Opini

MENCEGAH STRES PADA ISTRI

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengumumkan dimulainya tahun ajaran baru di sekolah yaitu tanggal 13 Juli 2020. Sebagian besar wilayah berpotensi masih menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Hal ini juga bisa menambah PR atau menambah beban para orang tua khususnya para ibu. Yang sebelumnya ibu-ibu itu memang sudah banyak kewajibannya seperti membersihkan rumah, mencuci, setrika, memasak, mengurus balita dan lain lain.

Saat pandemi tugas seorang ibu juga bertambah dengan proses pendidikan atau belajar di rumah. Khususnya yang mempunyai putra-putri setingkat Paud, TK atau SD, dimana mereka masih harus didampingi. 

Alhasil semuanya mendapatkan tugas dari sekolah secara online. Apa jadinya jika jumlah HP atau laptopnya terbatas? Jika pada jam yang hampir bersamaan semua harus online? Belum lagi berbagai materi pembelajaran wajib dijelaskan orang tua. Padahal tidak semua orang tua bisa menguasai berbagai materi tersebut.

Bagi sebagian ibu yang terbiasa mendidik anaknya dirumah mungkin ini adalah hal mudah tetapi bagi sebagian yang lain ini menjadi beban berat. Karena  selama ini, mungkin orang tua tidak begitu memperhatikan. Selama ini sudah pasrah saja, anak diserahkan ke pihak sekolah, ternyata sekarang mendadak harus menjadi guru di rumah. Bisa jadi akan menimbulkan stres bagi sang ibu.

Stres merupakan salah satu pelampiasan negatif seseorang akibat tekanan psikis yang berat. Gejala-gejalanya mencakup mental, sosial dan fisik; bisa berupa kelelahan, kemurungan, kelesuan, kehilangan atau meningkatnya nafsu makan, sakit kepala, sering menangis, sulit tidur atau malah tidur berlebihan. Perasaan was-was dan frustasi juga bisa muncul bersamaan dengan stres

Dampak pendemi memang luar biasa. Roda perekonomian tersendat, nasib rakyat kecil di ujung tanduk. Para kepala keluarga harus memutar otak agar memperoleh pendapatan akibat adanya PHK besar-besaran. Apalagi minimnya pondasi keimanan dalam diri sehingga stres dan depresi mampu mendorong seseorang untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap pasangan atau bahkan terhadap anak sendiri. 

Memang menjalani karantina wilayah dan tetap berada di rumah bagi sebagian orang akan mempererat kebersamaan dalam keluarga. Namun bagi sebagian lainnya hal itu justru memperuncing perbedaan dan meningkatkan konflik.

Selain karena terlalu sering bertemu beban kerja dan masalah ekonomi juga bisa memicu terjadinya KDRT. Ditambah dengan sudah tidak bekerja, harus di rumah, pemasukan berkurang. Semua itu bisa menjadi pemicu stres pada ibu.

Lalu bagaimanakah menjaga agar ibu tidak gampang stres? Mengingat ibu adalah pendidik utama bagi anak-anaknya. Maka peran suami sangatlah penting dalam hal ini diantaranya;

/Pertama/Ajak Komunikasi. Luangkan waktu khusus bersama istri untuk membicarakan banyak hal yang sekiranya bisa menimbulkan stress seperti soal anak-anak, keadaan keuangan, kehadiran anggota keluarga lain di rumah(nenek,kakek atau saudara ipar), keterbatasan dan kesibukan suami dan lain-lain.

/Kedua/ Hindari perkara yang akan menimbulkan masalah baru. Misalnya, untuk memenuhi kebutuhan hidup karena kesulitan ekonomi dengan berhutang riba. Berhutang memang salah satu jalan untuk mendapatkan uang dengan mudah sejenak, masalah mungkin terselesaikan namun sesudah itu akan timbul masalah baru bagaimana cara membayarnya cicilan, bunga dan dendanya.

/Ketiga/ Sesekali berikan Me Time. Beri kesempatan istri untuk beristirahat walau hanya beberapa saat. Tubuh yang terlalu lelah sangat mudah untuk mengalami stres. Sesekali berikan kebebasan kepada istri untuk melakukan sesuatu sesuai dengan yang diinginkan. Pekerjaan rumah dan anak-anak sementara bisa ditangani suami dengan mengajak orang-orang terdekat yang bisa dimintai bantuannya.

/Keempat/ Jadilah Teman Terbaik Bagi Istrimu. Teman merupakan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup, bayangkan jika banyak sekali masalah yang dihadapi tetapi tidak ada teman curhat yang dapat dipercaya. Ibarat gelas, jika diisi air terus-menerus akan tumpah meluber kemana-mana. Pastikan bahwa teman yang dipilih benar-benar yang bisa membantu bukan yang justru akan menambah masalah baru. Suami tentu saja diharapkan dapat menjadi teman (sahabat) terbaik bagi istri untuk menumpahkan segala masalahnya.

/Kelima/  Ajarkan Kepada Istri Senantiasa Bertawakal Kepada Allah SWT. Tak ada masalah yang tidak ada penyelesaian. Dengan bertakwalah kepada Allah InsyaAllah, Allah akan memberi kita jalan yang kadang diluar perkiraan. Saat ada kebutuhan sangat mendesak rasanya sudah tidak ada jalan keluar, tanpa diduga ada yang mengantarkan rezeki ke rumah untuk memenuhi kebutuhan. Kepasrahan Puncak kepada Allah perlahan akan meringankan beban dan tidak menimbulkan stres.

/Keenam/ ¬†Ajak Istri Berdoa dan Beribadah Bersama. Berdoalah selalu kepada Allah SWT. dalam menyelesaikan masalah. Sebab hanya Allah-lah yang paling mengerti apa yang terbaik untuk hambaNya. Berdoa akan menguatkan kita dalam menghadapi masalah seberat apapun. [Wallahu a’lam biash-shawab]

Oleh: Nabila Zidane (Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: