Opini,  Tema Bebas,  WCR

LATHI CHALLENGE, POTRET GENERASI PERMISIF

Viral lagi sebuah challenge yang meramaikan jagat maya. Lathi Challenge dengan makeup karakter yang detil menjadikan challenge ini viral dikalangan pengguna sosial media. Video makeup dengan perubahan transisi dengan karakter-karakter yang berbeda dalam satu waktu. Tampilan diawali sosok perempuan dengan wajah tanpa makeup kemudian perlahan berubah dengan makeup minimalis, hingga makeup tebal lengkap dengan pakaian daerah tertentu sambil menari-nari. Bersamaan dengan itu setiap gerakan diiringi lagu perpaduan bahasa inggris dan jawa dengan instrumen tradisional Indonesia. Perubahan akan terlihat pada bagian akhir dari seseorang dengan tampilan biasa kemudian berubah menjadi bentuk yang menyeramkan.

Lathi Challenge menambah deret panjang challenge yang mencuri perhatian jagad maya. Tak luput juga diikuti kaum wanita dengan memperlihatkan solekan mereka. Bukan seorang perempuan harus menjaga dirinya? Adanya challenge ini justru membuat dirinya tak berharga. Bagaimana tidak makeup yang tebal, tarian-tarian, hingga pakaian tak menutup aurat dengan sempurna kemudian dipertontonkan ke kalayak ramai. Ini disebut hiburan dan dilabeli sebagai kreativitas dengan nilai seni. Padahal Allah telah muliakan seorang perempuan dengan segala aturan Islam yang mengikat dirinya dari fitnah dunia.

Sungguh luar biasa trend dunia ini menggerus pribadi seseorang. Potret kehidupan serba boleh tanpa adanya aturan yang jelas dalam menyikapi setiap peristiwa.

Perlu kita sadari bahwa saat ini kita berada di tengah sistem kufur yang akan menjauhkan generasi muslim dari syariat Islam. Sistem yang tak memiliki filter sehingga menumbuh suburkan gaya hidup permisif dan hedonis. Siapa saja boleh melakukan apapun demi mendapat rasa pengakuan dan kesenangan semu. Terkenal dengan cara-cara tak pantas, kebabablasan dalam bergaul, tebar pesona untuk mencari perhatian. Ini semua atas dasar hak asasi manusia.

Trend yang ada hari ini membuat generasi jauh dari identitasnya sebagai seorang generasi muslim, yang boleh melakukan aktivitas yang ia sukai meskipun akvitas tersebut sia-sia. Sebagai muslim tentu kita harus melakukan hal-hal yang akan mendatangkan rido Allah.

“…….. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S Al- Baqarah: 148)

Selain perbuatan yang sia-sia challenge ini juga menggerus izzah dan iffah seorang perempuan yang metinya ia jaga, tak hanya itu challenge ini juga menyerupai suatu bentuk buruk yang bukan berasal dari Islam.

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum maka ia termasuk dari mereka.” (HR. Abu Dawud)

Sebagai generasi muslim hendaknya kita memandang suatu perbuatan bermanfaat atau tidak kemudian diputuskan berdasarkan syara. Karena pada hakikatnya hidup seorang muslim tidak bebas tetapi terikat dengan aturan Islam agar ia tetap terjaga hingga kembali kepada Allah. [Wallahua’lam bis showab]

Oleh: Fira Faradillah

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: