Opini

NEW NORMAL YANG SALAH KAPRAH?

Diberlakukanya new normal di beberapa wilayah Indonesia, berbarengan dengan munculnya protokol kesehatan untuk tetap produktif di tengah pandemi. Meskipun kurvanya belum menunjukkan penurunan secara nasional. Dilansir dari kompas.com ( 09/06/2020) update data terbaru terjadi penambahan 1.043 kasus Covid di Indonesia, artinya total kasus kini 33.076, ada penambahan kesembuhan dan juga kabar duka dengan adanya kabar meninggal dunia, hal ini diungkap oleh Achmad Yurianto selaku juru bicara pemerintah dalam penanganan Covid-19.  

Berdasarkan akun instagram presiden @jokowi tertulis bahwa “Pandemi covid-19 ini juga membuat kita perlu lebih memperhatikan soal data. Untuk itulah manajemen satu data kita perbaiki agar nantinya, semua perkembangan mengenai Covid-19 dapat dilaporkan secara real time dari laboratorium atau dari gugus tugas yang ada di daerah masing-masing. Dengan begitu, dalam pengambilan keputusan, kebijakan yang kita keluarkan bisa lebih tepat dan akurat.”

Ya, meski sudah dilakukan pemetaan dengan kategori zona hijau, kuning, merah bahkan hitam, apakah ada jaminan tak ada yang saling berkunjung? Lalu tepat dan akuratkah kebijakan new normal yang diambil saat kurva positif terus naik? Akurat dan tepat untuk siapa kebijakan ini?

Kebijakan new normal atau kehidupan normal baru merubah kebiasaan kita dengan kebiasaan yang berbeda dengan yang dilakukan sesaat sebelum pandemi. Demi berputarnya roda perekonomian, penerapan protokol keselamatan diberlakukan, seperti di toko ritel, transportasi, mall, tempat objek wisata dan lain sebagainya. Kewajiban pakai masker, jaga jarak aman, mencuci tangan, pakai handsanitazer dan physical distancing terus dikumandangkan pemerintah untuk tetap aman saat beraktivitas.

Bukan sekedar hebat dan cemerlangnya ide dan protokol kesehatan saat new normal yang menjadi perhatian khusus, tapi apakah efektif, tepat dan akurat kebijakan ini diambil? Tak ada jaminan publik menjalankan semua protokol dengan benar?

Setelah protokol ada, sebar di media sosial, press conference, surati semua moda transportasi, penyedia barang dan jasa, sampai pada pemerintahan daerah. Apakah dengan adanya protokol semua akan kelar? Udah turun lapangan? Udah rasakan satu persatu dilema dan ketakutan ibu-ibu jika sekolah dibuka? New normal membuat semua penyedia barang dan jasa dibuka, tak ada jaminan mereka semua dan pembeli ikuti protokol yang ada, walau hanya sekedar pakai masker?

Feel penguasa dan rakyat itu seperti ada pembatas, rasa saling peduli bagai terkikis. Karena mereka selalu dibuat bingung dengan kebijakan-kebijakan yang ada, hati mereka sering terluka dengan kenaikan ini itu selama pandemi. Jangan-jangan penguasa gagal paham dengan psikologi publik karena hanya paham dengan  administrasi dan publikasi. Hanya peduli grafik, data tapi abai dengan realita.

Begitu beratkah jika mengambil kebijakan lockdown, pandemik ini di Indonesia sudah memasuki bulan keempat. Tak ada  perubahan apapun selain jeritan dari rakyat kecil kian nyaring. Apakah penguasa tak tau betapa efektifnya lockdown? Apa yang mereka khawatirkan jika kebijakan ini diambil. Apa tidak bisa belajar dari negara-negara lain? Berdasarkan kutipan dari Aljazair.com (9/06/2020) berdasarkan hasil study, Lockdown mencegah kematian lebih dari tiga juta jiwa di 11 negara, Eropa menjadi salah satu contoh signifikan negara yang menekan angka kematian dengan kebijakan lockdown. Hanya lockdown yang paling efektif untuk memutus rantai penyebaran virus, sebagaimana yang juga telah dilakukan pemimpin-pemimpin terdahulu dalam negara Islam.

New normal yang salah kaprah jika kekhawatiran publik hilang pada bahaya corona saat kurva positif terus naik. Pada akhirnya rakyat benar-benar dipaksa berdamai dengan corona saat nyawa menjadi taruhanya. [Wallahua’lam bis showab]

Oleh: Fira Faradillah

0Shares

Satu Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: