Opini,  Problematika Umat

MENJAGA AKAL MANUSIA DENGAN ISLAM, BERANTAS NARKOBA

Kembali model juga artis terkenal ditangkap karena narkoba. Dilansir dari detiknews, artis inisial dengan CW ditangkap polisi atas penyalahgunaan narkoba jenis sabu. Polisi kini menetapkan status Catherine Wilson sebagai tersangka.“Sudah tersangka, yang bersangkutan dijadikan tersangka dengan minimal dua alat bukti kita jadikan tersangka,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Sabtu (18/7/2020).

Mungkin kita jadi bertanya-tanya, mengapa sudah ada yang ditangkap, kok malah semakin banyak yang pakai? Alasan yang dipakai para artis ini karena jam tayang yang padat membuat mereka butuh stamina yang lebih kuat, atau pelarian dari stres dan tekanan pekerjaan. Namun, anehnya sudah banyak yang tertangkap, namun tidak menyurutkan angka pemakai narkoba di negeri ini. Padahal hukum di Indonesia melarang pemakaian narkoba dan bisa dijerat dengan hukum yang berlaku.

Jika diperhatikan, makin akutnya kejahatan narkoba, disebabkan penanganan yang salah dan penegakan hukum yang lemah serta hukuman yang tidak memberikan efek jera.

Di satu sisi penyalahgunaan narkoba dipandang sebagai kriminalitas, tapi di sisi lain seorang pengguna yang jelas-jelas menyalahgunakan narkoba justru dianggap bukan pelaku kriminal. Hanya produsen dan pengedar yang dikriminalkan.

Padahal, bukankah tidak akan ada penawaran jika tidak ada permintaan? Bukankah pengguna narkoba mengkonsumsinya atas dasar kesadaran, bukan karena paksaan? Lalu di sisi mana mereka bisa dianggap sebagai korban? Sementara peraturan tentang rehabilitasi UU Nomor 35/2009 tentang Narkotika tumpang tindih. Pasal 54 menyatakan, pecandu narkotika dan korban penyalahgunaan narkotika wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial. Sementara Pasal 127 memerintahkan, setiap penyalahguna narkotik golongan I hingga III dipidana penjara.

Hukuman yang dijatuhkan dalam kasus narkoba yang tidak memberikan efek jera makin memperparah masalah. Sejumlah terpidana narkoba justru menikmati perlakukan istimewa di dalam rutan. Sebagian lagi mendapatkan keringanan hukuman.

Dalam masalah kejahatan narkoba ini pun, tentu saja Islam sebagai aturan sempurna yang dibuat Allah SWT, memiliki solusi untuk mengentaskan kejahatan narkoba ini.

Sebagai kesadaran tertinggi seorang Muslim, tentulah menyadari bahwa kita adalah bagian dari umat yang ikut bertanggungjawab atas persoalan umat. Termasuk persoalan narkoba. Menyaksikan fakta yang mengiris hati tersebut, tentu harus ada upaya dari kita untuk memberantasnya. Tentu saja jika kita melihat realita tersebut, jelas solusinya tidak cukup dengan dilakukannya penyuluhan, pembinaan, dan upaya rehabilitasi saja, karena persoalan narkoba ini adalah problem sistemik. Kejahatan narkoba ini hanyalah salah satu masalah yang membelit bangsa ini selain carut-marutnya masalah politik, hukum, ekonomi, pendidikan, dan lain-lain. 

Pesatnya kejahatan narkoba sebenarnya buah dari sistem sekulerisme-kapitalisme dengan doktrin liberalismenya mengajarkan setiap orang harus diberi kebebasan mendapatkan kenikmatan setinggi-tingginya. Bingkai akidah sekulerisme yang meminggirkan agama menyempurnakan kerusakan itu. Tatanan kemuliaan hidup masyarakatpun makin terancam.

Dalam Islam, pelaku maksiat tidak cukup dicap sebagai pendosa di sisi Allah. Untuk mereka disediakan hukuman tertentu. Pelaku zina dijilid atau rajam, pemabuk dicambuk, pecandu narkoba ditetapkan hukuman ta’zir (penetapan oleh hakim), dan sebagainya. Hukuman semacam ini tampaknya memang kejam, namun kita perlu menengok hikmahnya.

Maraknya peredaran narkoba, Indonesia masuk dalam kategori darurat narkoba. Mengapa? 

/Pertama/ Jumlah pengguna narkoba saat ini sudah mencapai empat juta orang lebih. Angka meninggal dunia akibat narkoba tercatat 30-50 orang setiap hari.

/Kedua/ Banyaknya pelaku yang berhasil ditangkap menjadikan penjara makin penuh. Bahkan berdasarkan data, separuh dari lembaga pemasyarakatan dan rutan diisi oleh para pelaku narkoba.

Bagaimana negeri ini penduduknya merasakan kebahagiaan hidup jika banyak orang di sekitarnya rusak akalnya akibat narokoba. Apalagi semua orang sudah tahu, orang yang rusak akalnya cenderung melakukan tindak kejahatan berikutnya. Maka dari itu, Islam sangat peduli dengan nasib umat ini. Pada saat yang sama, Islam mewajibkan kaum Muslim belajar, menuntut ilmu, berpikir dan berijtihad.

Melihat fakta seperti ini apakah kita masih merasa tidak ada yang salah dengan sistem hukum kita? Afalaa tatafakkaruun? Tidakkah kalian mau berpikir? [Wallahu a’lam]

Oleh: Khoirotiz Zahro V, S.E. (Aktivis Muslimah Surabaya)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: