Opini,  Problematika Umat

MILLENIAL AMBYAR JADI SADAR

Siapa nih yang tidak kenal istilah ambyar? Pastinya kenal banget kan! Bahkan sering kita ucapkan bisa jadi. Nah, ambyar sendiri itu apa sih? Menurut KKBI, kata ‘ambyar’ berarti ‘bercerai-berai’, ‘berpisah-pisah’ dan ‘tidak terkonsentrasi lagi’. Nah bagi yang merasa sedang ambyar hidupnya, maka merasa hidupnya bercerai-berai tak bertujuan, tidak konsentrasi dalam menapaki kehidupan, betul tidak?

Nah, kira-kira kenapa seseorang bisa merasa ambyar hidupnya? Ternyata, merasa hidup ini ambyar bisa saja terjadi pada manusia dan merupakan hal yang wajar. Manusia diberikan Allah akal, panca indra, informasi sebelumnya, fakta-fakta yang ada di sekitar kita gunanya untuk menjadikan kita berfikir. Wajar jika kadang kita mengalami kesalahan dalam berfikir, namanya juga manusia, tempat salah dan lupa.

Namun, kesalahan dan kekurangan ini tidak boleh diratapi dan dibiarkan terus-menerus, yang ada hidup semakin ambyar, rusak bahkan bisa terjerumus dalam maksiat. Naudzubillahimindzaalik. So, biar hidup yang ambyar bisa jadi sadar dan membawa pada hidup yang bermakna, kita perlu menjawab tiga kunci dasar kehidupan manusia.

Kunci pertama, kita harus tahu dari manakah kita berasal? Adakah yang menciptakan kita? Karena jika kita gagalm menjawab dengan benar pertanyaan pertama ini, maka akan tersesat jalan kita. Jika kita mengatakan bahwa manusia tidak ada yang menciptakan, percayakah kita?

Sederhananya, ketika kita melihat buku, tas, sepatu, atau barang-barang lain yang kita miliki, adakah itu muncul atau tercipta sendiri? Sudah pasti itu mustahil, pasti ada seseorang yang menciptakan hal itu. Bagaimana dengan manusia yang begitu kompleks dan rumit strukturnya, alam semesta yang tak terhingga luasnya, kehidupan yang terjadi saat ini, adakah terjadi dengan sendirinya? Sungguh hal yang irrasional jika semua kesempurnaan di dunia ini tiba-tiba ada tanpa ada yang menciptakan. Maka pastilah semua ini ada yang menciptakan, yaitu Allah SWT.

Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan?” “Dan langit, bagaimana ia ditinggikan?” “Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?” “Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (Qs. Al Ghosyihah : 17-20)

Jika kita sudah yakin bahwa Allah yang menciptakan kita, lantas kunci yang perlu kita jawab selanjutnya adalah, untuk apa Allah menciptakan kita? Apakah Allah hanya sekedar main-main menciptakan manusia ataukah ada tujuan tertentu. Kita dapati jawabannya terdapat pada surat:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.(QS. Adz Dzariyat: 56)

Ketika manusia diperintahkan beribadah kepada Allah, hal ini berarti segala perbuatan manusia harus bertujuan untuk ibadah, yaitu ikhlas lillahi ta’ala dan dilakukan sesuai dengan aturan Islam. Ibadah bukan hanya menyangkut masalah spiritual semata seperti sholat, zakat, puasa, haji, dan sedekah. Lebih dalam luas lagi, ibadah juga berkaitan dengan bagaimana pendidikan, kesehatan, perekonomian, peradilan, dan pemerintahan dilakukan dengan aturan Islam.

Kunci ketiga, kita juga harus menjawab pertanyaan selanjutnya yaitu akan kemana manusia setelah kehidupan dunia ini? Islam memberikan jawaban yang pasti yaitu kembali kepada Allah.

“Dan kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan kepada Allah-lah kembali (semua makhluk).(QS. An-Nuur: 42)

Sehingga manusia dalam menjalankan aktivitasnya akan senantiasa mengingat Allah, karena tahu bahwa dia diciptakan oleh Allah, harus tunduk kepada Allah selama kehidupan, dan kembali kepada Allah setelah kehidupannya berakhir.

Manusia akan berupaya semaksimal mungkin untuk menghindari dan meninggalkan segala yang dilarang oleh Allah. Pemahaman seperti inilah yang menjadikan manusia memiliki pegangan hidup dan terhindar dari kehidupan yang ambyar. Sehingga menjadikan manusia sadar atas pilihan-pilihan hidup yang akan diambil guna kembali kepada Allah di tempat terbaik. [Wallahu a’lam bishowab]

Oleh: Atikah Mauluddiyah, S.Pd (Aktivis Mahasiswi Malang)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: