NulisPedia

Nulis Seri 3.0 ” WHO ARE YOU?”

Selalu ditunggu. Tak pernah ragu atau tabu. Rabu, 16 September 2020, kembali BIG EVENT CRE4NATION hadir, kali ini masuk ke edisi 3.0.  Alhamdulillah bisa terlaksana lancar tanpa hambatan yang berarti . Dihadiri sekitar 55 orang.

Di awal acara kembali owner Creator Nulis, Hanif Kristianto memperkenalkan diri, sebab beliau yakin, peserta malam ini random, antara yang sudah rutin ikut CREANATION dari edisi awal hingga yang baru bergabung di edisi ke-3 ini. Diantaranya beliau mengaku anti linier sebagaimana kebanyakan masyarakat Indonesia, yang tidak sesuai jurusan, ” menyimpang”. Jurusan bahasa Jepang namun menjadi jurnalistik dan sekarang menekuni dunia periklanan.

Pembahasan Nulis Seri 3.0  fokus ke materi WHO. Apa saja WHO itu? Ternyata adalah Siapa kamu ( who are you), siapa saya (who am I) , apa kompetensimu (what is your competence) dan apa komunitasmu (what your Comunity).

Who Are You ( siapa kamu), seringkali pemateri menanyakan dan memberi tugas di kelas Habits atau dasar dengan pertanyaan ini,  kita adalah makhluk maka pertanyaannya adalah siapa kita, untuk apa hidup dan kemana setelah hidup.

“Bagi penulis ini penting, sebab sering penulis ini menulis tidak pada kompetensinya. Bukan karena tidak bisa menulis, hanya tidak sesuai kompetensi saja,” ungkap Hanif.

Hingga  sering masuk chat kepada beliau yang menanyakan  mengapa saya mandeg atau  stagnan. Maunya menulis politik di awal namun berubah, nulis cerita dari pagi hingga malam tidak selesai-selesai?

“Butuh komunitas, di Creator Nulis hal ini menjadi wadah. Dan ini menjadi jawaban dari pertanyaan,” Bagaimana bisa Istiqomah menulis?” Maka bergabung dalam sebuah komunitas menjadi keharusan.  Sebab di dalamnya tidak sekedar ada ilmu yang didapat tapi juga saling menyemangati,” tuturnya.

Tambahnya bahwa “Ibarat orang berlari, butuh lawan untuk membuat kegiatan berlari lebih seru. Menulispun demikian, dengan saling bersaing otomatis saling memotivasi, maka akan muncul passion ( kecenderungan) menulis bahan apa.”

Di Creator Nulis mewadahi semua komunitas, sebab tidak ada keharusan untuk membawa nama Creator Nulis setiap kali berkarya. Bawalah nama diri sendiri atau lembaga jika ada.

Kemudian terkait Passion (bukan racun) celetuk pemateri, maka harus dipetakan secara umum. Dicontohkan ketika dalam sebuah team, ada pembagian tugas menulis dari ketua kepada anak buah, tidak bisa asal memberikan tugas opini, padahal passionnya bukan di situ. Pemateri pernah di kelas mengoreksi Habits cerita,” kog cerita rasa opini?”. Sebab jika kelas cerita, maka opini tadi bisa ditambah dengan percakapan atau peristiwa misalnya. Opini bisa diselipkan, sehingga ceritanya yang lebih dominan.

“Sebab sebenarnya orang lebih suka membaca cerita daripada opini, cerita lebih unik. Setelah ini selesai kelas ada muhasabah, siapa saya, apa cita-cita terbesar anda di kelas Habits? Menulis itu skill, sama seperti sikil (kaki =Jawa) buat berjalan,” tandas Hanif.

Menulis sebagaimana sekolah vokasi di Sekolah Menengah Kejuruan Atas ( SMEA) maka harus terus menulis. Dan itu yang ada di kelas Habits. Sebab menulis bukan bakat maka apa pekerjaan  penulis? Ya tentu menulis, maka untuk pemula di kelas Habits sebaiknya ambil free writing (menulis bebas) 10-15 menit, beliau mencontohkan ketika hendak mengisi konten, maka disusun di kalender konten, diberi caption agar bisa setiap hari nulis. Itu untuk melatih agar rajin menulis.

Bisa jadi ini adalah hal baru, supaya kita tahu ada diposisi yang mana, di level mana? Sebetulnya semua bisa menulis, namun pemateri yang juga  lulusan bahasa Jepang ini membaginya dalam empat level yaitu :

/Pertama/ Inconsius incompeten, tidak sadar kalau tidak kompeten. Misal ingin menulis politik namun kog tidak bisa, ya ternyata karena tidak memiliki kompetensi menulis politik.

/Kedua/ Consius Incompeten, sadar bahwa tidak kompeten. Maka pada level ini ketika ia ditawari menulis yang bukan pada bidang kompetisinya ia akan menolak dan kemudian berinisiatf menimba ilmu terlebih dahulu.

/Ketiga/ Consius Competen, kompeten lalu berpikir saat melakukannya. Ini terjadi pada orang yang sudah  biasa melakukan namun lama tidak menulis karena sesuatu, untuk kembali menulis ia  butuh waktu lama untuk bisa menulis lagi. Namun tak diragukan ia mampu menulis.

/Keempat/ Unconsius UnCompeten , menulis tanpa berpikir, ini disebut exelent, Beliau mencontohkan Refly Harun, salah satu konten kreator politik di negeri ini. Ketika disodori berita hari itu (live streaming di YouTube) ia akan langsung bisa membuat opini tanpa perlu banyak baca berita lagi,  jika sudah terbiasa membaca berita maka tidak tergopoh-gopoh lagi ketika harus menyikapi berita, Nah, teman-teman ada di level yang mana?

Untuk mengetahui siapa kita, kemudian kompetensi apa yang kita miliki, maka pemateri telah memiliki planning untuk kelas baru yaitu ” Branding Personal Writer?  Kapan? Tunggu saatnya!

Perlu diketahui, branding itu tidak sekedar nama, misalnya Bu Chusna, Lingkar Studi dan Peradaban. Pemilihan brandingnya tidak sekedar terlihat keren. Akan membingungkan jika ia menyematkan pengamat politik namun yang ia bahas pendidikan atau ekonomi, artinya ia tak kompeten.

Intinya penggunaan branding  harus yang unik dan sangat penting untuk menunjukkan branding kita yang artinya juga menunjukkan kesesuaian dengan kompetensi kita. Maka akan lebih baik dengan memakai nama lembaga, kata peradaban misalnya, memiliki makna  lebih luas dibanding dengan pengamat politik. Peradaban lebih luas, bisa bahas apa saja tidak terpaku kepada politik.

Pada dasarnya seseorang tidak bisa fokus pada dua hal, maka perlu ada pemberian wawasan Branding Personal Writer agar gak asal nulis atau nulis asal. Terutama yang memiliki amanah koordinator kepenulisan. Agar orang tahu siapa kita, sehingga perlu ada penamaan khusus. Sebagaimana kita membeli produk, ada buah apel atau gambar Apel krowak ( Apple).

Acara dilanjut ke sesi tanya jawab dan jelas sebagaian besar pertanyaan berputar pada motivasi konsisten menulis dan branding, makin penasaran bukan? Tunggu di CRE4NATION 4.0, yang pasti akan lebih menarik dan legit. Salam wani nulis!

Oleh : Rut Sri Wahyuningsih

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: