Opini

MAKNA MENIKAH

Menikah tak akan habis dibahas dikalangan muda, khusus nya para jomblo. Penulis sudah melakukan survey dikalangan sendiri, misalnya saja jika mendengar ada kajian tentang pernikahan itu akan jauh lebih diminati daripada kajian dengan tema politik. Pertanyaannya mengapa ini sangat asik untuk dibahas dan diperbincangkan? Ada apa dengan pernikahan?

Kebanyakan dari kita salah dalam memandang makna menikah. Masih banyak yang memandangnya dari kacamata Kapitalis-Sekuler. Pernikahan dipandang “hanya” sebagai pengobat rasa rindu ingin bermanja, ingin disayang oleh pasangan, apalagi yang jomblonya sudah lumutan. Ya, begitu sebutan para kawula muda. Memiliki persepsi dengan menikah juga dapat mengurangi beban, mengarungi masalah bersama-sama. Indah bukan? Hellooo, Hidup tak seindah kisah Cinderella. Tentu Cinderella hanya cerita dongeng semata, sedangkan hidup kita, ya ini realitanya. So please, Wake Up. 

Kembali lagi kepembahasan. So, sebenarnya ada apa dengan pernikahan?

Menikah itu adalah salah satu Sunnah Rasulullah SAW, manusia mulia, yang memberikan teladan terbaik kepada kita umatnya. Baiknya kita berpedoman padanya, Sang uswatun Hasanah. Menikah itu termasuk salah satu ibadah, sama halnya seperti sholat, shaum Ramadhan, bayar zakat, menutup aurat, berbakti kepada orang tua, dsbnya. Tentu tuntunan, aturan, dan rules secara detailnya ada. Sama halnya dengan sholat, sudah ada syarat dan ketentuan yang berlaku. Ada rukun dan syarat sahnya. Namun, sering kita memusingkan perkara di luar rukun dan syarat sahnya. Seperti nikah, mau pakai baju yang bagus, harga dan model kekinian, juga riasan yang cocok, sampai fotografer yang handal dalam menshoot acara, dan banyak lainnya. Semua ini sebenarnya tidak termasuk kepada syarat dan rukun nikah. Eits, jangan ngejudge dulu. Bukan berarti kalau pakaian yang bagus itu tidak diperlukan, fotografer handal untuk menshoot momen ini tidak penting. Bukan seperti itu.

Sangat perlu kita sadari adalah, kita sedang tidak memusingkan perkara yang penting dan diperlukan. Apakah kita sudah memikirkan dan memastikan bahwa pernikahan yang akan kita langsungkan itu sudah sesuai dengan konsep yang ditetapkan Islam? Lalu, apa kita tidak khawatir bagaimana jika pernikahan (ibadah) kita itu tidak dapat Ridho dari Allah Azza Wa Jalla? Tentu, itulah kekhawatiran kita yang utama. So, kita harus segera kembali kepada bagaimana Islam memandang makna pernikahan itu sebenarnya. Jangan sampai gara-gara hal yang tak diperlukan bisa menghilangkan keberkahan dari ibadah yang kita lakukan, astaghfirullah. Jadi, buat kita-kita yang akan menikah teruslah menambah ilmu dengan belajar Islam agar kita disibukkan dengan hal yang berkah, bukan sebaliknya. Buat yang sudah menikah, jalanilah ibadah-ibadah sesuai dengan koridor yang sudah ditentukan-Nya. [Wallahua’lam bis showab]

Oleh : Monalisa Limbong

0Shares

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: