Opini

PEMERKOSAAN ANAK KIAN MERAJALELA, DIMANA PERAN NEGARA?

Pemerkosaan atau kekerasan seksual adalah salah satu hal terburuk dan terberat yang dapat dialami manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Selain luka fisik, korban pemerkosaan membawa luka batin yang membutuhkan waktu untuk sembuh.

Menurut Catatan Kekerasan Terhadap Perempuan Tahun 2019 dari Komnas Perempuan, dari 2.341 kasus kekerasan terhadap anak perempuan tahun ini, ada 770 kasus yang merupakan hubungan inses. Angka ini yang paling besar dari kategori lainnya, yakni kekerasan seksual 571 kasus, kekerasan fisik 536 kasus, kekerasan psikis 319 kasus dan kekerasan ekonomi 145 kasus, CNNIndonesia (7/3).

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di Indonesia, pelakunya paling banyak adalah ayah kandung atau ayah tiri korban.

Di lansir dari Kompas.com, Selasa (14/7). Seorang warga Kecamatan Bandar Petalangan, Kabupaten Pelalawan, Riau, ditangkap polisi karena melakukan pemerkosaan terhadap anak di bawah umur. Adapun korban yang dicabuli oleh pelaku adalah anak kandungnya sendiri.

“Pelaku pencabulan anak di bawah umur yang dilakukan Bapak terhadap anak kandungnya, saat ini diamankan di Polsek Bunut untuk pemeriksaan lebih lanjut,” ujar Edy kepada Kompas.com, Selasa (14/7/2020). Dia menyebutkan, berdasarkan hasil pemeriksaan, ternyata korban sudah berulang kali diperkosa oleh ayahnya. Saat ditanya apa sebab pelaku melakukan pencabulan, pelaku mengaku tergiur melihat tubuh anak kandungnya,” sebut Edy.

Bebasnya pergaulan dan lemahnya kesadaran beragama membuat tiap orang bebas melakukan aktifitas kejinya. Jika kita menyempatkan melihat berita di media, banyak kasus kriminal yang berkaitan dengan pemerkosaan tiap harinya, pemerkosaan ayah terhadap anak nya, pencabulan paman terhadap keponakannya dan atau kakek terhadap cucunya. Sungguh miris hati ini melihat kelakuan bejat mereka tambah lagi jika seorang muslim yang melakukannya.

Kasus kekerasan seksual ataupun pemerkosaan yang sedang marak terjadi bisa dikatakan bahwa pemicu perkosaan bisa muncul dari dua belah pihak, baik dari sisi korban maupun datang dari diri pelaku.

Pemicu yang muncul dari korban bisa berupa:

/Pertama/ Penampilan korban, seperti cara berpakaian yang merangsang syahwat; mengenakan perhiasan berlebih.

/Kedua/ Kondisi korban relatif sepi. Kebanyakan kasus perkosaan terjadi di malam hari. Atau bisa juga terjadi di siang hari tapi korban berada di tempat yang sepi atau sendirian di rumah, seperti yang seringkali terjadi pada kasus ayah perkosa anak yang berlangsung ketika ibu nya tidak ada di rumah. /Ketiga/ Terjadi pergaulan yang tidak mengindahkan aturan antara korban dengan pelaku di tempat khusus, seperti tidur satu kamar antara korban dengan pelaku (bisa saudara laki-laki, ayah tiri, bahkan ayah kandung).

Sementara pemicu yang berasal dari pelaku adalah:

/Pertama/ Pelaku dalam kondisi mabuk akibat menenggak minuman keras.

/Kedua/ Pelaku terangsang karena melihat adegan porno baik dari film, iklan, atau tampilan perempuan lain yang merangsang.

/Ketiga/ Pelaku dalam keadaan muncul gejolak syahwatnya tapi tidak bisa memenuhi pada isterinya. Akhirnya melampiaskan seksualnya pada perempuan manapun seperti pada pembantu, anak tiri/anak kandung, tetangga, atau perempuan yang lain.

Mengatasi kasus pemerkosaan seperti yang terjadi saat ini jelas tidak mudah karena membutuhkan peran dari seluruh pihak mulai dari pemerintah sampai setiap individu.

Upaya-upaya yang dilakukan selama ini belum menyentuh akar permasalahannya, lebih terkesan respon reaktif karena gencarnya berita media dan hujatan dari masyarakat. Dari faktor pemicu perkosaan di atas jelas sekali bahwa semua pemicu tersebut tidak muncul dengan sendirinya sehingga solusinya pun tidak bisa diambil secara terpisah.

Keadaan-keadaan di atas baik yang terdapat pada korban maupun pelaku merupakan dampak dari sistem yang sedang diterapkan sekarang yaitu sistem kapilisme-liberalisme. Dalam sistem ini atas nama hak asasi siapapun bebas berperilaku sesuai dengan kehendaknya tanpa dibatasi aturan.

Dalam Islam, Negara wajib menerapkan sistem sosial yang akan menjamin interaksi yang terjadi antara laki-laki dan perempuan berlangsung sesuai ketentuan syariat. Di antara aturan tersebut adalah: perempuan diperintahkan untuk menutup aurat dan menjaga kesopanan, serta menjauhkan mereka dari eksploitasi seksual; larangan berkhalwat; larangan memperlihatkan dan menyebarkan perkataan serta perilaku yagn mengandung erotisme dan kekerasan (pornografi dan pornoaksi) serta akan merangsang bergejolaknya naluri seksual. Ketika sistem sosial Islam diterapkan tidak akan muncul gejolak seksual yang liar memicu kasus pencabulan, perkosaan, serta kekerasan pada anak.

Penerapan Sistem Sanksi, Negara menjatuhkan hukuman tegas terhadap para pelaku kejahatan, termasuk orang-orang yang melakukan kekerasan seksual dan penganiayaan anak. Hukuman yang tegas akan membuat jera orang yang terlanjur terjerumus pada kejahatan dan akan mencegah orang lain melakukan kemaksiatan tersebut.

Semestinya negara bertanggung jawab menghilangkan penyebab utamanya yaitu penerapan ekonomi kapitalis, penyebaran budaya liberal, serta politik demokrasi.

Jadi, upaya apapun yang dilakukan tidak akan memberika jaminan ke amanan yang hakiki bagi perempuan dari tindakan perkosaan selama sistem hukum, sistem sosial dan kemasyarakatan belum dibenahi.

Maka dari itu kita wajib berupaya menerapkan kembali Islam secara kaffah dalam institusi Khilafah karena akan menjadi rahmat bagi semesta alam, anak-anak pun akan tumbuh dan berkembang dalam keamanan dan kenyamanan serta jauh dari bahaya yang mengancam. [Wallahu a’lam]

Oleh : Khoirotiz Zahro V, S.E. (Aktivis Muslimah Surabaya)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: