NulisPedia,  Opini

MUDIK DAN PULANG KAMPUNG JADI KONTROVERSI

Beberapa waktu yang lalu masyarakat Indonesia dihebohkan dengan pernyaatan viral pejabat terkait dibolehkannya pulang kampung dan pelarangan mudik. Sebuahacara disalah satu stasiun televisi swasta, Najwa Shibab selaku host mempertanyakan terkait data yang dikeluarkan oleh Kemenhub bahwa hampir satu juta orang curi start mudik di tengah penyebaran korban Covid-19 makin meningkat.

Dikutip dari www.cnnindonesia.com,”Kalau itu bukan mudik, itu pulang kampung. Yang bekerja di Jabodetabek, di sini, tidak ada pekerjaan, mereka pulang,” jawab Presiden Jokowi (22/04/2020).

Sontak pernyataan ini membuat geger media sosial. Bukan itu saja, bahkan pernyataan tersebut menjadi trending topik di jagad maya. Pernyataan ini disampaikan setelah rapat terbatas di mana pemerintah resmi melarang mudik dan akan memberi sanksi bagi yang nekat, pernyataan ini pun membuat bingung masyarakat.

Pernyataan berbeda datang dari Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi. Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan pemerintah tidak melarang masyarakat melaksanakan mudik tahun ini, hanya saja, untuk mencegah penularan virus Korona, Luhut meminta kesadaran masyarakat untuk tak pulang ke kampung halaman. Dilangsir dari detik.com “Pemerintah dan seluruh tokoh masyarakat mengimbau atas dasar kesadaran bersama agar masyarakat tidak melaksanakan mudik tahun ini,” ujar Luhut usai mengikuti rapat terbatas bersama Presiden Jokowi.

Di tengah wabah pandemi yang belum juga usai, para perantau memilih pulang kampung karena tak mampu bertahan di rantau lantaran sulitnya ekonomi. Dibolehkannya pulang kampung dan dilarangnya mudik tentu berpotensi semakin mendorong masyarakat tersebut untuk tetap nekad pulang kampung. Jika ini memang benar terjadi bukankah hal itu  akan menjadikan penerapan PSBB sia-sia? Hal ini karena sekalipun diterapkan pembatasan sosial, namun pemutusan mata rantai virus corona akan sulit dilakukan ketika mobilitas masyarakat belum dibatasi secara total.

Sejak kemunculan pandemi virus Covid-19 di Wuhan bahkan setelah menyebar keseluruh dunia. Pemerintah dinilai kurang menangani dan mempersiapkan segala kemungkinan agar virus korona ini tidak menyebar. Sayangnya hal ini di anggap sesuatu yang sepele dan terkesan diremehkan. Ada yang mengatakan bahwa Indonesia kebal virus karena iklim yang tropis, nasi kucing adalah salah satu penangkal virus.

Selain itu  masalah kekurangan APD bagi para tenaga medis. Demi dedikasi dan sumpah profesi membuat para tenaga medis harus mengambil risiko tinggi dengan hanya memakai jas hujan sebagai APD seadanya.

Kebijaksanaan yang direkomendasikan oleh WHO agar diberlakukan lockdown guna menekan penyebaran virus. Meski di Indonesia pun ada UU yang mengaturnya, yaitu Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan. Namun, saran ini ditolak tegas karena pertimbangan ekonomi. Berselang beberapa waktu, muncullah istilah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang diklaim pemerintah bisa menekan laju penyebaran Covid-19.

Pada hari ini, pemerintahan mengambil kebijakan pelarangan mudik yang membuat heboh masyarakat. kebijakan bertahap dan bertingkat yang diklaim sebagai langkah strategis padahal penyebaran dan korban semakin menggurita.

Oleh karena itu sangat di butuhkan ketegasan dari seorang pemimpin dalam mengambil kebijakan atau keputusan terlebih dalam mengatasi wabah ini. Dalam Islam digambarkan bagaimana ketegasan seorang pemimpin. Sebab ia memutuskan segala sesuatu bukan atas dasar hawa nafsunya melainkan mengambil keputusan berdasarkan kitabullah dan sunnah Rasul-Nya. Ketegasan karna berpegang pada kitabullah dan sunnah adalah jalan selamat yang takkan pernah berubah melainkan akan menghadirkan keberkahan di tengah-tengah kita. Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

 “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (Qs. Al-A’raf: 96)

Pemimpin yang tegas itu merupakan cerminan dari ketaatan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, yaitu syariat Islam. Semoga pandemi ini segera berlalu. Bulan Ramadan yang mulia ini mampu mendorong kita untuk semakin meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

Wallahua’lam bisshawab

Oleh: Enni Etika Mardia, S.Pd

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: