Opini,  Tema Bebas,  WCR

KONSEKUENSI KEIMANAN

Berada dalam arus sekulerisme, hedonisme, materialistic, penuh manipulatif tak ayal menjadi tekanan dan gesekan yang kuat. Saat itu juga keimanan diuji. Namun dalam menjaga konsistensi berpegang dalam ketaatan dan menjaga identitas sebagai seorang muslim adalah sebuah kewajiban. Keyakinan dan ketundukan akan melihat kesempurnaan Islam.

Wujud kesempurnaan ini adalah bagaimana sempurnanya Islam mengatur kehidupan. Tak hanya pengaturan manusia dengan penciptanya, Islam juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya dan sesamanya.

Sholat, puasa, zakat, haji dan lainya yang terhimpun menjadi ibadah mahdhah adalah bentuk ajaran ibadah. Perwujudan pengaturan hubungan dengan diri sendiri, semisal kejujuran, cara berpakaian dan lainya. Begitu juga implementasi pengaturan Islam dalam mengatur hubungan sesama manusia (muamalah), berupa aturan dalam pemerintahan, ekonomi, politik, pendidikan, ‘uqubat, dan sosial.

 “Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan RasulNya, pada Kitab  yang diturunkan Allah kepada RasulNya dan Kitab yang diturunkan sebelumnya. Siapa saja yang mengingkari Allah, malaikatNya kitab-kitabNya, rasul-rasulNya dan Hari Akhir maka ia telah sesat sejauh-jauhnya.” (TQS Annisa’: 136)

Saat mengimani Allah sebagai pencipta maka saat itu juga keyakinan kepada Alquran sebagai kalamullah juga harus ada, begitu juga keyakinan kepada manusia mulia sebagai pembawa risalah Islam yaitu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Adanya penyerahan total dan secara mutlak terhadap apa saja yang turun dari sisiNya. Logisnya konsekuensi seorang muslim yang beraqidah Islam adalah menjadikan Islam sebagai dasar berfikir dan bertindak. Berfikir Islami artinya menghukumi dan menilai setiap fakta yang ada dengan standar yang bersumber dari aqidah Islam. Menjadikan syariat sebagai standar dalam menentukan halal-haram bukan berdasarkan manfaat. Semisal, akan terus mmengharamkan riba karena syariatnya riba adalah haram meski mengandung manfaat dalam pandangan manusia. Akan tetap memandang bahwa hubungan yang halal antara laki-laki dengan perempuan adalah pernikahan dan yang haram tetap perzinahan atau pacaran. Akan tetap menilai dan memandang bahwa hukum buatan manusia batil karena yang benar hanya hukum yang bersumber dari Allah SWT.

Sama halnya dengan bertindak, segala bentuk tindakan senantiasa sesuai syara. Ia hanya akan melakukan aktivitas yang diwajibkan, sunnah dan mubah, tak akan lakukan aktivitas haram.

Normalnya kehidupan seorang muslim terikat dengan hukum Allah SWT, sehingga berfikir dan bertindak sejalan dengan aqidah Islam, andaikan berbeda sungguh itu hanyalah keimanan penuh dusta. [Wallahua’lam bis showab]

Oleh: Fira Faradillah

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: