NulisPedia

NIKAH BUKAN ROMANTISME BELAKA!

Lagi-lagi bahas nikah. Pembahasan yang tak pernah habisnya. Pada langsung melek alias gercep (gerak cepat) kalau judulnya udah begini. Ada persepsi yang harus diluruskan, karena menikah tak melulu tentang romantisme yang indah dan hidup bahagia selamanya. Apalagi jika menjadikan sinetron dan drama sebagai referensi untuk menentukan kriteria.

Padahal seharusnya menikah butuh ilmu dan kesiapan mental yang kaya akan rambu-rambu sesuai arahan Sang Pencipta. Nah, banyak kita lalai disini. Terlupa karena angan-angan yang sudah melalang buana. Salah satu masalahnya terlupa akan tujuan menikah apa? Hanya pembuktian bahwa udah gak jomblo lagi? atau agar tidak dibully ketika lebaran tiba? Semoga tidak ya!

Mengutip nasehat bagus dari Channel youtube ust. Felix Siauw, bahwa menikah itu berawal dari persepsi atau cara pandang kita terhadap pernikahan itu sendiri. Artinya, bagaimana persepsi itu bisa didapat? Jawabanya dari informasi-informasi yang kita ambil dan terima. Baik bacaan, tontonan, ataupun lingkungan. Semua dapat mempengaruhi persepsi kita. Jika kita sering baca novel cinta yang happy ending, atau nonton drama dengan alur cerita bak cinderella. Apa yang akan terjadi? Tentu kita akan mengkhayal punya kisah seindah itu. Pas kejadian gak seindah itu. nangis bombay hingga update status alay, Astaghfirullah. Ini pertanda persepsi kita sudah tercampuri dengan romansa klise kapitalis.

Hati-hati guys dalam memilih bacaan, tontonan dan lingkungan kita karena itu akan menjadi mindset (pola pikir) kita yang akan mempengaruhi tingkah laku kita.

Tentu sangat berbeda jika kita baca buku Islam, memahami tentang apa saja persiapan untuk menikah, syarat-syarat utama dan seterusnya. Bergaul dengan orang-orang yang terarah cara pandangnya. Juga menonton atau mengikuti kajian yang mengarahkan pada hal-hal hukum syara’. Hasilnya tentu lebih realistis, jelas, dan terarah. Ketika ada masalah tidak akan di share pada sosmed atau orang banyak karena tentu akan dicari solusi untuk menyelesaikannya.

Sebagai seorang muslim yang percaya terhadap hari akhir, tahu betul bahwa dunia hanya tempat persinggahan, tau bahwa dunia hanya setetes kenikmatan. Tentulah fokusnya bukan romansa semu saja. Harusnya mempersiapkan diri untuk membawa bekal yang banyak. Paham bahwa menikah itu adalah ibadah terlama, maksimalkan meraup pahala sebanyak-banyaknya. Jangan sampai, sudah menikah malah lupa dan pongah. Hingga jatuh dan semakin jauh dariNya. Selalulah ingat, bahwa dunia ini sementara dan akhirat tempat berpulang.

Tulisan ini sebagai pengingat buat kita yang akan menikah dan yang sudah menikah. Yuk saling berbenah. [Wallahu’alam]

Oleh: Monalisa Limbong

0Shares

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: