Opini

NEW NORMAL LIFE, APAKAH BENAR-BENAR HIDUP NORMAL?

Sejak pandemi global Covid-19 merebak semua pihak berjibaku untuk melakukan perlawanan terhadap virus Corona tersebut. Pandemi ini diduga akan menyebabkan tatanan kehidupan baru atau yang kita kenal dengan istilah New Normal Life. Menurut Ketua Tim Gugus Tugas Covid-19, Wiku Adisasmita, New Normal adalah sebuah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penularan Covid-19. Hal ini akan dilakukan sampai obat atau vaksin untuk Covid-19 ditemukan.

WHO sebagai organisasi kesehatan dunia telah menetapkan syarat untuk memberlakukan New Normal Life. Syarat tersebut meliputi,kemampuan mengendalikan penularan. Sistem kesehatan yang mampu mendeteksi, mengecek, mengisolasi serta melacak kasus positif. Meminimalisasi resiko wabah khususnya untuk fasilitas kesehatan dan panti jompo. Lokasi penting (sekolah, kantor) telah menerapkan upaya pencegahan. Komunitas masyarakat sudah teredukasi untuk menjalani New Normal Life. Syarat terakhir adalah penanganan kasus impor.

Jika melihat syarat dari WHO sebenarnya Indonesia belum bisa menerapkan New Normal Life, karena angka penularan masih tinggi, bahkan belum mencapai puncaknya. Lalu mengapa konsep New Normal Life tetap di wacanakan? Seperti yang kita ketahui pendemi Covid-19 telah melemahkan semua sendi kehidupan, termasuk sektor ekonomi. Banyak pakar memprediksi  dampak dari Covid-19 akan menimbulkan resesi yang lebih parah dari tahun 1998.

Maka perlu langkah- langkah untuk segera memulihkan kondisi perekonomian, sehingga opsi New Normal Life menjadi pilihan. Lalu bagaimana kita harus meyikapi New Normal Life sementara pandemi masih mengintai? Satu hal yang harus kita pahami New Normal bukan berarti tanda kemenangan melawan Covid-19, sehingga kita harus tetap menerapkan protokol kesehatan dalam aktivitas sehari-hari. Rajin mencuci tangan dengan sabun, tertib memakai masker, menjaga daya tahan tubuh, karena sejatinya virus akan mudah menyerang ketika daya tahan tubuh kita lemah. Kita juga tidak boleh terlalu paranoid yang justru akan meningkatkan kadar stress dan berdampak melemahnya sistem imun dalam tubuh kita.

Lalu bagaimana konsep New Normal Life dalam pandangan Islam?

Ada beberapa hal yang harus kita perhatikan sebelum mengambil keputusan yang berkaitan dengan perkara yang menyangkut masyarakat. Pertama, memperhatikan asas kausalitas (sebab-akibat). Kedua, memperhatikan pendapat para ahli yang kompeten, memperhatikan kemudharatan yang akan timbul serta menanamkan sikap tawakal.

Setiap muslim diperintahkan untuk memahami hukum suatu perkara dan meminta pendapat para ahli sebelum menerapkan suatu kebijakan. Ini seperti yang di contohkan oleh Rasulullah saw. ketika minta pendapat sahabat Khubab, saat menentukan markas kaum muslimin ketika perang Badar, hal ini dilakukan untuk menjaga keselamatan kaum muslimin.

Islam juga melarang seorang muslim melakukan sesuatu yang mendatangkan bahaya kepada diri sendiri maupun orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah yang artinya ” Tidak boleh ada bahaya dan menimbulkan bahaya”

Merujuk dari hal di atas maka sudah selayaknya kita memperhatikan serta mempertimbangkan pendapat para ahli medis, epidemiolog, serta orang yang kompeten dalam bidangnya, sebelum menerapkanĀ  konsep New Normal Life. Fokus pada penanganan pandemi, seperti melakukan riset untuk menemukan obat dan vaksin, sehingga bisa segera berakhir, dan kondisi benar-benar kembali normal. [Wallahua’lam bis showab]

Oleh: Sri Purwanti, Amd. KL (Pegiat literasi, Founder RumBa Cahaya Ilmu)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: