Opini

MENCARI TELADAN TAKWA DARI PENGUASA

Presiden Joko Widodo atau Jokowi memberi sambutan dalam acara ‘ Takbir Virtual Nasional dan Pesan Idhul Fitri dari Masjid Istiqlal’ pada Sabtu, 23 Mei 2020. Pesan itu disampaikan Jokowi dalam bentuk video yang diambil dari kediaman presiden di Istana Bogor, Jawa Barat. Di antara isi pesannya, ada seruan takwa, yang dijabarkan dengan melaksanakan zakat fitrah dan memperbanyak sedekah, sehingga hal tersebut akan membuat berkah, membuahkan hikmah, membuahkan rezeki, dan juga hidayah.

Sementara itu, dalam acara yang sama Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin dalam pesan Idhul Fitrinya juga mengajak memperkuat ketakwaan dengan tetap memegang aturan-aturan kesehatan, serta menegaskan janji Allah. “Kalau penduduk negeri itu beriman dan bertakwa, pasti Allah akan turunkan keberkatan dari langit dan dari bumi, artinya kesuburan, kemakmuran, keamananan, keselamatan dan dihilangkannya berbagai kesulitan,” kata Ma’ruf. ( tempo.co, 23/05/2020).

/Memaknai Takwa /
Para petinggi negeri ini telah menyerukan ketakwaan, bagaimanakah sebenarnya yang dikehendaki Allah SWT untuk mewujudkan kata yang mulia tersebut? Cukupkah hanya menjalankan kewajiban puasa Ramadhan saja kita merasa sudah bertakwa?

Menurut Khalifah  Ali bin Abi Thalib, Takwa ditandai dengan 4 hal: (1) al-khawf min al-jalîl (memiliki rasa takut kepada Allah Yang Maha Agung); (2) al-‘amalu bi at-tanzîl (mengamalkan al-Quran); (3) ar-ridhâ bi al-qalîl (ridha dengan yang halal walau sedikit); (4) al-istidât li yaum ar-rahîl ( mempersiapkan bekal untuk [menghadapi] hari penggiringan [Hari Kiamat] (Ibn Yusuf ash Shalihi asy-syami, Subul al-Huda wa ar-Rasyad, 1/421).

Mengacu makna di atas, seruan takwa haruslah dipenuhi dengan menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi segala laranganNya. Bukan hanya menjalankan sebagian hukum Allah dan mencampakkan sebagian hukum Allah lainnya. Seruan takwa juga bukan hanya bagi individu saja, namun juga secara kolektif di tingkat masyarakat dan negara bahkan dalam hubungan luar negeri. Dengan demikian takwa haruslah secara total mewujud dalam segala aspek kehidupan. Sebagaimana perintah Allah dalam Alquran.

 ” Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (TQS. Al-Baqarah: 208)

/Jaminan bagi Yang Bertakwa/
Sesungguhnya di samping perintah takwa, Allah SWT telah menjanjikan jaminan kebahagiaan bagi penduduk negeri yang beriman dan bertakwa. Sebagaimana firmanNya: ” Sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi….” (TQS. al-A’raf : 96) Betapa kita merindukan keadaan sebagaimana yang dijanjikan Allah dalam ayat tersebut.

Namun mungkinkah ketakwaan secara total bisa terwujud di negara yang menerapkan sistem demokrasi kapitalis? Sedang sistem tersebut bukanlah datang dari Allah SWT, melainkan buatan manusia. Sistem yang mengagungkan kebebasan dan cenderung berorientasi pada kemanfaatan materi. Hingga kebijakan yang dikeluarkan lebih sering berpihak kepada para pemodal kapitalis ketimbang demi kemaslahatan seluruh rakyat. Sebagian hukum-hukum Allah seperti  hudud dan jinayat pun tak bisa diterapkan di negeri ini.

/ Mewujudkan Ketakwaan Hakiki /
Sejatinya ketakwaan yang hakiki hanya bisa terwujud dalam negara yang menerapkan sistem Islam yang datang dari Allah SWT, dijalankan oleh seorang pemimpin negara yang bertakwa. Yakni  pemimpin yang amanah dan tidak mengkhianati Allah dan RasulNya. Senantiasa berpegang pada Alquran dan Sunnah.Tidak mengkriminalisasi Islam dan kaum muslim. Pemimpin yang bertakwa tak akan memusuhi orang-orang yang memperjuangkan syariah, bahkan menerapkan syariah Islam secara kâffah sebagai wujud totalitas ketakwaan kepada Allah SWT.

Nah, seiring seruan takwa pada Idhul Fitri tahun ini, semestinya petinggi negeri ini menjadi pelaku utama, teladan bagi seluruh rakyatnya dalam taubatan nasuha di tingkat negara, atas tidak diterapkannya sebagian dari syariahNya. Dan dilanjutkan dengan segera menerapkan sistem pemerintahan yang diwajibkan oleh Allah yakni sistem Islam, dan menegakkannya dalam bingkai negara (khilafah). Tunggu apa lagi? Jika pemimpin negeri ini tidak ingin Allah menambah kesempitan hidupi, dan  benar-benar  ingin keluar dari wabah serta menghendaki ketakwaan yang hakiki. [Wallahu ‘a’lam bishshawab]

Oleh: Sumiatun ( Komunitas Pena Cendekia, Jombang)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: