Opini

NEW NORMAL,KEBIJAKAN PREMATUR ALA KAPITALIS

Pemerintah RI mulai memikirkan kebijakan untuk tatanan hidup di tengah pandemi covid-19 yang kemudian saat ini dikenal dengan istilah normal baru (The New Normal). Terkait hal ini, Menteri Kesehatan telah menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/ Menkes/ 328/ 2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi’ (CNNindonesia). Hal inipun menimbulkan respon yang bermacam dari masyarakat. Lalu tepatkah penerapan New Normal di negeri ini disaat kurva kasus covid-19 semakin menanjak tinggi?

/Pertama/ jika melihat dari kondisi negeri, wacana tentang penerapan new normal nampaknya menjadi kebijakan yang prematur. Bagaimana tidak, jika melihat data penambahan kasus positif setiap harinya, secara nasional kurva Indonesia masih sangat fluktuatif dan jauh dari kata melandai. Kebijakan ini muncul di tengah kasus positif yang hingga hari ini menembus angka 23.851 dan kasus kematian yang mencapaiangka 1.473.

/Kedua/ berbeda dengan beberapa negara yang telah mengalami fase penurunan kasus covid-19, Indonesia justru masih naik-naik kepuncak gunung. Faktanya, negeri ini belum sepenuhnya siap menghadapi keadaan new normal. Belum tampak persiapan yang matang dari petinggi negeri dan kebijakan ini akan cenderung menjadi kebijakan prematur seperti sebelum-sebelumnya. Tentu saja hal ini semakin membuat rakyat khawatir dan menanti kebijakan serius yang berpihak pada keselamatan rakyat. Jangan hanya karena semata-mata ingin mengikuti jejak negara lain yang telah mulai menerapkan new normal, menjadikan pemerintah ikut-ikutan dan tidak mempertimbangkan aspek keselamatan dan keamanan rakyat.

/Ketiga/ negeri ini pun masih tertatih jika penerapan new normal diberlakukan. Dikarenakan angka infeksi akibat transmisi lokal semakin tak terkendali bahkan banyak tenaga kesehatan yang gugur di medan peperangan melawan covid-19. Setiap hari terjadi peningkatan jumlah fasilitas kesehatan yang harus di tutup sementara dan tidak menerima pelayanan akibat para tenaga kesehatan yang bertugas hasil tesnya reaktif bahkan harus diisolasi karena terpapar covid-19. Jika hal ini terus dibiarkan tentu lagi-lagi tenaga medis yang harus menanggung dan sekaligus menjadi korban akibat penerapan kebijakan yang cenderung dipaksakan.

Di sisi lain, dengan adanya wacana penerapan new normal bukan berarti pemerintah bisa berlepas tangan dalam menjamin penghidupan masyarakat. Pemenuhan kebutuhan rakyat ialah kewajiban para penguasa yang seharusnya benar-benar menjadi pelayan rakyat di segala kondisi. Namun apa yang terlihat saat ini justru bertolak belakang. Rakyat diminta untuk bertahan hidup sendiri tanpa adanya uluran tangan secara penuh dari pemerintah.

Lantas munculnya kebijakan yang premature dan tak berpihak pada rakyat ini terjadi diakibatkan karena penguasa yang menjadikan asas kapitalis-sekuler menjadi dasar dalam mengambil dan membuat kebijakan. Sekulerisme membuat penguasa mengacuhkan hukum syara’ dan melupakan bahwa di sisi Allah, hilangnya nyawa seorang muslim lebih besar perkaranya dari pada hilangnya dunia. Adapun kapitalisme menjadikan materi satu-satunya yang menjadi perhatian penguasa. Maka wajar jika kebijakan yang dikeluarkan justru berputar pada aspek untung dan rugi semata, bukan berpihak pada aspek keamanan dan keselamatan rakyat, baik itu tenaga medis ataupun masyarakat pada umumnya.

Maka definisi new normal yang seharusnya itu justru ketika kita beralih pada sistem yang sudah terbukti mewujudkan pengelolaan yang tepat pada problematika kehidupan yang tidak lain dan tidak bukan hanyalah dengan sistem Islam. New normal versi Islam, bukan versi kapitalis ataupun sekuler. Hidup normal dengan periayahan negara secara total hanya dapat mampu diwujudkan dalam bingkai penerapan Islam di seluruh lini kehidupan. Hal ini telah diwariskan sejak 13 abad yang lalu oleh pemimpin panutan dunia, Sang Uswatun Hasanah Rasulullah SAW.

Banyak tokoh sejarah dan politik dunia yang mengagumi kepemimpinan Rasulullah dibawah naungan Islam. Salah satunya yakni George Bernard Shaw (1936), ia mengatakan bahwa, “Muhammad merupakan sosok yang mampu menghadirkan solusi bagi masalah-masalah yang dialami manusia modern melalui ajaran Islam yang ia bawa”. Kesempurnaan ini tentu tidak ditemukan pada kebanyakan pemimpin lain di dunia. Bahkan ia berani mengatakan, jika ada satu agama yang pada 100 tahun akan datang mampu menaklukkan Eropa, agama tersebut ialah Islam yang dibawa Rasulullah SAW. Tentu saja sosok penguasa ataupun pemimpin seperti Rasulullah tidak lahir dari rahim kapitalis, melainkan lahir dari sistem agung yang bernama Islam. Sistem yang mampu mengatasi segala problematika rakyat hinggake akar. Maka dalam kondisi pandemi ini seharusnya menjadi momen yang tepat kembali menyadarkan umat dan membakar api semangat untuk kembali menyongsong peradaban yang pernah menjadi mercusuar dunia selama 13 abad. Tak ada solusi cemerlang selain Islam. Lantas tidak rindukah kita dengan sistem yang mampu mewujudkan newnormal? Yang tentu saja bukan hanya mampu menjaga jiwa dan keselamatan rakyat, tapi juga mampu mendatangkan rahmat dan berkah-Nya karena menerapkan syariat Islam. Wallaahua’lam.

Oleh :Vikhabie Yolanda Muslim, S.Tr.Keb

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: