NulisPedia,  Opini

PENGHINAAN TERHADAP AGAMA TERUS TERJADI, KENAPA?

Episode penista agama terus berlanjut dan berulang dan seakan tidak kunjung usai. Akhir-akhir ini kasus penista agama terus terjadi, baik penghinaan atau pelecehan terhadap Allah, Rasulullah dan juga ajaran Islam yang mulia yang terus menerus berulang di negeri ini.

Baru- baru ini kita dihebohkan dengan wanita yang telah melakukan penistaan agama yakni membuat video tiktok berjoget saat melakukan gerakan sholat. Dalam konten tersebut wanita itu terlihat sedang ingin melakukan sholat, tapi karena ada musik DJ maka wanita itu berjoget layaknya di diskotik.

Sebelumya ada juga yang viral menistakan Rasulullah dan bunda Aisyah. Di videonya itu seorang lelaki yang usianya masih mudah menyayikan lagu Aisyah istri Rasulullah yang tengah viral dan diplesetkan lagu Aisyah istri Rasulullah dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan.

Dan tidak cukup sampai disitu,  lagi dan lagi sebuah akun tiktok @yogaadhitya0 menghina Ustadz. Di videonya tersebut digambarkan bahwa ketika ustadz masuk di skotik lalu berjoged diiringi musik. Ini hanya segelintir kasus penistaan agama di negeri ini. Lalu apa yang mereka lakukan setelah melakukan keselahan besar itu? Meminta maaf, apakah cukup dengan hanya meminta maaf saja?

Tidak, tidak cukup hanya sekedar minta maaf, ditangkap polisi ya, lalu dikeluarkan kembali, apakah cukup sampai disitu saja. Hukuman yang pantas bagi mereka adalah hukuman mati.

Sesungguhnya penistaan agama ini tidak akan terjadi jika negara mampu bersikap dengan jelas dan tegas sesuai hukum yang berlaku. Hanya saja negara ini menganut asas sekularisme.

Sehingga dengan adanya penista agama dianggap hal yang lumrah. Meski ada hukum yang berlaku. Hal ini seolah menjamin kebebasan kerena ketidakjelasan standar negara dalam menilai sesuatu yang dianggap penistaan agama.

Jadi akar permasalahannya terletak pada asas dari negeri ini, yakni asas sekulerisme, dimana sekularisme adalah pemisahan agama dari kehidupan. Dan ada empat pilar yang mendasarinya yaitu, kebebasan beraqidah, kebebasan berprilaku, kebebasan berpendapat dan juga kepemilikan.

Kebebasan berpendapat, yaitu termasuk salah satu dari kebebasan sekularisme membuat mereka mengahalalkan apapun pendapat mereka, termasuk menistakan agama dengan dalih kebebasan berpendapat dijamin oleh negara meski mereka menghina Allah Sang pemilik alam semesta dan juga ajaran Islam yang mulia, bahkan Rasulullah kekasih Allah  juga dihina, naudzubillah

Kasus penistaan agama akan terus terjadi di negeri ini karena negara tidak menerapkan sanksi yang memberi efek jera kepada pelakunya bahkan negara terkesan diam. Sehingga tidak heran jika penisata agama terus bermunculan.

Cara menghentikan penista agama hanya dengan penegakkan hukum yang tegas. Memberikan hukuman yang berefek jera kepada pelaku penista agama. Pada masa Daulah Turki Utsmani yang dipimpin oleh Sultan Hamid II, terjadi peristiwa yakni Henri de Bornier membuat pentas drama komedi berisi penghinaan kepada Rasulullah.

Sultan Hamid II menindak tegas peristiwa tersebut dengan mengirim surat kepada Prancis agar melarang pementasan drama tersebut diseluruh Prancis dan memanggil  seluruh duta negara-negara Eropa yang berada di Daulah Kekhilafahan Utsmaniyyah, Sultan datang menemui mereka dengan berpakaian militer sambil menjingjing sepatu lalu dengan penuh wibawa, nada mengancam Ia berkata  ”seandainya Prancis tidak menghentikan tindakannya ( pementasan drama yang menghina Rasulullah), niscaya aku akan kerahkan pasukan Khilafah yang dengannya aku perlakukan mereka seperti sepatu yang ada di tanganku ini. Maka pergilah, semoga Allah SWT menimpakan keburukan pada kalian.”

Dari kisah di atas dapat dijadikan sebuah pelajaran bagi kita, bahwa kita sangat membutuhkan seorang pemimpin yang dapaat melindungi masyarakat dan agama dari para penghina agama. Jika ada seorang Khalifah, para penghina Nabi dan penista agama mendapatkan hukuman mati seperti yang dilakukan oleh para sahabat ketika menghukumi para penghina Nabi dan agama, hal ini dilakukan supaya tidak ada lagi kasus penghin agama dan Rasul.
Wallahu’alambishowab

Oleh: Dahlena Pulungan, S.Pd

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: