Opini,  Tema Ditentukan,  WCR

LEBARAN: TETAP ADA RENDANG

Pandemi yang tengah kita hadapi tak menghilagkan tradisi Marandang atau memasak  rendang yang kerap dilakukan masyarakat minang dalam menyambut lebaran. Aktivitas ini tetap berlangsung walau hanya dilakukan dengan skala kecil. Karena saat pandemi kita tak akan banyak kedatangan sanak saudara.

Tak masalah ya jika tradisi yang dilestarikan tak melangggar hukum syara. Randang (rendang) masakan khas Sumatera Barat kaya akan bumbu rempah. Unsur terpenting dalam pembuatan rendang ada bawang putih, sarai (serai),  bawang merah, lengkuas, lado (cabe merah) dan karambia (kelapa). Rasa enak dan gurik berasal dari santan, bayangkan untuk 1 kg daging membutuhkan empat buah kelapa ukuran sedang untuk dijadikan santan.

Kata marandang merupakan proses memasak hingga santan menjadi kering dan berubah warna. Tak hanya dari daging sapi kita bisa saja membuat randang dari berbagai jenis bahan dasar, bisa randang itiak (itik), ayam, talua (telur) dan lain-lain. Kamu juga bisa berkreasi sesuai keinginan. Proses pembuatanya juga unik dan panjang, menggunakan tungku dengan kayu bakar yang menghabiskan waktu sekitar 5 jam untuk memperoleh hasil sempurna hingga masakan berwarna kecokelatan mendekati hitam.

Hasil akhir rendang yang nikmat sangat dipengaruhi oleh kehati-hatian dalam proses pembuatan, racikan bumbu yang bersatu dengan potongan daging diaduk dengan santan agar bumbu meresap, setelah mendidih api dikecilkan, panas yang terukur sangat penting agar daging tidak gosong. Proses yang rumit hingga memakan waktu lama hingga menciptakan cita rasa yang khas. Randang dinobatkan menjadi makanan terenak no. 1 di dunia menurut CNN beberapa tahun lalu. Bagi pejuang rasa tentu setuju menjadikan randang makanan yang enak.

Meski banyak laporan ilmiah yang mengatakan bahwa makanan bersantan sangat beresiko untuk kesehatan ditambah lagi dengan daging merah. Namun jangan khawatir karena Islam telah mengatur bagaimana kita harus makan. Sebagai seorang muslim, memilih makanan juga sangat penting karena dari makanan kita tak hanya sekedar memberi makan mulut tetapi juga pada sel. Makan juga sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan untuk melangsungkan hidup yang telah Allah tetapkan untuk makhluk hidup.

“…  makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan…” (TQS. Al- Araaf: 31)

Yup, makan sekedarnya saja jangan sampai lebaran mencadi pemicu tubuh semakin lebar. Tak akan terjadi kerusakan jika kita jadikan Islam sebagai standar dalam berbuat. Islam, agama dengan segala kesempurnaanya juga telah mengatur kita dalam setiap lini kehidupan, mulai dari urusan perut hingga urusan sistem dalam menjalankan hidup.

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: