Opini

PEMIMPIN DALAM PRESPEKTIF KAPITALIS VS ISLAM

Pemimpin adalah salah satu tonggak berdirinya sebuah negara. Kebangkitan dan kemunduran sebuah negara tidak lepas dari peran seorang pemimpin. Menjadi penentu sistem yang diambil untuk mengatur urusan masyarakat. Dimana penerapan aturan yang diadopsi oleh penguasa akan membentuk pola pikir, sikap dan lingkungan berdasar pada prespektif yang ingin dibuat.

Lalu bagaimana dengan sistem yang mengatur masyarakat muslim hari ini?

Kita lihat bahwa aturan yang mengikat masyarakat muslim adalah aturan buatan manusia. Meskipun mayoritas mereka adalah kaum muslimin yang seharusnya menjadikan aturan Islam sebagai pengatur segala urusan manusia.

Tidak dapat ditampik bahwa kepemimpinan dalam sistem buatan manusia yang bernama kapitalisme dengan turunannya Demokrasi, Nasionalisme, Liberalisme dan lainnya membuat kaum muslimin terpuruk. Negara Indonesia dengan mayoritas muslim, diatur dengan sistem kapitalisme demokrasi memberikan contoh nyata bahwa sistem yang dianutnya telah gagal. Kemiskinan yang semakin bertambah menyengsarakan, pengangguran bertebaran serta kebijakan-kebijakan yang kian mencekik masyarakatnya.

Ini adalah bukti bahwa pemimpin telah salah dalam mengambil aturan untuk mengatur masyarakatnya. Masyarakat telah salah dalam menyerahkan pengaturan mereka kepada seseorang yang tidak mampu mengatur urusan mereka. Lebih memprihatinkan lagi ketika pemimpin bukan lagi mensejahterahkan rakyat  namun justru mengayomi para korporasi dan pemilik modal. Kita bisa melihat saat pandemi, bahwa lockdown merupakan solusi efektif yang pernah diterapkan dalam Islam,  tapi pemimpin ini memilih kebijakan new normal yang justru membahayakan nyawa rakyat. Semata-mata hanya karena ekonomi mengalami keanjlokan yang parah.

Islam memandang bahwa pemimpin adalah seorang penggembala yang akan dimintai pertanggungjawabannya terhadap apa yang ia gembalakan. Karena dalam Islam Allah adalah hakim yang paling agung di jagad raya. Bahwa ketaatan pemimpin dalam mengatur manusia semata karena ketundukkannya pada Allah dengan hukum Islam yang tertuang dalam Alquran dan Assunah.

Karenanya, sebagai negara dengan mayoritas muslim terbesar dengan pemimpin beragama Muslim, kita harusnya menjadikan sistem Islam sebagai pengatur urusan manusia, bukan sistem buatan manusia, semacam kapitalisme dan turunannya. Perlu disadari oleh kaum muslimin bahwa keadaan buruk yang melingkupi mereka karena tidak menjadikan Islam sebagai aturan kehidupan.

Maka, kembalilah kepada aturan Islam yang telah jelas memberikan kesejateraan hingga keseluruh alam dalam bingkai Khilafah sebagai negara dan Khalifah sebagai pemimpin negara. Allah SWT berfirman :

“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman dan beramal salih di antara kalian, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa; akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah Dia ridhai (Islam); dan akan mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan, menjadi aman sentosa.” (TQS an-Nur: 55).

Ulama Ahlus Sunnah yang lain, Ibnu Hajar al-Asqalani, juga menegaskan:

 “Mereka (para ulama) telah berijmak (bersepakat) bahwa wajib mengangkat seorang khalifah dan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal.” (Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bâri, XII/205)

Rasulullah saw., sebagaimana dituturkan oleh Hudzaifah bin al-Yaman, telah bersabda: “…Kemudian akan ada kembali Khilafah ‘ala minhaj an-nubuwah.” (HR Ahmad)
[Wallahu A’lam Bisshowwab]

Oleh : Afra Salsabila Zahra – Aktivis Remaja

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: