Opini

PEMBERIAN UTANG OLEH NEGARA PEMILIK MODAL ADALAH JEBAKAN DAN PENJAJAHAN

Mahathir bin Mohamad yang mundur sebagai PM Malaysia pada Februari lalu mengundurkan diri, pernah memberikan peringatan keras bagi negara manapun yang berhutang ke China. Bagi Mahathir, utang dari China adalah jebakan. Saat Mahathir masih menjabat sebagai Perdana Menteri (PM) Malaysia, dia berujar jika tak bisa melunasinya maka negara pengutang akan berada di bawah kontrol China.

Waktu itu Malaysia di bawah kontrol China karena pemerintahan Najib Razak mengambil pinjaman ke Negeri Tirai Bambu namun tak bisa dilunasi malah dikorupsi. Hal ini membuat Mahathir harus pergi jauh-jauh ke Jepang untuk berhutang. Gali lubang tutup lubang, utangan dari Jepang itu untuk melunasi utang Malaysia ke China.

China sedang ‘menjajah’ negara-negara yang lebih kecil dengan meminjamkan sejumlah besar uang yang tidak akan sanggup mereka dibayar. Tahun 2018, bahkan negara ini sudah dituduh memanfaatkan pinjaman besar-besaran agar dapat merebut aset dan membangun pangkalan militer di negara-negara kecil dunia ketiga. Negara-negara berkembang mulai dari Pakistan hingga Djibouti, dari Maladewa hingga Fiji, semua berutang besar ke Cina. (gelora.com.05/06/2020).

Keresahan PM Malaysia terhadap utang luar negeri ke China patut didukung. Warga Malaysia juga sudah pasti khawatir dengan hal tersebut. Sama halnya dengan masyarakat yang ada di Indonesia penuh kekhawatiran dengan jumlah utang terhadap China. Bahkan di seluruh negeri Muslim yang telah menjalin kerjasama utang dengan China. Pernyataan Mahathir bukan isapan jempol belaka. Resiko yang kelak akan ditanggung karena berurusan dengan China sudah terlihat fakta dan buktinya. Bukan sekedar perkiraan.

/Negara Pemilik Modal Adalah Penjajah Berwajah Pahlawan/

Seperti yang disampaikan oleh Mahathir, bahwa  utang yang diberikan oleh China kepada negara-negara berkembang adalah jebakan. Dalam hal tersebut telah terbukti dialami oleh beberapa negara penghutang, seperti Filipina. Negara Filipina yang menunggak utang terhadap China,  dipaksa untuk menyerahkan kendali aset negaranya atau harus mengizinkan China untuk mempunyai pangkalan militer di negara tersebut.

Filipina tidak sendirian, sebab salah satu yang harus menanggung konsesi ini adalah Sri Lanka. Tahun 2017 Sri Lanka menyerahkan pelabuhan ke perusahaan-perusahaan yang dimiliki oleh pemerintah China dengan sewa 99 tahun. Sementara itu, di Djibouti, tempat markas utama militer AS di Afrika, juga tampaknya akan menyerahkan kendali atas pelabuhan ke perusahaan Beijing.

Diplomasi jebakan utang ini bahkan telah meluas hingga ke Pasifik. Beijing membuat pulau pulau buatan manusia di Laut Cina Selatan dan hal itu dikhawatirkan akan digunakan sebagai pangkalan militer. Bahkan, pada April 2018 lalu China mendekati Vanuatu, negara kepulauan di Samudra Pasifik selatan untuk mendirikan pangkalan militer.

The Times juga melaporkan bahwa secara efektif China akan meningkatkan kehadiran militernya di pintu gerbang utama ke pantai timur Australia. Di antara proyek-proyek yang didanai uang ini adalah dermaga terbesar di Pasifik Selatan yang dianggap mampu mengakomodasi kapal induk. Lembaga think tank Lowy Institute Sydney, yang telah memantau secara dekat kegiatan-kegiatan China di Pasifik, memperkirakan Beijing telah menggelontorkan hampir 1,4 miliar poundsterling atau setara dengan Rp 27 Triliun ke negara-negara Pasifik sejak 2006.

Sebenarnya perilaku China tersebut bukanlah semata-mata karena China sebagai negara. Namun karena China sudah mengemban ideologi kapitalisme. Atau sebagian menyebutnya kapitalis Timur. Meski tidak ada pengakuan atau deklarasi induk kapitalisme berpindah dari Amerika ke China. Namun, pengaruh China terhadap dunia hari ini tidak bisa dianggap sepele oleh Amerika. Bahkan kini, Amerika sedang menemukan tanding yang sepadan.

Pemberian utang terhadap negara-negara lain bukanlah perilaku politik China saja. Sebab hal tersebut sudah dahulu dipraktekkan oleh Amerika. Tujuannya untuk menjebak. Sebelumnya, China juga bukan apa-apa. Setelah memulai kegiatan perdagangan dan memberikan pinjaman kepada negara-negara lain mengikuti jejak Amerika, ternyata China jauh lebih meraup keuntungan dibandingkan Amerika. Bahkan China keuangannya dikabarkan sangat stabil dibandingkan Amerika.

China mampu dengan cepat menaklukkan negara-negara berkembang yang sebelumnya hanya tergantung pada utang ke IMF milik kapitalis Barat. Tetapi kini, mayoritas telah beralih ke China. Kebosanan dan kelelahan negara-negara berkembang sebelumnya ditekan oleh IMF, merasa menemukan debitur baru  dengan kehadiran China. Walaupun sebenarnya, baik. Amerika maupun China sama jahatnya. Dan tidak ada yang layak dipiliih untuk dipercaya.

Amerika telah mempraktekkan kekuatan ideologi kapitalismenya sebelum China melakukan hal yang sama. Merampok kekayaan negara-negara yang berhutang, melakukan intervensi politik dalam negerinya, hingga mendikte setiap langkah penguasa di negara yang berhutang. Bahasa kebebasan yang digaungkan Amerika, ternyata hanya berlaku bagi dirinya sahaja dan bukan untuk negara lain. Bebas menjajah, bebas menjebak.

Baik China maupun Amerika adalah negara pemilik dan pemegang kendali keuangan dan perdagangan di dunia yang saling berebut pengaruh terhadap negara-negara berkembang dan lainnya. Jiwa kedua negara kapitalisme ini notabenenya  adalah penjajah. Keduanya selalu melihat peluang dan potensi yang dimiliki negara-negara penghutang apakah mampu memberikan keuntungan financial maupun bargaining position dimata dunia. China tentu juga mempelajari cara merampok ala kapitalisme dari dedengkotnya kapitalis, yaitu Amerika.

Hanya saja, kapitalis Timur atau China karena berhaluan Komunis, jelas sangat mudah bagi Amerika untuk membentuk opini negatif menjatuhkan China. Karena dunia telah mengalami gelapnya hidup di bawah ajaran komunis zaman Hitler dan Darwin. Manusia dianggap hasil evolusi kera yang dengan kata lain mengatakan bahwa manusia berasal dari hewan (terjadi evolusi dari kera menjadi manusia).

Amerika selain merampok SDA negara-negara yang dihutanginya, ia juga menciptakan perang fisik agar produksi dan bisnis senjatanya laku keras. Sumber alam dikuasai, tanah dan kondisi masyarakatnya diihancurkan. Tawarkan solusi bak pahlawan dengan kerjasama militer yang akhirnya terjadi perang tak berkesudahan dan kehancuran bagi negeri tersebut. Sampai hari ini, bukti itu masih ada. Iraq, Afganistan, Palestina dan Suriah adalah dalang dibalik perang kemanusiaan di dunia abad modern ini hasil keserakahan dan penjajahan kapitalisme global.

Hutang dari negara pemilik modal hanyalah modus untuk menjajah dan menindas. Menguasai negara yang berhutang, dan menekannya dengan keras dan licik. Jadi, baik China maupun Amerika tidak perlu dipilih untuk kerjasam apalagi utang. Sebab, utang yang diberikan juga bukan tanpa jaminan atau anggunan. Tak tanggung-tanggung anggunannya sampai menggadaikan tanah negaranya.

/Kesombongan  Kapitalisme Akan Luntur di Hadapan Sistem Islam/

Kapitalisme mengajarkan bahwa kehidupan hanyalah untuk meraih materi sebanyak-banyaknya. Dalam hidup, yang perlu dipertimbangkan atas segala sesuatu adalah manfaat (maslahat). Jika sesuatu itu punya manfaat secara materi, maka layak diambil. Jika tidak, tinggalkan. Jika negara-negara penghutang membawa berkah keuntungan yang melimpah, maka akan diberikan utang bahkan dibujuk hingga dipaksa dengan segala trik liciknya.

China memang lebih memiliki banyak pengalaman dalam dunia perdagangan atau bisnis jauh sebelum Amerika. Jadi, China tentu tidak diragukan lagi kelihaiannya dalam mengendalikan bisnis dan perdagangan. Sementara Amerika, dengan sikap gegabah dan serba instant tanpa memiliki pertimbangan matang-matang, kelak akan membawanya pada kehancuran dan hal itu telah mulai tercium. Banyaknya negara-negara yang beralih ke China membuktikan bahwa taring Amerika mulai tak tajam lagi.

Bukan berarti juga menjadi jaminan kalau China akan menggantikan Amerika sebagai adidaya di muka bumi. Sebab, China tetap lah sebuah negara yang tidak memiliki komitmen ideologi. China mungkin mampu melakukan ekspansi perdagangan. Tetapi China tidak mampu memberikan jawaban kegelisahan manusia ketika mereka lelah dan jenuh mengejar dunia. Sebab China sendiri masih bertahan dengan ateisme.

Kesombongan Amerika mulai merunduk. Ketika menemukan tanding yang sepadan seperti China. Apalagi jika China mendapatkan dukungan dari Israel ke depan. Amerika akan ditinggalkan oleh Israel yang telah puluhan tahun menjadi pemain behind the scene Amerika. Dan sebagian negara Eropa merapat ke China. Tamatlah Amerika. Inggris yang tadinya punya pengaruh besar sebagai sahabat Amerika dalam menyebar kapitalisme ke dunia, juga sedang melemah di mata Uni Eropa. Apalagi pasca keputusan BJ untuk memilih Brexit. United Kingdom will be alone.

Kecongkakan China juga kelak akan berakhir. Mungkin tidak sekarang, tetapi setelah satu ideologi kuat itu muncul. Ideologi yang bukan tandingannya. Ideologi yang mampu memberikan solusi terhadap permasalahan manusia. Baik yang bersifat jasmani maupun naluri. Ideologi yang manusiawi dan memanusiakan manusia. Itulah Islam. Sudah hadir dalam diri pemeluknya, namun belum ditancapkan oleh satu negara.

Kelak, saat ideologi itu tertancap di negeri muslim, disaat itulah ideologi Kapitalis China dan Amerika akan selalu tertunduk dan bertekuk lutut. Bisa saja keduanya tetap eksis di bumi ini. Namun jelas, tidak akan mampu meyaingi Islam karena Islam adalah rahmat Sang Pencipta dan Pengatur alam semesta beserta kehidupan ini.

Gaung kebangkitan Islam semakin menggelinding. Manusiapun sudah siap menyambut alternatif ideologi. Sebab, ideologi Islam yang berisi aturan Allah SWT, jelas tidak akan ada yang mampu menandinginya termasuk Barat kapitalis. Islam adalah agama wahyu. Ideologi sempurna dan paripurna.

Jadi, jika Amerika sekarang melemah, China percaya akan berkuaasa, kenapa ummat Islam tidak berani bersuara untuk kebangkitan Islam? Saatnya menunjukkan identitas politik kaum muslim kepada dunia  sebagai pemilik ideologi yang shahih dan penguasa di muka bumi yang memberikan kemajuan dan kemerdekaan hakiki. [Wallahu a’lam bissawab]

Oleh: Nahdoh Fikriyyah Islam/ Dosen Dan Pengamatan Politik

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: