NulisPedia

KONTES NULIS, KOMITMEN TERUS NULIS ALA VALENTINA RUTSRI

Siapa yang tidak mengenalnya? Rut Sri Wahyuningsih yang mendapat gelar kehormatan Valentina Rutsri karena kecepatan dan konsistensinya dalam menulis menyamai Sang Juara MotoGP dunia, Valentino Rossi. Bu Rut sebagai pemateri ke empat CRE4NATION mendapat giliran mengisi sharing di minggu ke-5.

Acara dibuka tepat pukul 19.30 WIB. Lebih dari 60 peserta menghadiri sharing virtual yang diprakarsai komunitas fenomenal, Creator Nulis di bawah bimbingan Hanif Kristianto. Tanpa babibu, acara dimulai dengan dengan perkenalan. Bu Rut memperkenalkan dirinya diselingi sisipan-sisipan penjelasan yang sangat berbobot dan penuh makna.

“Komitmen adalah nyawa penulis,” ungkap beliau di sela-sela perkenalan diri tersebut. Bu Rut memiliki komitmen menulis sehari 3 hingga 4 tulisan.

“Menulis itu menjadikan saya lebih mudah menyampaikan Islam. Saya berIslam usia 29 tahun. Akhirnya membuat saya belajar dan langsung praktek,” ujarnya.

Rut Sri juga menyampaikan bahwa Allah memberikan ia jalan. Ia memiliki keinginan ketika meninggal akan dikenal sebagai penulis.

Ketika mengenalkan akun-akun sosial media miliknya, Bu Rut menyampaikan bahwa seseorang yang berkomitmen menulis harus rajin main di Twitter. “Follow tokoh sekuler dan nasional sebagai tambahan tsaqofah kita,” katanya.

Selain itu, ia pun mengungkapkan menulis harus ada tantangan agar terus bertarget. Tulisan beliau pernah direspon oleh sesama penulis di Kompasiana dan berhari-hari berdiskusi mengenai tulisannya. “Dan saya pun sempat diblokir Kompasiana. Hampir sekitar 6 bulan. Baru setelah bulan Juni atau Agustus baru bisa dibuka.”

“Komitmen menulis adalah kunci untuk menyampaikan kebenaran,” tekan Rut Sri.

Selain itu, pesan beliau, “Kalau buat tulisan jangan langsung dikirim tetapi dibaca dulu. Dibaca dengan keras agar tahu jika tulisan itu enak didengar maka enak dibaca.”

Masya Allah, baru perkenalan saja sudah banyak tips dan trik berbobot dibagikan beliau. Masuk ke sesi materi Komitmen Terus Nulis.

/Pertama/, niat lillahi ta’ala. “Setelah kita meninggal mau dikenal sebagai apa?” tanya Bu Rut. Maka, tuliskan dan temple jawaban di tempat yang mudah terlihat. Hal ini terlihat sepele namun sangat berpengaruh.

/Kedua/, kuatkan komitmen dengan menulis di jam yang sama dan pasang target setiap hari mau menulis berapa. Terutama untuk penulis pemula. “Biasanya jika saya dapat ide, langsung tulis di hp. Jika ada waktu, segera saya eksekusi. Tapi jika ada amanah lain, jadi fosil di Ms. Word hp. Ini jangan dibuang, ini buah pemikiran. Ini kuncinya, tambahkan saja dengan data kekinian. Jika tulisan kita sudah tidak diterima di mana-mana masukkan ke blog atau media sosial kita. Jika ingin komitmen menulis. Maka wajib membuat target seminggu berapa tulisan,” jelas Rut Sri panjang lebar.

/Ketiga/, kirim ke media minimal media sendiri. “Untuk mengukur seberapa paham kita.  Hilangkan rasa tidak PD. Sejelek apapun tulisan kita. Kita menulis agar orang tahu Islam indah dan Islam adalah solusi.”

/Keempat/, buka blog pribadi atau platform umum  seperti Kompasiana, dll sebagai challenge. Selain ikut challenge dari komunitas menulis dari komunitas menulis dan lain-lain.

/Kelima/, ikut komunitas menulis. “Menulis itu seperti iman, kadang naik kadang turun sehingga butuh komunitas,” ungkap beliau. Tulisan kadang tidak sesuai PUEBI dan tanpa ruh. Dengan mengikuti komunitas menulis kedua masalah tersebut dapat disolusikan.

/Keenam/, ikut even menulis atau challenge.

/Ketujuh/, jangan pelit ilmu, tapi berbagilah. “Kadang kita merasa ilmu kita kurang. Namun, sesedikit apapun ilmu atau pengalaman, jangan pelit berbagi. Dengan berbagi memacu untuk belajar dan terus menulis,” terang Bu Rut.

/Kedelapan/, ingat point awal. Jika malas, maka berhentilah. Kemudian mulai kembali. Ingat komitmen diawal. Karena menulis bukan bakat tetapi buah perjuangan.

Terakhir, Bu Rut memperlihatkan pengalaman challenge beliau yang sangat mengesankan mulai dari ODOP Revowriter, 30 hari menulis bersama WCWH, 30 hari menulis bersama KLIP (Komunitas Literasi Ibu Peduli), tantangan 7 hari menulis dengan YDSF, 30 Hari menulis bersama Stiletto Indie Book, Kelas Habits CN 6, 7, 9, 10, 11. “Kelas Habits 8 saya terlambat daftar, dan kuncinya sudah dibuang ustaz Hanif,” guyon beliau.

Acara pun dilanjutkan dengan sesi diskusi yang cukup panjang. Hingga berakhir melewati waktu kesepakatan. Sebuah kalimat yanga sangat menggugah pun disampaikan oleh Bu Rut, “Saya bisa seperti sekarang juga mengawali dari bawah. Karena sudah habits maka bisa seperti sekarang.” Salam Wani Nulis. [Reporter Djumriah Lina Johan, melaporkan dari TKP]

Oleh: DLJ

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: