Hikmah,  NulisPedia,  Tema Ditentukan,  WCR

MENABUNG RINDU TETAPI BUKAN INVESTASI

Prosedur runut dengan protokol kemanan tingkat tinggi menjadikan mudik atau pulang kampung (ke kampung halaman) sebagai sesuatu hal yang mahal dan berkelas. Kita tidak akan bahas perbedaan mudik dengan pulang kampung ya, karena saya masih yakin dibalik penyusunan KBBI masih ada para ahli bahasa yang mumpuni. Ya, kala kritik  dan akal sehat telah mati semua bisa saja terjadi.

Tidak asing lagi bagi warga Indonesia bahwa jika telah Ramadan mereka akan bersip-siap untuk menyabut Syawal untuk kembali ke kampung halaman bagi perantau untuk berkumpul sanak saudara.

Kebijakan PSBB yang tengah diterapkan negara ini dan himbauan Presiden untuk tidak mudik, pulang kampung atau balik ke kampung halaman tidak salah. Karena hal ini langkah tepat untuk memutus penyebaran virus. Namun dalam pelaksanaan justru menimbulkan berbagai persoalan hingga berujung diamankan oleh polisi. Mulai dari pemudik yang curi start untuk mudik sampai pada melakukan berbagaicara untuk bisa mudik, ada yang berusaha untuk tetap mudik dengan travel liar dan ada juga yang rela bersembunyi di bawah terpal truk ekspedisi.

Itu semua hanya karena ada rindu yang begitu mendalam untuk berjumpa orangtua dan sanak saudara. Ya mungkin ini bukan satu-satunya alasan untuk mereka kembali ke kampung halaman. Ada juga perantau yang memang tidak sanggup lagi bertahan di tengah pandemi dengan krisis ekonomi dan banyaknya angka pengagguran disaat pandemi. Pulang kampung menurut mereka adalah solusi juga untuk bisa bertahan dari rasa lapar.

Pulang kampungnya mereka juga tidak bisa disalahkan sepenuhnya bisa jadi memang mereka juga tak bisa bertahan lagi di Ibu kota, bantuan juga tak sampai menyentuh seluruh masyarakat. Lagi-lagi kesiapan penguasa dipertanyakan.

Namun terkait keadaan sekarang kita tak boleh menjadi orang egois, menyesali keadaan. Tidak boleh juga mengumpat keadaan pandemi ini karena semua adalah ketetapan Sang Pencipta.

Kita pasti pernah berpikiran, “Ya Allah kok gini? Ramadan jadi gak maksimal karena corona, feelnya Ramadan tu gak berasa karena corona, gak bisa pulang kampung, gak bisa silaturahmi,  gak bisa belanja kebutuhan Ramadan bahkan mungkin nanti sampai lebaran, dan banyak hal lain yang kita pertanyakan ke Allah. Kita menganggap bahwa keadaan kita sekarang adalah keadaan buruk dariNya. Apa kita gak boleh nanya ke Allah? Yaa bolehlah karena emang kita manusia lemah mengadunya kepada Allah, tapi jangan sampai ngeluhnya kita tu karena kecewa sama Allah, karena bisa bahaya.

“…boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.(TQS. AlBaqarah: 216)

Allah yang paling tau apa yang terbaik untuk hambaNya. Belum tentu yang terjadi dengan kita hari ini tu buruk, Insha Allah pasti akan ada kebaikan.

Jangan sampai bertanya ke Allah seolah rencana Allah itu buruk. Kita bisa belajar dan menggikuti sunnah yang dilakukan malaikat saat bertanya ke Allah. Malaikat seraya berucap Subhanaka … Subhanallah, Maha Suci Allah. Rencana Allah tidak pernah salah. Salahnya adalah bagaimana kita menghadapi dan menjalani apa yang Allah tetapkan kepada kita.

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (TQS. Al Baqarah: 30)

“Mereka menjawab: “Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (TQS. Al Baqarah: 32)

Trus kita harus gimana?

Kita harus stay grateful, iya karena ini semua dari Allah. Kita masih bisa menabung rindu meski bukan investasi. Maka bersegeralah bertasbih kepada kepada Allah dengan penuh keimanan bahwa ketetapan Allah adalah yang terbaik untuk kita sebagai Abdullah.

Wallahua’lam bisshawab

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: