NulisPedia,  Opini,  Tema Bebas,  WCR

KUE CUCUR ANGET-ANGET, DIPHK SAAT CORONA TU ANCUR BANGET

Polemik yang timbul selama wabah corona menyerang dunia belum juga usai, keberadaan wabah ini mempengaruhi segala aspek. Belum lama ini dunia tengah memperingati Hari Buruh Internasional atau Mayday. Justru yang menjadi perhatian adalah nasib buruh ditengah pandemi yang menimbulkan krisis ekonomi sehingga mereka dibayang-bayangi pemutusan hubungan kerja. Kebijakan physical distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang diambil penguasa membuat banyak orang kehilangan penghasilan. Ada sekitar 2,8 juta orang pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) dan dirumahkan akibat corona berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan pada 13 April (CNN Indonesia, Jum’at 1/5/2020). Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per Agustus 2019, pengangguran terbuka mencapai 7,05 juta orang. Ditambah dengan angka penganggguran karena corona, maka jumlahnya mencapai sekitar 10-12 juta orang.

Kue cucur anget-anget, diphk saat corona tu ancur banget. Hancur betul kehidupan para buruh, sudahlah corona mengancam diphk pula. Bertahanpun mereka dari corona tetapi tak mampu bertahan dengan himpitan krisis ekonomi yang dirasakan. Ibarat sudah jatuh lalu tertimpa tangga, sungguh sangat memilukan. Setiap tahun selalu memperingati hari buruh tak kemudian membuat kehidupan para buruh membaik tapi justru mereka terus saja turun ke jalan mencari keadilan. Ini bukti bahwa mereka tidak pernah sejahtera dengan segala kebijakan yang ada.

Apakah pemerintah tinggal diam? Tentu saja tidak, sudah kewajiban mereka untuk segera mencari kan solusi. Menurut CNNIndonesia, 1/2/2020, berbagai upaya akan dilakukan pemerintah,  menolong pelaku usaha dengan mengeluarkan sejumlah stimulus kebijakan. Seperti, pembayaran PPh Pasal 22 dan Pasal 25 untuk sektor manufaktur selama enam bulan yang ditunda dan beberapa bantuan menunjang kehidupan rakyat di tengah kebijakan PSBB. Namun apakah itu dirasakan oleh semua rakyat? Jika berada dalam alam mimpi kita semua bisa merasakanya dengan nyaman tanpa motif.  Karena bisa jadi bantuan akan tersendat dan terlambat karena sablon tas jinjing bantuan sembako RI 1 belum kelar.

Tidak semua masyarakat dapat merasakan nikmat bantuan itu, terlebih para buruh yang tak hanya dibayangi PHK mereka justru juga terancam dengan berbagai kebijakan kejam termasuk Omnibus Law (RUU Ciptaker). Bukan hanya rakyat yang bebal tidak mau tetap di rumah, dimanapun mereka berada hidup mereka selalu dalam ancaman yang tak berkesudahan. Kelakuan penguasa membuat kebijakan lagi-lagi harus membuat mereka turun ke jalan di tengah pandemi untuk menemukan keadilan, sudah pasti kebijakan physical distancing dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) semakin tidak akan efektif.

Hari ini, esok dan seterusnya, jika tidak disudahi para buruh akan terus dieksploitasi oleh para kapitalis dengan berbagai revisi kebijakan pesanan. Harus kita sadari bahwa posisi “buruh” pada dasarnya ditriggered dari penerapan sistem kapitalis, karena adanya kebebasan dalam kepemilikan, bekerja dan biaya hidup terendah adalah standar untuk menentukan gaji dan harganya sebagai buruh.

Simbiosis mutualisme sempurna antara kapitalis dengan demokrasi, kapitalis yang terus mengucurkankan dana untuk biaya demokrasi yang selangit sementara demokrasi akan dengan sigap persiapkan peraturan dan kebijakan yang diperlukan oleh kapitalis untuk menjarah negeri ini tanpa ampun.

Permasalahan tentu biasa saja terjadi, namun peran negara sebagai penopang setiap permasalahan tentu tidak akan pernah terjadi dalam sistem ini karena bukan itu dasarnya berdiri. Situasi saat ini adalah gambaran betapa rapuhnya sistem kapitalis dalam menopang perekonomian, sudah saatnya menjalan satu sistem yang berasal dari sang Pencipta. Sistem yang kokoh kuat dan mengakar.

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: