Opini

KHILAFAH, TERLALU KUAT UNTUK DITOLAK

Rasulullah mempersiapakan segala sesuatunya untuk memproklamirkan  bahwa negara Islam telah berdiri tatkala sesampainya beliau di Madinah alMunawwarah. Negara yang menjadi institusi politik ditengah institusi politik lainya di dunia. Akan menjadi peradaban di antara peradaban yang ada di dunia. Negara yang akan menjadi pelindung bagi setiap makhluk yang bernaung di bawahnya. Negara dengan dasar kokoh lagi mengkristal yaitu akidah Islam.

Sentral resmi negara adalah Masjid yang beliau bangun. Tempat ini tak hanya untuk ibadah kepada Rabb pencipta langit dan bumi namun juga untuk diskusi dalam membicarakan berbagai persoalan. Ini sepengggal kisah awal bahwa negara Islam itu pernah ada, dibawa dan didirikan oleh manusia mulia untuk menebarkan rahmat bagi seluruh alam. Sistem yang berasal dari Allah SWT, sumber segala kekuatan yang ada di muka bumi ini.

Tak sampai disitu, setelah Rasulullah wafat, estafet kekuasaan ini diteruskan oleh Khulafaur Rasyidin, kemudian dilanjutkan oleh kekhilafahan setelahnya hingga menguasai 2/3 dunia. Setelah lebih kurang 1300 tahun berkuasa kekuatan ini runtuh. Karena ketinggian, kemuliaan dan keunikan yang karismatik ia diruntuhkan pada 3 maret 1924 dengan konspirasi jahat dan licik.

Sejak keruntuhanya, maka perjuangan untuk menegakkanya terus dilakukan meski menuai rintangan dari penjajah dan pembencinya. Namun tak semudah itu, meski yang mereka mampu hanyalah menghalangi bukan menghentikan. Meski opini menebar dengan berbagai respon publik, baik yang menerima, mendiskusikankan secara ilmiah, menolak, menghalangi, mengacuhkan dan jangan lupa begitu banyak lisan dan jiwa yang memperjuangkanya. Waktu, iya. Hanya waktu yang akan menjawab manakah respon terbaik dari fakta ini.

“… Kemudian akan ada Khilafah yang menempuh jejak Kenabian (Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah). Kemudian beliau (Rasul) diam.” (Musnad Ahmad, Juz IV, hlm, 273, nomor hadits 18.430. Hadits ini dinilai hasan oleh Nashiruddin Al Albani, Silsilah Al Ahadits Al Shahihah, 1/8; dinilai hasan pula oleh Syaikh Syu’aib Al Arna’uth, dalam Musnad Ahmad bi Hukm Al Arna’uth, Juz 4 no hadits 18.430; dan dinilai shahih oleh Al Hafizh Al ‘Iraqi dalam Mahajjah Al Qurab fi Mahabbah Al ‘Arab, 2/17).

Hadis ini cukup sebagai kabar gembira bagi kaum muslim yang di dalam dadanya ada cahaya mabda Islam, yang jiwanya terinstal akidah Islam.

Kebaikan akan terhimpun darinya, keberkahan akan turun dari langit dan bumi. Bersebab dengan adanya khilafah akidah terjaga, iman sempurna dengan diterapkanya aturan Islam secara kaffah.

Hari ini bagian Islam mana yang tengah dimuliakan? Kaum muslimah dilecehkan, muslim penjuru dunia disiksa, penindasan tak kunjung henti, ulama dihinakan, kemaksiatan merajalela, muslim tak lagi mendapat predikat umat terbaik. Hilangnya khilafah akan menghilangkan seluruh kebaikan. Memperjuangkanya adalah sebuah keharusan agar lenyap kehinaan itu sehilang-hilangnya.

Berada dalam satu perasaan, satu pemikiran dan satu aturan yang diikat akidah Islam akan menghantarkan kaum muslim seluruh dunia dengan persatuan yang hakiki.

Kekuatan khilafah yang telah teruji selama lebih kurang 1300 tahun baik dalam bidang ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, pendidikan dan sebagainya akan menjadikannya memiliki potensi besar untuk kembali tegak di tengah cacatnya sistem kapitalis-demokrasi sekuler. Wajahnya kian terkuak, kaum muslim harus menyadari satu hal, “apakah sistem cacat ini berasal dari akidah Islam?” Sampai-sampai kita menyerahkan total persoalan hidup diatur denganya. Sudah saatnya kita kembali kepada fitrah. Merindukan aturan kokoh dari pencipta. Meski sempat menjadi asing namun kini Khilafah menjadi buah bibir, siapa saja mulai membicarakankanya. Benar sudah bahwa skenario Allah lebih cantik, lebih cerdas. Meski banyak lisan busuk yang memojokanya namun kemuliaan yang terpancar membutikan bahwa ia berasal dari Allah. Karena Khilafah terlalu kuat untuk ditolak.

Oleh: Fira Faradillah

0Shares

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: