Hikmah,  Kisah

KURBAN BUKTI CINTA

Rasa cinta adalah perasaan yang bisa dirasakan oleh semua orang, mulai dari bayi, anak-anak, remaja, hingga orang dewasa. Masing-masing orang mungkin memiliki pemahaman yang berbeda-beda tentang apa itu arti cinta sebenarnya. Hal ini seringkali membuat bingung dan bertanya-tanya mengenai apa itu arti cinta sebenarnya?

/Makna Cinta dalam Islam/
Dalam islam, pengertian cinta sangatlah luas. Cinta yang utama adalah kepada sang pencinta, Allah Swt. Kemudian kepada Rasul dan keluarga serta sahabat-sahabatnya. Cinta kepada Al-Quran, malaikat-malaikat Allah. Lalu cinta kepada orang tua dan manusia lainnya. Serta cinta kepada lingkungan. 

Cinta dalam ajaran Islam telah dikenal sejak zaman dahulu kala, tepatnya sejak Nabi Adam as. dan Siti Hawa diciptakan. Makna cinta dalam Islam sendiri sangatlah suci. Cinta haruslah didasari oleh kasih sayang dan dibuktikan dengan perbuatan. Dan apa-apa yang kita cintai di bumi ini haruslah karena Allah Ta’ala. Sangat tidak baik, bahkan berbahaya jika kita mencintai hanya karena nawa nafsu.

/Belajar Cinta dari Nabi Ibrahim as/
Ada sosok penting lain yang tak bisa dipisahkan dari momen ibadah haji dan kurban. Dialah Nabiyullah Ibrahim as. Di dalam QS al-Shafat ayat 102, Allah Swt. mengisahkan bagaimana Ibrahim as dengan sepenuh keimanan, tanpa sedikit pun keraguan, menunaikan perintah Tuhannya: menyembelih putra tercintanya, Ismail as. Demikianlah, kedua hamba Allah yang shalih itu tersungkur dalam kepasrahan. Berpadu dengan ketaatan dan kesabaran.

Ibrahim berkata, ”Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpiku bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab, ”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS Ash Shaffat: 102)

Berkurban pada Idul Adha adalah bentuk pengagungan cinta kepada sang pencipta. Allah SWT. menguji kecintaan Nabi Ibrahim untuk menyembelih anaknya, Nabi Ismail, yang sangat dicintainya.

Cinta Ibrahim terhadap Allah SWT, dan cinta Ismail terhadap ayah dan Tuhan-Nya, menjadikan keduanya ikhlas dan patuh melaksanakan perintah itu. Meski, Allah SWT. menggantinya dengan seekor kambing.

”Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS Ash Shaffat: 107)

Kisah cinta yang amat romantis sekaligus dramatis ini selayaknya menjadi ibrah sepanjang zaman bagi umat Islam. Sebab bukankah Allah SWT, pun telah berfirman:

“Sekali-kali kalian tidak akan sampai pada kebajikan sebelum kalian menginfakkan harta (di jalan Allah) yang paling kalian cintai.” (QS Ali Imran: 92)

Nabiyullah Ibrahim as. telah membuktikan hal itu. Bukan hanya harta, bahkan nyawa putra semata wayangnya, yang kepada dia tertumpah segenap cinta dan kasih sayangnya beliau persembahkan dengan penuh keyakinan kepada Allah Swt. Tuhannya yang lebih ia cintai dari apapun.

Karena itu, pada momen penting ibadah haji dan kurban tahun ini, selayaknya kita bisa mengambil ibrah dari keteladanan Nabiyullah Ibrahim as dari besarnya cinta, ketaatan dan pengorbanannya kepada Allah Swt. Cinta, ketaatan dan pengorbanan Ibrahim kepada Allah Swt. ini kemudian diteruskan secara sempurna. bahkan dengan kadar yang istimewa, oleh Baginda Rasulullah Saw.

Bukan hanya cinta dan taat. Bahkan beliau pun siap mengorbankan segalanya, termasuk nyawa sekalipun, demi tegaknya agama Allah SWT ini.

Cinta sejati diwujudkan dengan kerelaan berkurban. Berkurban karena rasa cinta kepada-Nya. Wujud cinta kepada Allah S SWT adalah kerelaan hidup dengan kesalehan. Dalam konteks Islam, seluruh hidup adalah ibadah.

Cinta dan ketaatan kepada Allah SWT tidak saja diwujudkan dalam bentuk ibadah mahdhah, tetapi harus terealisasi dalam tindakan nyata, utuh, dan cinta terhadap sesama manusia.

Inilah sesungguhnya esensi ibadah haji dan kurban. Kita diajari tentang cinta, ketaatan dan kepatuhan total kepada Allah SWT. Kita pun diajari tentang keharusan untuk berkurban (mengorbankan apa saja yang ada pada diri kita) semata-mata demi kemuliaan Islam dan kaum Muslim.

Karena itu dengan meneladani cinta, ketaatan dan pengorbanan Nabiyullah Ibrahim as. dan Baginda Rasulullah saw, mari kita songsong kembali masa depan cerah peradaban umat manusia di bawah naungan Islam. Tentu saat kita hidup dalam naungan sistem Islam yang paripurna, di bawah ridha Allah SWT.

Oleh: Nabila Zidane (Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: