Opini

MENULIS POLITIK ADALAH SEBUAH KEINDAHAN

Politik adalah istilah yang mendapat berbagai respon dari orang yang mendengarnya. Ada yang suka, ada pula yang tak suka. Ada yang baper, ada pula yang alergi. Tapi sepertinya masih lebih banyak orang yang memandang negatif istilah ini dan mengkaitkannya dengan perebutan kekuasaan. Terkhusus di negeri tercinta, praktik perpolitikan yang dipertontonkan para penguasa dan orang-orang sekelilingnya seolah membuat masyarakat alergi dengan politik dan menganggap tabu ketika membahasnya. Belum lagi jika berbicara kelompok Islam yang anti politik. Mereka pun gencar menyerukan da’wah anti politiknya di tengah umat. 

Sejarah panjang pengaburan terhadap makna politik berlangsung sejak berabad-abad lalu, dimana praktik perpolitikan dipertontonkan dengan buruknya oleh para elit penguasa dan orang-orang sekelilingnya. Mulai dari saling sikut memperebutkan kursi kekuasaan, saling jilat demi mempertahankan kepentingan, hingga menghilangkan nyawa seseorang demi meraih ataupun mempertahankan kekuasaan. Akhirnya politik mengalami penyempitan makna menjadi hanya sebatas ranah kekuasaan, yaitu menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. 

Peta perpolitikan dunia setiap masa senantiasa berubah tergantung ideologi yang berkuasa. Penerapan politik sebenarnya pernah dipraktikkan dengan baik oleh manusia sempurna sepanjang masa, yaitu Rasulullah saw. Beliau diutus ke muka bumi bukan sebatas untuk memperbaiki akhlak, akan tetapi misi utamanya justru adalah membawa ajaran Islam yang paripurna termasuk dalam aspek politik. Beliaulah yang telah memberikan teladan terbaik bagaimana indahnya Islam menghiasi kehidupan bermasyarakat dan bernegara, dimana politik dijalankan benar-benar dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Melaksanakan aktivitas politik merupakan kemuliaan karena sejatinya politik adalah ri’ayah syu’uunil ummah, mengurusi urusan umat. 

Kata politik sendiri diambil dari hadits berikut yang dalam bahasa Arab adalah siyaasatan, berasal dari kata saasayasuususiyaasatan,

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- “Dahulu Bani Isra’il dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia akan digantikan oleh nabi (lain). Namun sungguh tidak ada nabi lagi sesudahku, dan sepeninggalku akan ada para khalifah lalu jumlah mereka akan banyak.” (Para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu apa yang engkau perintahkan untuk kami?” Beliau menjawab, “Tunaikanlah baiat kepada (khalifah) yang pertama kemudian kepada yang berikutnya, lalu penuhilah hak mereka, dan mintalah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian, karena sesungguhnya Allah akan menanyai mereka tentang apa yang mereka pimpin.” 

Indahnya praktik politik ini berhasil beliau wariskan kepada para Khulafaur rasyidin dan Khalifah setelahnya selama kurang lebih 13 abad lamanya. Meski di masa-masa akhir sudah terdapat banyak penyimpangan, akan tetapi sejarah tak dapat dipungkiri bahwa politik Islamlah yang mewarnai kehidupan saat itu. 

Telah banyak tulisan yang berhasil menggambarkan ketinggian peradaban Islam. Tulisan ini tentunya haruslah memuat khazanah peradaban Islam yang sarat dengan perpolitikan, baik dalam maupun luar negeri. Jika Alquran dipelihara langsung oleh Allah SWT melalui lisan-lisan para penghafalnya, maka sejarah peradaban Islam dipelihara oleh insan-insan mulia melalui goresan penanya. Inilah kekayaan tak ternilai yang dimiliki oleh kaum muslimin dan harus dilestarikan. Apalagi di masa sekarang, dimana pertarungan antar ideologi kapitalisme dan sosialisme komunis semakin nyata adanya. Menulis untuk peradaban nampaknya sudah harus menjadi agenda besar lagi gencar demi mencapai posisi Islam di hati para perindu penerapan Islam secara kaffah.

Lalu, bagaimana cara menuangkan khazanah perpolitikan dalam bentuk tulisan? Tentu ini perkara yang membutuhkan perhatian khusus, dengan tahapan sebagai berikut:

/Pertama/ membulatkan tekad dan komitmen untuk menulis politik. Bukankah amalan tergantung kepada niat? Maka sejak awal harus disadari betul apa tujuan kita menulis politik, karena itulah yang akan menjadi pendorong utama bagi tertuangnya isi pikiran kita dalam bentuk tulisan.

/Kedua/ menguasai ilmu terkait menulis politik. Komitmen yang kuat dan semangat yang membuncah belumlah cukup bagi kita untuk bisa menulis. Ilmu tentangnya mestilah ada. Mengikuti kelas menulis politik bisa menjadi salah satu jalan yang dipilih. 

/Ketiga/ mulai menulis politik. Tahap ini cukup menegangkan karena keberhasilan di tahap ini akan menentukan keberhasilan di tahap selanjutnya. Bismillaah. Mulailah goreskan pena, buktikan komitmen, amalkan ilmunya. Apalah artinya ilmu jika tak diamalkan, demikian sebaliknya apalah artinya amal jika tanpa ilmu.

/Keempat/ membiasakan diri menulis politik. Ungkapan lama yang mengatakan bisa karena biasa, sungguh terbukti adanya. Pisau akan senantiasa tajam jika terus diasah, demikian pula skill menulis politik, harus terus diasah agar tulisan semakin tajam dan terpercaya.

/Kelima/ mempublikasikan tulisan politik. Hal ini dilakukan sebagai bentuk pengakuan atas tulisan kita. Apalagi tulisan politik Islam mengandung unsur dakwah yang wajib hukumnya disebarkan secara luas dengan harapan banyak yang kemudian tercerahkan.

Satu hal yang istimewa, menulis politik Islam sejatinya adalah salah satu upaya meraih kebahagiaan tertinggi bagi seorang muslim, yaitu keridlaan Allah SWT. Dari berbagai goresan pena, entah goresan yang mana yang akan menjadi sebab bagi kita memperoleh jannah-Nya. Indah bukan? Jadi, masihkah anda ragu untuk menulis? [Wallaahu a’lam]

Oleh: Lely Herawati (Praktisi Pendidikan dan Aktivis Muslimah Pecinta Islam)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: