Kisah,  Nafsiyah

MENJEMPUT KEMATIAN YANG TERBAIK

Siapa yang tidak tau dengan kematian? Setiap manusia pasti pernah dihadapkan pada posisi mendekati kematian atau melihat manusia lain dijemput kematian. Manusia mengetahui tentang bagaimana kematian itu merenggut kehidupan yang fana. Namun, sedikit sekali manusia yang mengingat kematian itu disetiap langkah. Nasehat tentang kematian yang layaknya sebuah dongeng pengantar tidur lalu ketika terbangun dongeng itu terlupakan. Diwaktu lain akan teringat. Itulah manusia.

Sebuah hidangan bukankah masih terasa lezat dan nikmat? Pembaringan masih terasa hangat dan begitu menggoda. Dan dunia maya yang masih menjadi aktifitas utama dikala pandemi yang menyita banyak waktu diantara rutinitas kehidupan. Sehingga kata mati begitu jauh dari angan kala dunia masih begitu indah. Tidakkah manusia menyadari bahwa dalam setiap waktu akan ada banyak detik dimana makanan dan pembaringan tidak akan lagi dibutuhkan. Dan nama hanya sebuah identitas yang akan menjadi sebuah kenangan.

Saat manusia menyadari bahwa kehidupan dunia hanya sebuah prolog menuju ke dalam jalan cerita yang sesungguhnya. Cerita yang akan menghabiskan seluruh bekal yang selama ini dicari oleh manusia. Satu langkah akan tertempuh menjadi awal sebuah kisah perjalanan yang panjang dan abadi dengan siksaan yang tidak pernah mampu dibayangkan oleh akal manusia. Lalu kini, sudah cukupkah bekal itu hingga diri sampai pada tujuan akhir semua perjalanan? Atau kita lupa bahwa mati itu butuh bekal?

Masihkah kaum muslimin ingat dengan kematian para khalifah setelah Rasulullah wafat? Suatu hari ketika Amirul Mukminin Umar Bin Khattab ditikam, Abdullah bin Abbas datang dan mengatakan, “Ya Amirul Mukminin, engkau masuk Islam manakala orang-orang masih kufur. Engkau berjihad bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam manakala orang-orang meninggalkannya. Engkau terbunuh secara syahid tanpa ada yang menyangkal. Dan Rasulullah wafat dalam keadaan beliau ridha terhadapmu.”

Umar berkata, “Ulangi ucapanmu itu.” Lalu Ibnu Abbas pun mengulangi ucapannya, kemudian langsung ditanggapi oleh Umar, “Orang yang tertipu adalah orang yang kalian tipu. Demi Allah, seandainya aku memiliki harta yang memenuhi antara terbit dan terbenamnya matahari, niscaya aku akan memakainya untuk menebus kengerian kiamat (agar selamat darinya).” Sungguh begitulah orang-orang melihat kematian itu adalah pertanggungjawaban yang nyata sehingga dalam kehidupannya mereka senantiasa berhati-hati terhadap langkah mereka.

Ketika Utsman radhiallahu ‘anhu wafat dan syahid di tangan para pemberontak. Mereka menggeledah lemari Utsman dan menemukan sebuah kotak yang terkunci. Mereka membukanya dan menemukan secarik kertas bertuliskan, Ini adalah wasiat Utsman. Bismillahirrahmanirrahim. Utsman bin Affan bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak kecuali Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Allah membangkitkan orang-orang dari kubur mereka pada hari yang tidak ada keraguan akan terjadinya. Sesungguhnya Allah tidak menyelesihi janji. Di atasnya dia hidup, di atasnya dia mati dan di atasnya pula dia dibangkitkan, insya Allah’.

Sungguh begitulah kaum muslimin harusnya berjalan dalam kehidupan dunia. Sehingga mereka tidak akan berleha-leha dan terus bersenda gurau dalam kehidupannya. Karena kematian yang telah nyata dalam pandangan manusia. Dan bukan angan semata. Saat nafas telah sampai di kerongkongan dan kaki telah dingin. Saat itu manusia baru menyadari betapa penyesalan itu begitu besar. Atas lalainya mereka terhadap perintah Allah. Atas jauhnya mereka dari Syariaylt Allah. Atas banyaknya kezaliman yang mereka lakukan dan tidak dapat diperbaiki lagi.

Saat itu manusia akan mengerti bahwa kematian bukan hanya sebuah dongeng dalam cerita. Namun kepastian yang menghampiri setiap insan. Yang muda, kecil, dewasa, tua akan menemui mati. Yang melakukan kemasiatan atupun ketaatan pun akan menemui ajal. Kini, masihkan engkau lalai terhadap akhirat wahai saudaraku? Masihkah kita bermalas-malasan dalam mengingatkan manusia untuk ketaatan? Sesungguhnya setiap jiwa akan bertemu dengan kematian. Maka bersiap-siaplah menyongsong kematian yang terbaik dengan menyeru manusia dalam kemakrufan dan mencegah mereka dalam keburukan yaitu dakwah. [Wallahu A’lam]

Oleh : Lismawati-Mahasiswi dan Praktisi Pendidikan

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: