Opini,  Tema Bebas,  WCR

PEMERINTAHAN YANG EXCEPTIONAL

Kekacauan dalam mengambil kebijakan, plin plan dalam menentukan keputusan, inkonsisten dalam berbuat, berat sebelah menerapkan hukum karena hanya akan memperhitungkan keuntungan semata. Berkuasa sarat kepentingan, bertahta penuh hawa nafsu perkaya diri. Inilah kekuasaan yang bertuhankan materi. Lagi-lagi pandemi ini memperjelas kebobrokan dan kerapuhan sistem buatan manusia. Sudah pasti bukan ini pemerintahan yang exceptional.

Pernah bertahta selama 14 abad, mewarnai dunia dengan segala keagungan dan kemuliaanya. Pemerintahan yang dibagun atas dasar keimanan. Peradaban yang mulia menghantarkan manusia pada derajat tertinggi sebagai seorang hamba Allah. Kenikmatan Islam yang telah diteguk kaum muslim disandingkan dengan lezatnya Iman dalam naungan kalimat “La illaha illa-Llah Muhammad ar-Rasulu-Llah”

Kalimat tertinggi, disaat kalimat-kalimat Allah ini dikumandangkan beramai-ramai makhluk bergabung dalam lingkaran ketaatan, bernaung dalam agama dari Sang Pencipta semesta hingga termanisfestasi dalam sebuah sistem pemerintahan sebagai pengatur kehidupan dengan sumber yang benar, yaitu aqidah Islam. Dasar-dasar itu telah melahirkan sebuah peradaban dengan pemerintahan yang exceptional dan sistem politik yang sangat khas dengan ketendensiusan Islam yakni Khilafah Islamiyah.

Sistem yang dengan rinci mengurai permasalahan. Sistem yang dengan detail mengatur segala urusan umat. Sistem kehidupan yang telah mengangkat manusia keluar dari kezaliman politik, sosial, ekonomi, kesesatan-kesesatan aqidah baik dalam kesesatan pemikiran maupun jiwa-jiwa.

Namun sistem itu kini telah runtuh saat kekuatan politik telah dirampas dari tangan umat hingga kelemahan berlanjut sampai saat negara kaum muslim menjadi bulan-bulanan, menjadi ranah jajahan kaum penjajah. Menjadi tempat meraup financial. Para penjajah menyadari bahwa kekuatan kaum muslim , menjadikan Islam sebagai dasar sistem pemerintahan dalam wujud khilafah yang dipimpin oleh seorang khalifah sebagai pemimpin tertinggi bagi seluruh wilayah kekuasaanya.

Tak mudah mereka meruntuhkan peradaban kokoh dengan Allah sebagai pendukungnya. Keruntuhanya bukan karena kelemahan tetapi karena kemuliaan, ketinggian dan keagunganya ia dihancurkan dengan sederet konspirasi jahat oleh musuh-musuh Allah.

“sungguh akan runtuh simpul Islam, tahap demi tahap… Ketika lepas satu bagian, maka manusia akan berpegang pada yang berikutnya… Dan yang pertama lepas adalah pemerintahan, dan yang terakhir adalah sholat.” (HR. Ahmad)

Ketika institusi itu resmi runtuh pada 3 Maret 1924, kaum muslim kehilangan arah, kian kemari mencari sistem politik yang mampu menyelesaikan problematika hidup. Bertebaran bagai debu-debu tak berarti dan tak tentu arah. Islam hanya dijadikan agama ruhiya belaka tanpa sistem pengurusan hidup.

Namun fajar kebangkitan Islam itu semakin nyata, ketika topeng busuk kapitalis terbuka lebar. Perlahan umat akan menyadari bahwa hidup tak akan pernah normal jika bukan sesuai aturan Allah sebagai pencipta. Bukankah kita Allah yang ciptakan, bahkan udara yang kita hirup untuk bertahan hidup juga berasal dari Allah, lalu atas dasar apa kita menolak aturanNya? Atas dasar apa kita tak berusaha mempelajari ilmu Allah? Atas dasar apa kita memilih-milih hukum yang berasal dariNya? Keangkuhan manusia tiada guna, bahkan diri kita sendiri bukanlah milik kita. Cukuplah kabar gembira yang Rasul sampaikan bagai api yang membakar dengan menggelorakan semangat perjuangan.

“Di tengah-tengah kalian terdapat zaman kenabian, atas izin Allah ia tetap ada. Lalu  Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian. Ia ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya. Kemudian akan ada kekuasaan yang zhalim; ia juga ada dan atas izin Allah ia akan tetap ada. Lalu Dia akan mengangkatnya jika Dia berkehendak mengangkatnya.  Kemudian akan ada kekuasaan diktator yang menyengsarakan; ia juga ada dan atas6 izin Alah akan tetap ada.  Selanjutnya  akan ada kembali Khilafah yang mengikuti manhaj kenabian.” (HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796))

Kabar yang akan mendorong kaum muslim untuk kembali menjadikan Islam dalam mengatur tatanan kehidupan. Berbekal keimanan menjadi pejuang yang menyerukan agar Islam kembali memimpin peradaban. cukuplah janji Allah yang kita yakini bahwa allah akan memberikan keberkahan jika kita bertakwa.

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS. Al a’raf: 96)

Jadilah kaum muslim yang normal, dengan meronta hidup dalam kezaliman, berikhtiar hidup sesuai aturan Allah. [Wallahua’lam bis showab]

Oleh: Fira Faradillah

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: