dalam menggapai cinta yang tidak membutakan. Alquran menyebutkannya demikian;

Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan.” “Kami mendengar dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (TQS. An-Nur: 51)


Bagaimana menemukan cinta sejati, yang tidak membuat buta? Pertama, rambu-rambu tata pergaulan lawan jenis diatas harus dipatuhi. Caranya adalah, menjadikan setiap kita pilar ketaqwaan melekat kokoh dalam diri. Ketaqwaan yang kokoh akan berimbas pada ketahanan terhadap godaan syaithan sekaligus menjadikan orientasi penemuan cinta kita menjadi bernilai ibadah disisi Allah. Jadi kita tidak hanya dapat mereguk kenikmatan dunia berupa cinta, lebih dari itu ibadah untuk meraih keridhoanNya.

Kedua, bila hati sudah menemukan tambatan hati, maka saat itu hati-hati dalam menjaga diri. Jatuh cinta tidak salah, yang salah cinta yang menjatuhkan kita. Kalau sudah jatuh cinta terhadap lawan jenisnya, gejolak hati ingin rasanya selalu mengingatnya, bersamanya dan seterusnya. Secepatnya harus segera ingat pada Allah SWT . Islam hanya membolehkan hubungan spesial antara laki-laki dan wanita melalui pintu pernikahan, tidak ada pintu lain. Bagaimana caranya? Caranya adalah, kalau laki-laki ya harus berani mengutarakan cinta itu melalui khitbah. Khitbah jika orang Indonesia menyebutnya dengan melamar. Islam mengajarkan untuk berani, laki-laki sudah memenuhi persyaratan (mampu menanggung beban pernikahan) hendaknya segera melamar perempuan idaman kepada kedua orang tuanya. Itu baru namanya lelaki sejati. Melamar juga sebagai tanda seorang laki-laki memuliakan perempuan. Kebanyakan yang terjadi laki-laki seenaknya aja bawa kekasihnya kemana-mana dengan hanya dijadikan pacar, itupun kadang tidak sampai pada pelaminan. Wah, abis manis sepah dibuang dong namanya. Seperti barang bekas aja. Nah tuh betulkan?

Makanya Rasulullah SAW menganjurkan kepada para pemuda (syabab) untuk segera menikah. Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Wahai para pemuda, siapa saja diantara bkalian yang telah mampu menanggung beban, hendaklah menikah. Sebab, pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Siapa saja yang belum mampu menikah, hendaklah ia berpuasa karena puasa adalah perisai baginya” (Muttafaq’alayhi)

 Kami tidak pernah mengetahui solusi untuk dua orang yang saling mencintai semisal pernikahan.””[HR. Ibnu Majah]

Bahkan Rasulullah juga melarang hidup membujang. Subhanallah, begitu indahnya pernikahan itu menjadikan halal segala hubungan percintaan antara laki-laki dan wanita bahkan bernilai ibadah yang akan mendulang banyak barakah dari Allah SWT. Inilah percintaan yang indah, tenang, bahagia dilambangkan oleh Allah SWT sebagai sakinah mawadah wa rohmah

Bagi para pemuda yang belum mampu menikah, harus bisa menahan diri dengan tetap menjaga pergaulan. Menjauhi segala pergaulan bebas dengan tetap diperbolehkan bergaul secara Islami sekedar untuk memenuhi hajat hidup dalam bermuamalah. Rasulullah memberikan tips agar gejolak naluri seksual terkendali dengan membiasakan diri berpuasa, karena itu salah satu cara meredam gejolak seksual. Labih dari itu bagi pemuda adalah menyiapkan cinta. Yaitu dengan menyibukkan diri dengan aktifitas yang positif. Seperti memperdalam tsaqofah Islam melalui kajian-kajian islami, melibatkan diri memperbaiki diri dan masyarakat dengan aktif berdakah bersama kelompok yang shahih. Memperkaya diri dengan ilmu-ilmu seputar pernikahan dan merawat cinta sejati sangat dianjurkan, itu bukti keseriusannya meraih cinta yang terang. Intinya adalah menjadikan dirinya sebagai pribadi yang sholeh dan sholehah. Jangan kuatir Allah SWT sangat tahu hambaNya.

Pemuda yang sholih hanya pantas untuk wanita yang sholihah. Pilihan pergaulan kita menentukan sangat menentukan siapa pasangan cinta sejati kita. Karena hidup adalah pilihan. Oleh sebab itu setiap diri harus memiliki orientasi terbaik dari pelabuhan cinta yang akan dipilihnya.

Oleh : Nurhabibah, S.Pd.

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: